Friday, November 22, 2013

PHP

Tahun 5 Hari 293

"Kak, makasih ya udah dateng." katanya.
"Eh, iya." jawabku.

Ucapannya itu mengagetkanku. Saat itu, pandanganku sedang terantuk pada wajah gadis lain. Beberapa hari yang lalu, sepertinya aku salah membeli tiket. Tanpa kusadari ternyata hari ini dia perform bersama dengan adiknya dalam satu panggung.

"Kakak kok bengong?" tanyanya.
"Eh, nggak kok." jawabku sembari mengalihkan pandanganku ke wajahnya.
"Gimana tadi penampilanku." tanyanya.
"Bagus kok, lebih bagus dari sebelumnya." jawabku.
"Oh ya? Makasih ya? Aku seneng deh kalau kakak dateng ke teater, aku jadi semangat." katanya.
"Oh ya? Wah, syukurlah kalau gitu." jawabku.
"Kakak lagi kenapa sih? Kayaknya nggak seperti kemarin-kemarin." tanyanya.
"Hah? Nggak kok, hahaha. Kayaknya teater lebih rame dari kemarin-kemarin ya?" jawabku mencoba mengalihkan pembicaraan. Mataku sebenarnya tidak ingin lepas dari wajah gadis di ujung ruangan itu.
"Iya, akhir-akhir ini lebih rame. Aku seneng kalau teater rame, aku jadi semangat." katanya.
"Lebih seneng teater rame atau lebih seneng aku dateng?" tanyaku.
"Sebenernya lebih seneng kakak dateng." jawabnya sambil tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu akau akan lebih sering dateng." kataku.
"Beneran kak?" tanyanya.
"Kalau ada rejeki insyaALLAH aku dateng. Doain ya?" jawabku.
"Amiin, iya kak. Mudah-mudahan kakak rejekinya lancar." katanya.
"Amiin. Eh aku balik dulu ya. Nggak enak kalau lama-lama." kataku.
"Iya kak. Makasih ya udah dateng. Minggu depan dateng lagi liat aku perform ya?" katanya.
"InsyaALLAH. Aku balik dulu ya? Assalamu'alaikum." kataku.
"Wa'alaikumsalam." jawabnya.

Lalu aku berlalu dari hadapannya. Setelah beberapa langkah, aku membalikkan badanku. Aku melambaikan tangan tanda perpisahan pada gadis di ujung ruangan itu. Dia membalas lambaian tanganku sambil tersenyum. Gadis yang tadi berbicara denganku sepertinya bingung, kenapa saudaranya melambaikan tangan ke arahnya, dia kemudian membalasnya. Seketika dia tersadar lalu menoleh kebelakang. Tidak ada yang melambaikan tangan ke arah saudaranya. Jadi dia berkesimpulan memang kakaknya melambaikan tangan kepadanya.

Beberapa jam kemudian, muncul notifikasi di ponselku.

"Kak, kayaknya kakak lagi terkenal ya di teater?" sebuah DM muncul di aplikasi Tweetcaster-ku.
"Terkenal apanya?" tanyaku.
"Ini member pada ngomongin kakak. Malah dikira kakak pacarnya Juju. Hahaha." balasnya.
"Hah? Ebuset. Pada ngawur semua T_T" balasku.
"Emang kalau kakak nonton Juju perform, tiap abis high touch dia ngobrol sama kakak ya?" tanyanya.
"Iya, ini udah kali ketiga. Pantesan pada salah paham." balasku.
"Kok sama aku nggak :(" tanyanya.
"Lah .... kamu abis high touch nggak minta aku nunggu buat ngobrol. Lagian enakan DM-DM-an gini kan lebih private hihihi." balasku.
"Aku kan juga pengen ngobrol langsung sama kakak :(" balasnya.
"Bulan depan ada handshake lagi kan? Aku udah beli tiketnya buat handshake sama kamu 2 menit loh." balasku.
"Serius? Asyiik. Aku tunggu loh ya?" balasnya.
"Kok jadi kamu yang seneng sih, harusnya kan aku yang seneng." balasku.
"Abis kakak ketemunya sama Juju terus :(" balasnya.
"Kamu jealous ya?" tanyaku.
"Nggak kok weee." balasnya.
"Boong, pasti jealous #nuduh." balasku.
"Iya aku jealous, tapi ..." balasnya.
"Tapi apa?" tanyaku.
"Tapi boong, weee." balasnya.
"T_T #dikerjain #sesenggukandipojokanfx #korek2lantai" balasku.
"Hahaha kakak lucu deh." balasnya.
"Eh udah larut malem nih, tidur ya? Besok bangun pagi loh." balasku.
"Kan ada kakak yang bangunin via mention :D" balasnya.
"Emang tau klo itu mention dari aku? Ringtonenya beda ya?" tanyaku.
"Nggak sama aja, tapi hatiku tau kalau itu dari kakak." balasnya.
"Pasti bentar lagi balesannya isinya PHP lagi deh kayak tadi T_T" balasku.
"Hahaha. Ya udah, aku tidur dulu ya kak. Met bobo. Oyasunao." balasnya.
"Yup, met bobo ya. Oyasunao. Assalamu'alaikum." balasku.
"Wa'alaikumsalam :)" balasnya.

Sebenarnya aku berharap dia memang cemburu saat itu, tapi itu jelas tidak mungkin. Karena itu aku tidak mau berharap terlalu banyak. Sedari awal aku memang hanya bertekad mendukungnya. Entah bila ALLAH menghendaki lain dengan mengabulkan doaku.

bersambung ....

Wednesday, November 20, 2013

Restu

Tahun 0 Hari 0

"Laopo koen nang Jakarta (Ngapain kamu ke Jakarta)?" tanya seseorang diseberang telepon sana.
"Aku dijak koncoku (Diajak temanku)." jawabku.
"Koq yo nggak moleh disek to, Nang (Koq ya nggak pulang dulu, Nang)." tanyanya.

Ya, di keluargaku, panggilan untuk anak laki-laki yang di keluarga jawa biasanya dipanggil le atau thole, di keluargaku dipanggil dengan nang. Entah darimana asal-muasal panggilan ini.

"Lha, laopo aku moleh. Papa yo wes gak gelem ketemu aku. Lha petang taun ndek Lowokwaru mosok tau nyambangi (Lha, ngapain aku pulang. Papa juga sudah tidak mau ketemu denganku. Empat tahun di Lowokwaru apa pernah menjenguk)?" jawabku.
"Yo paling nggak muliho disek. Aku lak yo kangen (Ya setidaknya pulanglah dulu. Aku kan kangen)." kata ibuku.
"Yo kapan-kapan aku tak moleh. Saiki tak nang Jakarta sek. Aku wes janji karo koncoku (Ya kapan-kapan nanti aku pulang. Sekarang aku ke Jakarta dulu. Aku sudah janji sama temanku)." jawabku.
"Sek-sek aku bingung. Iki lak sek petang taun. Kok awakmu wes bebas (Sebentar aku bingung. Ini kan masih empat tahun. Kok kamu sudah bebas)?" tanya ibuku.
"Aku ngajukno PK nang MA. Wes dikabulno, direwangi Pak Sapta. Malah si Didit mbelan-mbelani ngurus nang MA ndek Jakarta (Aku mengajukan PK ke MA. Sudah dikabulkan, dibantu Pak Sapta. Malah si Didit bela-belain membantu mengurus ke MA di Jakarta)." jawabku.
"Loh aku kok gak eroh (Loh aku tidak tahu)." tanya ibuku.
"Mama kan terakhir nyambangi pas bandingku ditolak ndek PT. Bar ngono mama gak tau nyambangi aku meneh (Mama kan terakhi rmenjengukku waktu bandingku ditolak di PT. Setelah itu mama tidak pernah menjengukku lagi)." jawabku.
"Lha yok opo, gak diolehi papamu. Padahal yo wes nyoba nyingit-nyingit tapi yo koyoke aku gak iso nang Malang (Lha bagaimana, tidak dibolehin papamu. Padahal ya sudah coba sembunyi-sembunyi tapi ya sepertinya aku tidak bisa ke Malang)." jawab ibuku.
"Yo wes gak popo, aku njaluk dungane ae ben ndek Jakarta aku apik-apik ae. Aku yo ate golek kerjo ndek Jakarta, si Didit wes janji ate ngerewangi (Ya sudah tidak apa-apa, aku minta doanya saja biar di Jakarta aku baik-baik saja. Aku juga mau mencari kerja di Jakarta, si Didit sudah janji mau membantu)." kataku.
"Awakmu wes manteb tenan tah (Kamu benar-benar sudah mantap ke Jakarta)?" tanyanya.
"InsyaALLAH, makane aku njaluk dungane ae yo, Ma (InsyaALLAH, makanya aku minta doanya saja ya, Ma)?" kataku.
"Yo wes nek wes manteb. Tak dungakno koen sehat-sehat, ndang oleh gawean, ojok lali ngabar-ngabari mama terus (Ya sudah kalau sudah mantap. Aku doakan kamu selalu sehat, lekas dapat pekerjaan, jangan lupa terus ngasih mama kabar)." katanya.
"Amiin, insyaALLAH aku menehi kabar mene nek ndek Jakarta. Salam gawe papa yo? Pulsaku karek sitik iki (Amiin, insyaALLAH aku beri kabar besok kalau di Jakarta. Salam buat papa ya? Pulsaku sudah tinggal sedikit)." kataku.
"Iyo, seng ati-ati yo, Nang. Salam gae Didit (Iya, hati-hati ya, salam buat Didit)." katanya.
"Iyo, Ma. Mama yo sehat-sehat yo? Salam gawe papa. Assalamu'alaikum (Iya, Ma. Mama juga sehat-sehat ya? Salam buat papa. Assalamu'alaikum)." kataku.
"Wa'alaikumsalam." jawabnya.

Lalu aku akhiri pembicaraan itu.Setidaknya ibuku sudah merestuiku untuk pergi ke Jakarta. Tinggal kuserahkan sisanya pada ALLAH untuk menuntunku di Jakarta.

bersambung ....

Tuesday, November 19, 2013

Keputusan Besar

Tahun 5 Hari 261

"Assalamu'alaikum." jawab seseorang diseberang telepon sana.
"Wa'alaikumsalam. Ini Dodo, Pak." jawabku.
"Dodo?" tanya orang itu bingung.
"Dodo yang seminggu lalu naik taksi bapak terus bapak anterin ke fX." jawabku.
"Ooo, iya saya ingat. Ada apa, Mas? Mau pesen taksi?" tanyanya.
"Oh, nggak, Pak. Bapak kapan libur?" tanyaku.
"Hari ini saya libur, Mas."
"Ooo, boleh nggak saya main ke tempat konveksi bapak?" tanyaku.
"Boleh, Mas. Mau kesini kapan?" tanyanya.
"Mungkin jam sembilan pagi, bisa?" tanyaku.
"Bisa mas. Mau kesini rame-rame kayak kemarin? Apa perlu saya jemput?" tanyanya.
"Hehehe, nggak, Pak. Yang lain pada kerja, saya kesana sendiri kok. Boleh minta alamatnya?" tanyaku.

Lalu orang diseberang telepon itu memberikan detil alamatnya. Aku segera mencatatnya.

"Baik, Pak. Nanti jam sembilan saya kesana, ya?"
"Silahkan, Mas. Saya tunggu." jawabnya.
"Terima kasih, Pak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." jawabnya.

Lalu aku mengakhiri pembicaraan itu dengan memutuskan sambungan telepon itu. Aku bergegas bersiap-siap untuk menuju tempat itu. Mendekati jam dimaksud. Aku bergegas menuju ke tempat yang hendak aku tuju.

"Bu, saya berangkat dulu, ya?" kataku.
"Mau ke Roxy? Kok nggak bawa tas, tumben." tanya Ibu Pengurus Kos.
"Nggak, Bu. Saya mau ke Pondok Aren." jawabku.
"Ooo, iya, ati-ati."
"Iya, Bu. Assalamu'alaikum." 
"Wa'alaikumsalam." jawabnya.

Aku langsung mengendarai motor 100cc yang aku beli dalam keadaan bekas beberapa tahun yang lalu. Hari ini aku mencoba mengambil sebuah keputusan besar, setelah selama kurang lebih seminggu ini aku memohon diberi petunjuk oleh-Nya apakah keputusan yang aku ambil ini tepat atau tidak. Beberapa hari kemarin sepertinya ALLAH memberikan tanda bahwa keputusan yang aku ambil hari ini adalah keputusan terbaik. Maka dari itu aku bertekad melaksanakannya hari ini.

Motorku membelah jalanan Bintaro yang lengang itu. Sepertinya aku akan tiba lebih awal dari perkiraanku. Aku mencoba mencari alamat rumah orang itu. Sepertinya memang tidak mudah mencarinya. Tempatnya agak jauh dari jalanan utama. Lebih tepatnya aku tidak begitu hafal daerah tersebut sehingga aku kesulitan mencarinya. Setiba di rumah yang dimaksud. Aku segera menghentikan laju motorku.

"Tok tok tok. Assalamu'alaikum." kataku.
"Wa'alaikumsalam." suara seorang wanita menjawab salamku. Lalu pintu itu terbuka.
"Maaf, apa benar ini rumahnya Pak Sukirman?" tanyaku.
"Iya benar. Mari silahkan masuk."
"Terima kasih. Permisi, ya?" jawabku.
"Iya, silahkan."

Lalu gadis itu berjalan meninggalkanku. Tak lama berselang, Pak Sukirman muncul dari balik kelambu rumah itu.

"Wah, susah nggak Mas nyari rumahnya?" tanya Pak Sukirman.
"Lumayan, Pak. Jarang ke daerah sini, jadi mesti tanya-tanya hehehe." jawabku.
"Mau ke tempat konveksi sekarang?" tanyanya.
"Boleh, Pak. Jauh nggak?" tanyaku.
"Nggak, deket sini kok. Tinggal jalan." jawabnya.
"Kalau gitu saya titip motor ya, Pak?"
"Boleh, masukin teras aja motornya."
"Baik, Pak." Jawabku.

Lalu aku beranjak keluar dari rumah itu dan kemudian memasukkan motorku ke beranda rumah itu.

"Ji, bapak ke tempat jahit dulu, ya?" kata Pak Sukirman.
"Iya, Pak." sahut seseorang dari dalam rumah.

Lalu kami beranjak ke tempat yang dimaksud Pak Sukirman. Tempat itu berjarak kurang lebih tiga puluh meter dari tempat Pak Sukirman. Tempatnya tidak terlalu besar, lebih mirip garasi dengan luas tiga puluh-an meter. Di depannya terdapat lemari kaca yang memajang beberapa busana muslim.

"Bajunya bagus-bagus, Pak." kataku.
"Ini beberapa rancangan anak saya, Mas. Tapi yang buatan sendiri sekarang jarang di produksi, kita lebih banyak bikin dari pesenan orang." kata Pak Sukirman.
"Sebulan bisa ngerjain berapa baju, Pak."
"Sehari, dengan tenaga tujuh orang ditambah istri saya bisa membuat baju sekitar empat sampai lima stel. Tergantung pesanan juga sih, ada beberapa juga kita buat aksesorisnya aja seperti daleman jilbab, jilbab, bando dan lain-lain." katanya.
"Ooo, ini rencananya mau dikembangin kemana, Pak?" tanyaku.
"Kemarin ada franchise busana muslim yang suka sama hasil produksi kita. Tapi kita terbatas alat sama tenaga. Saya mau nambah tapi belum cukup modalnya. Selain itu, kemarin hasil rancangan anak saya itu ada beberapa orang yang minat, tapi karena banyak pesanan dari yang lain, jadi kita nggak bisa bikin dalam waktu dekat. Saya rencananya mau bagi tempat konveksi ini jadi dua bagian. Satu bagian buat ngerjain pesanan, bagian lain buat produksi rancangan anak saya. Saya sudah ada modal beberapa, tapi nanggung kalau saya masukin sekarang. Mendingan terkumpul dulu." jelas Pak Sukirman.
"Boleh lihat gambar rancangan gambarnya, Pak?" tanyaku.
"Boleh."

Lalu Pak Sukirman menunjukkan beberapa desain gambar buatan anaknya. Menurutku desainya menarik. Lalu aku foto beberapa desain yang menurutku menarik lalu aku kirimkan foto-foto tersebut kepada Maryana.

"Pak, kalau boleh, bisa saya lihat catatan keuangannya?" tanyaku.
"Buat apa, Mas?" tanyanya.
"Jadi gini, Pak. Kemarin bapak bilang rencana mau ngembangin usaha bikin pabrik konveksi busana muslim kecil-kecilan. Bapak kemarin bilangnya masih perlu sekitar tiga puluh sampai empat puluh jutaan lagi. Nah saya minat nih naruh modal di tempat bapak. Gimana?" tanyaku.
"Hah? Serius, Mas?" tanya Pak Sukirman kaget.
"Serius, Pak. Makanya kalau boleh, kalau ada catatan keuangan, saya mau lihat dulu."
"Boleh-boleh. Nanti sama istri saya saja, ya?" jawabnya.

Lalu Pak Sukirman memanggil istrinya yang juga ada di tempat itu juga. Lalu beliau menunjukkan beberapa catatan keuangan dan menjelaskannya. Catatannya memang berantakan, tapi aku bisa melihat dan menilainya dengan jelas. Lalu aku foto beberapa catatan keuangan itu ke Maryana. Tak berapa lama, Yana membalas Whatsapp-ku.

"Mas, itu rancangannya bagus. Berpotensi dijual tuh." katanya.
"Gitu, ya. Aku lihat beberapa hasil jadinya disini, menurutku menarik. Entah ya, tapi masuk ke seleraku. Tapi gak tau kalau cewek2 nilainya gimana." balasku.
"Bagus itu mas. Kalau aku sih suka. BTW, itu yang bikin siapa mas?" tanyanya.
"Anaknya kenalanku. Cewek juga sih."
"Ooo." jawabnya.
"Aku udah lihat beberapa catatan keuangannya. Baju rancangannya kayaknya bisa dijual lebih mahal lagi tuh. Kalau aku lihat dari catatan keuangannya, sepertinya emang perlu ekspansi modal." imbuhnya.
"Aku rasa juga gitu. Disini order ngalir terus, tapi modalnya terbatas. Sedangkan keuntungan usahanya sebagian besar dipakai buat biaya produksi sama prive buat pemilik. Buat tambahan modal sepertinya hanya sedikit." kataku.
"Mas Dodo jadi mau join?" tanyanya.
"Sepertinya begitu, menurutmu gimana?" tanyaku.
"Ya, gpp sih. Ntar aku bantu masarin lagi deh. Hehehe." jawabnya.
"Ok deh, makasih ya. Sorry ganggu." kataku.
"Gpp mas, baru ada kuliah ntar siangan kok :D" balasnya.

Aku kemudian kembali berpikir keras. Tetapi hatiku sudah mantab untuk menggabungkan modalku ke usaha Pak Sukirman.

"Pak, kapan saya bisa ngasih modal?" tanyaku.
"Loh, jadi, Mas?" tanyanya.
"Jadi, Pak. Tapi saya hanya bisa ngasih modal tiga puluh lima juta dulu." kataku.
"Alhamdulillah. Nggak apa-apa nih, Mas?" tanyanya.
"Nggak apa-apa, Pak. nanti saya buatin bukti hitam diatas putihnya deh." kataku.

Lalu kami membicarakan akan digunakan untuk apa saja modal yang kami gabungkan nanti, serta pembagian keuntungannya. Selain itu aku meminta Pak Sukirman agar aku bisa mendapatkan salinan catatan keuangannya untuk aku bawa pulang. Rencananya, catatan keuangan itu hendak aku bahas dengan Maryana nanti sore. Aku membutuhkan masukan dari Maryana karena dia memang kuliah di jurusan akuntansi, jadi setidaknya dia tahu-menahu tentang catatan keuangan. Beruntung, Pak Sukirman membolehkanku mendapatkan salinan catatan keuangannya.

"Mas Dodo sudah punya pacar?" tanya Pak Sukirman.
"Sudah, Pak. Kan minggu kemarin bapak yang nganterin." jawabku becanda.
"Itu sih Mas Dodo yang ngarep." katanya sambil tertawa.
"Ya ngarep kan nggak apa-apa, Pak. Siapa tau jodoh." jawabku.
"Amiin. Mudah-mudahan jodoh." katanya.

Dalam hati kecilku, aku turut mengamini doa Pak Sukirman itu. Aku juga berharap doa itu terkabul suatu saat nanti.

bersambung ....

Saturday, November 16, 2013

Aku Akan Menikah

Tahun 11 Hari aku sudah lupa ....

"Halo." jawab seseorang diujung telepon sana.
"Halo, assalamu'alaikum," jawabku "ini Dodo."
"Wa'alaikumsalam. Hai, apa kabar?" tanyanya.
"Alhamdulillah baik. Gimana kabarmu?" tanyaku.
"Baik. Minggu depan aku mau UTS. Minta doanya, ya?"
"Mudah-mudahan kamu diberi kemudahan untuk mengerjakan dan mudah-mudahan nggak nyusul kayak kemarin-kemarin, ya?" jawabku.
"Amiin." jawabnya.
"Jaga kesehatan, jangan main mulu. Udah mau UTS, makan yang teratur, minum vitamin kalau perlu." tambahku.
"Iya, makasih, ya?" jawabnya.
"Oiya, hampir lupa. Aku menelepon mau memberi kabar."
"Kabar apa itu?" tanyanya.
"Aku mau menikah." jawabku.

Mendadak percakapan kami menjadi hening. Aku sudah menduga dia pasti kaget dengan keputusanku ini.

bersambung ....

Wednesday, November 13, 2013

Kembali ke Jakarta

Tahun 0 hari 1

Matahari sudah sepenggalahan naik menjelang siang. Kereta yang aku tumpangi baru memasuki Stasiun Pasar Senen. Setelah kereta berhenti, aku bergegas keluar dari gerbong. Aku terus menyusuri peron dan mengikuti arah keluar dari stasiun. Di luar, banyak penunggu yang menjemput penumpang yang hari itu datang. Tak ada wajah yang aku kenali diantara mereka.

Aku mencari sisi lain stasiun yang sepi. Lalu aku keluarkan ponsel yang baru aku kemarin itu dari saku celanaku, dan aku telepon seseorang.

"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Koen ndek endi saiki (Kamu dimana sekarang)?" tanya orang diseberang telepon tersebut.
"Cedek pintu masuk seng cedek parkiran motor (Dekat pintu masuk yang dekat parkiran motor)." jawabku.
"Nyabrango nang arah warung-warung. Onok warung werno biru, mrono'o, tak enteni ndek kono (Menyebranglah ke arah warung-warung. Ada warung warna biru, aku tunggu disana)." katanya.
"Oyi." jawabku. Lalu aku tutup telepon itu.

Lalu aku menuju ke warung yang ditunjukkan oleh orang di seberang telepon itu. Warung berwarna biru itu ternyata warung milik Orang Malang. Itu aku kenali karena nama warung itu memuat kata Arema. Perlahan aku masuk ke warung itu. Di dalam warung itu aku melihat seseorang yang wajahnya sudah lama aku kenal.

"Dit."
"Mit." kata orang itu. Lalu dia berdiri dari tempat duduknya dan beranjak ke arahku. Awalnya kami hanya bersalaman, setelah itu dia memelukku.
"Alhamdulillah, Mit." katanya sambil memelukku.
"Tahes tah koen (Sehat kah kamu?)" tanyanya sambil melepaskan pelukannya.
"Alhamdulillah tahes." jawabku.
"Tambah kuru awakmu, malih koyok kana licek (Tambah kurus kamu, malah kelihatan seperti anak kecil)." katanya.
"Hahaha, raiku ket mbiyen yo ngene iki, koyok arek SD (Hahaha, mukaku dari dulu ya begini ini, kayak anak SD)." jawabku.
"Koen kadit idrek tah (Kamu nggak kerja)?" imbuhku.
"Gak, aku sengojo ijin gae mapak koen (Nggak, aku sengaja ijin buat menjemputmu)." jawabnya.
"Gak popo tah? Engkok diuring-uring bosmu (Nggak apa-apa? Nanti dimarahi bosmu)?" tanyaku.
"Sante ae (Santai saja)," jawabnya "Koen wes nakam, gurung (Kamu sudah makan, belum)?"
"Mangan itor tok mau ndek sepur (Makan roti saja tadi di kereta)." jawabku.
"Mangano sek ndek kene, opo golek pangan panggen liyo (Makan duku disini, atau mau makan di tempat lain)?" tanyanya.
"Ndek kene ae wes (Makan disini aja deh)" jawabku.
"Peseno opo ae wes sak karepmu, mangano seng wareg (Pesenlah sesukamu, makanlah yang kenyang)." kata Didit.
"Oyi." jawabku.

Lalu aku menuju ke tempat penjual itu duduk dan memesan sepiring gado-gado siram kesukaanku. Akhirnya aku kembali lagi ke Jakarta. Kota yang pernah sempat aku singgahi beberapa hari sebelum akhirnya aku duduk di kursi pesakitan. Suasananya terasa lebih padat, beda dengan sekitar empat tahun yang lalu. Hawa panasnya masih sama dengan empat tahun yang lalu. Sepertinya, aku akan mulai menata ulang kehidupanku disini, di ibukota negara ini.

bersambung ....

Tuesday, November 12, 2013

Aku Mencintaimu

Tahun 8 Hari 279

Aku sedang asyik mengutak-atik ponselku. Tiba-tiba ada notifikasi dari aplikasi Tweetcaster. "Oh, ada Direct Messege masuk." pikirku. Lalu kubuka pesan di Twitter itu.

"Kakak sudah punya pacar?" tanyanya.
"Belum, aku belum punya pacar." balasku.
"Ngapain nih anak tiba-tiba nanya beginian." pikirku.

Lalu aku teruskan mengutak-atik ponselku. Lebih kurang 10 menit aku mengutak-atik ponselku, aku masih menunggu balasan dari pesan sebelumnya. "Palingan tuh anak cuman iseng." pikirku. Tiba-tiba muncul notifikasi Direct Messege di ponselku. Aku buka pesan itu.

"Aku mau jadi pacar kakak." itulah pesan yang aku terima dari akun Twitter salah satu anggota idol group itu.

Seketika aku terdiam. Aku letakkan ponselku di meja yang terletak disamping sofa. Lalu aku matikan LCD berukuran 42 inci dihadapanku. Kusandarkan kepalaku pada sandaran sofa, lalu kupejamkan mataku. Aku cubit pipiku. Seketika aku terbangun karena kesakitan. Lalu aku buka kembali Direct Messege pada aplikasi Tweetcaster.

"Bukan mimpi," pikirku "lebih baik aku membalasnya."
"Kamu serius?" balasku melalui DM.
"Aku tahu, masalah seperti ini nggak seharusnya disampaikan lewat DM. Apa kakak anggep ini becanda?" balasnya.
"Aku cuma tanya, kamu serius dengan pernyataanmu barusan?" tanyaku.
"Aku serius kak." balasnya.
"Kayaknya kita perlu ketemu, tapi dimana ya?"
"Aku malam ini bisa, kalau kakak mau, aku bisa ketemuan di sekitar SCBD." jawabnya.
"Wah, kalau ke SCBD mah bunuh diri, bisa-bisa ketahuan fansmu yang lain ntar." jawabku.
"Aku nyamar deh, tapi kalau ketemu jangan kaget ya :D" balasnya.
"Hah, nyamar jadi apa?" tanyaku.
"Rahasia :D" balasnya.
"Ya udah deh, abis maghrib gimana?" tanyaku.
"Boleh, di Pizza situ mau?" tanyanya.
"Mau. OK, sampai ketemu nanti abis maghrib ya?" balasku.
"Iya kak." balasnya.

Singkatnya, sebelum maghrib, aku meninggalkan apartemenku dan berjalan menuju halte Trans Jakarta di daerah Karet. Aku lebih memilih menggunakan transportasi umum itu. Pergi membawa kendaraan di jam pulang kantor seperti ini sama saja bunuh diri. Bus Trans Jakarta yang aku naiki pun penuh sesak oleh para pekerja kantor yang kembali ke tempat tinggalnya. Bus Trans Jakarta yang aku naiki itu akhirnya berhenti di halte Polda Metro Jaya. Aku segera turun. Sudah hampir maghrib. Aku lalu bergegas menuju mal di bilangan SCBD untuk menunaikan sholat maghrib.

Setelah sholat maghrib, aku melanjutkan berjalan kaki ke tempat pertemuan yang sudah kami tentukan tadi. Mendekati tempat tersebut, aku kirimkan DM kepadanya.

"Aku udah mau sampe, kamu udah sampe?"
"Lagi jalan kesana. Tunggu ya?" balasnya.

Aku lalu berjalan memasuki restoran pizza itu.

"Selamat malam. Mau makan disini atau dibawa pulang?" sambut pelayan itu ramah.
"Makan disini." jawabku.
"Untuk 1 orang?" tanyanya.
"Untuk 2 orang." jawabku.
"Mari silahkan."

Lalu pelayan itu mengantarkanku ke salah satu tempat duduk. Setelah aku duduk, pelayanan itu menyodorkan menu. Aku hanya memesan minuman saja sembari menunggunya datang. Tak berapa lama, aku melihat seseorang berjalan ke arahku. "Mungkinkah dia?" pikirku. Postur tubuhnya memang seperti dia, tetapi orang ini berdandan maskulin dengan sepatu sneakers, kaos oblong, celana jeans dan topi. Lalu orang itu menyapaku.

"Sudah lama, Kak?" tanyanya.
"Nao?" tanyaku.
"Iya, hihihi." jawabku, lalu dia melepas topi yang dikenakannya. Seketika, rambut panjangnya terurai.
"Aku kirain siapa, aku sampai nggak ngenalin." kataku.
"Gimana penyamaranku, hebat, kan? Kakak udah lama?" tanyanya.
"Iya hebat, udah pantes jadi artis terus nyamar buat ngindarin paparazi hehehe. Aku baru sampe kok." kataku.
"Mau pesan minum?" tanyaku.
"Iya."

Lalu aku melambaikan tangan memanggil salah satu pelayanan. Setelah menyodorkan menu, gadis itu lalu memilih salah satu menu minuman. Minuman yang dipesannya berbeda dengan seleraku.

"Kakak mau makan?" tanyanya.
"Kamu mau makan?" tanyaku balik.
"Kakak mau pizza?" tanyaku.
"Boleh, yang reguler aja berdua." jawabku.
"Mau topping apa?" tanyanya.
"Apa saja asal bukan seafood." jawabku.

Dia lalu memesan pizza dengan topping yang sebenarnya aku kurang begitu suka. Disitu aku mulai menyadari, terlalu banyak perbedaan diantara kami. Tetapi terlalu dini bila aku melihat dari satu sisi ini saja. Oleh karena itu, untuk memastikan, aku sengaja mengajaknya untuk bertemu. Kami terdiam beberapa saat setelah pelayan itu meninggalkan kami.

"Kalau kamu dandan gini, aku jadi pangling." kataku membuka pembicaraan.
"Kakak juga beda, beda dengan pertama kali aku ketemu kakak."
"Aku kan harus membuat first impression yang baik kalau ketemu oshi hehehe." jawabku. Dia ikut tertawa.
"Jadi .... kamu serius mau jadi pacarku?" tanyaku menegaskan. Dia terdiam sesaat.
"Kakak kaget ya? Kakak nggak pernah nyangka aku bakal ngomong gitu?" tanyanya.
"Impian semua fans tentu pengen lebih dekat dengan oshi-nya. Dikenal sama oshi-nya, sampai oshi tahu namanya aja udah seneng. Apalagi kalau sampai jadian. Tapi sekedar kenal baik denganmu sudah membuatku senang. Makanya sedari awal aku hanya bertekad mendukungmu, baik melalui media sosial, fanlet, handshake atau datang ke pertunjukanmu. Mengharapkan aku bisa lebih denganmu itu memang pernah terlintas di pikiranku. Tapi itu cuma angan-angan buatku." jelasku.

Seketika Nao terdiam. Tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Apa kakak suka dengan orang lain?" tanyanya.
"Tidak, saat ini tidak. Kenapa?" jawabku.
"Aku takut." katanya.
"Takut kenapa?" tanyaku.
"Aku takut kalau kakak sudah punya pacar, kakak ngelupain aku." jawabnya.
"Tidak pernah sekalipun terlintas di pikiranku buat ngelupain kamu." kataku.
"Bener?" tanyanya.
"Iya, bener. Asal kamu tahu, terkadang aku menyisipkan doa untukmu disetiap akhir sholatku." jawabku.
"Masa?"
"Iya, doa agar kamu selalu dalam lindungan-Nya, kamu selalu sehat dan selalu memberikan performa yang terbaik di setiap penampilanmu. Juga agar kamu sukses meniti karir dan menggapai cita-citamu. Meski terkadang, aku menyelipkan doa kecil lain untukmu." jawabku.
"Doa apa itu?" tanyanya penasaran.
"Hanya aku dan Allah yang tahu hehehe." kataku.
"Ih, kakak jahat."
"Hahaha, jangan marah dong. Doa kecil yang aku panjatkan sejak setahun lebih yang lalu itu sekarang terjawab kok." kataku.
"Emang kakak doa apa?" tanyanya.
"Aku hanya berdoa kalau memang aku pantas menjagamu, aku hanya minta untuk menjadikan kita lebih dekat, dan kalau memang kau membutuhkanku, aku hanya minta kita disatukan." kataku.

Lalu tiba-tiba seorang pelayan datang mengantarkan minuman pesanan kami.

"Sepertinya doa kakak terjawab." jawabnya sambil meminum minuman pesanannya.
"Karenanya dalam setiap hubungan, aku tidak mau main-main. Meski tidak tahu kedepan akan seperti apa, tetapi dalam menjalani hubungan, aku selalu serius." kataku.
"Aku juga serius dengan kakak. Aku tidak main-main. Aku bukan ABG lagi yang melihat hubungan hanya sebagai kesenangan, Kak. Aku mau dalam hubungan itu berbagi suka dan duka, saling mendukung satu sama lain, mau mendengarkan keluh kesah satu sama lain, tetap mendukung pilihan yang lain meski tidak sesuai dengan pilihan kita asal yang lain senang. Itu yang aku dapat dari kakak. Itu yang aku suka dari kakak. Mengenal kakak tiga tahun ini, meski kita hanya bertemu beberapa kali dan itu hanya event resmi grupku, melihat aktifitas kakak di media sosial, serta dukungan dan segala hal yang kakak berikan kepadaku selama ini, aku tidak pernah bertemu orang seperti kakak. Makanya aku tidak mau kehilangan kakak. Karena itu aku mau lebih dekat dengan kakak. Aku mau kakak hanya untukku seorang." katanya.
"Seberarti itukah aku buatmu?" tanyaku.
"Kakak satu-satunya orang yang menganggap postingan Twitter-ku itu murni dari dalam hatiku. Bukan pesanan atau template untuk menyenangkan fans. Kakak satu-satunya yang menganggap segala yang aku lakukan itu tulus, bukan karena alasan lain. Tidak ada orang yang menganggapku lebih manusia seperti kakak dibandingkan fans lain, Kak. Termasuk teman-temanku sendiri." jawabnya.
"Kamu mau menerima aku apa adanya?" tanyaku.
"Aku suka kakak apa adanya." jawabnya.
"Termasuk kenyataan bahwa sebenarnya aku pernah mendekam di penjara selama empat tahun karena dituduh membunuh dan akhirnya aku tidak dapat lulus SMU karena kejadian itu?" kataku.

Nao menggeleng. Dia seketika terdiam. Dia tertunduk, tidak mengeluarkan sepatah katapun.

"Aku pernah dipenjara selama empat tahun. Meski akhirnya penyelidikan membuktikan aku tidak bersalah dan aku dibebaskan serta aku mendapat rehabilitasi nama baik. Tapi, tetap saja kenyataannya aku pernah duduk di kursi pesakitan." kataku.
"Aku tidak peduli masa lalu kakak. Kakak melakukan itu karena ada alasan logis, kan? Buktinya, sekarang kakak bebas dan dinyatakan tidak bersalah. Aku suka dengan kakak yang aku kenal tiga tahun ini. Terserah orang lain mau bilang apa tentang kakak, aku tetap suka sama kakak." katanya meyakinkan.
"Saat ini aku mau menjalani hubungan yang serius dengan kakak, meski kedepan, entah hubungan kita seperti apa. Tapi saat ini, aku tidak mau kehilangan kakak. Aku mau selalu dekat dengan kakak. Tiga tahun ini sudah cukup membuktikan bahwa sebenarnya aku membutuhkan kakak lebih dari siapapun...." imbuhnya.
"Aku mencintaimu Nao." tiba-tiba aku memotong perkataannya.

bersambung ....