Tahun 5 Hari 253
"Konnichiwa, Shin. (Selamat siang, Shin)" sapa gadis itu sambil melambaikan tangannya.
"Shin?" ucap Aldi penuh tanda tanya. Lalu aku berdiri dari kursi dan menghampiri gadis itu.
"Teman-teman, kenalin. Takada Minami-san." kataku
"Takada Minami desu. Yoroshiku onegaishimasu. (Nama saya Takada Minami, salam kenal dan mohon bantuannya)" kata gadis itu sambil menunduk sebagai tanda hormat.
"Yoroshiku ... (Salam kenal)" jawab Aldi, Tedy dan Trias hampir bersamaan
"Shin wa dare desu ka? (Shin itu siapa?)" tanya Aldi.
"Konohito. (Orang ini)" jawabnya sambil menunjuk ke arahku.
"Konohito no namae wa Shin nai. (Orang ini namanya bukan Shin)" jawab Aldi.
Seketika aku pun tertawa. Lalu aku menjelaskan kepada Aldi.
"Hahaha, kalian kan hanya tahu nama panggilanku Dodo, tanpa tau nama lengkapku, kan?" tanyaku.
"Emang nama lengkap Mas Dodo siapa?" tanya Tedy.
"Dmitry Sindoro." jawabku.
"Boong banget," kata Aldi "mana sini KTP-nya." pintanya.
Lalu keluarkan KTP dari dompetku. Seketika Tedy dan Trias mendekat ke Aldi. Setelah melihat KTP-ku, baru mereka percaya. Namaku memang unik. Menurut Ibuku, nama Dmitry adalah nama pemberian kakekku. Nama itu diberikan karena kakekku adalah seorang yang suka dengan hal-hal yang berbau Uni Soviet saat itu. Sedangkan nama Sindoro adalah nama dari keluarga ayahku.
Pemanggilan nama "Shin" padaku oleh Minami bukan hal yang aneh. Seperti nama Takada Minami. Takada adalah nama marga atau nama keluarga atau surname dari Minami. Sedangkan Minami adalah nama pemberian atau given name. Seperti itulah pemberian nama pada keluarga di Jepang. Posisi nama keluarga yang berada di depan ini lah yang membuat Minami menyangka bahwa Dmitry adalah nama keluargaku sedangkan Sindoro adalah nama pemberianku, sehingga dia leluasa memanggilku "Shin". Meski sudah aku jelaskan pada saat awal pertama kali kami bertemu beberapa tahun yang lalu, dia tetap memanggilku dengan panggilan itu.
"Takada-san wa ... ano ... Shin no kanojo? (Anu ... Takada-san itu pacarnya Shin?)" tanya Aldi.
"Ah ... iee ... (Ah .... bukan ....)" jawab Minami sambil mukanya merona karena pertanyaan Aldi.
"Bokutachi wa, tomodachi desu. (Kami cuma berteman)" kata Minami sambil sedikit tersenyum.
"Kawai. (Nggak usah diartiin ya)" kata Tedy dan Trias serempak ketika melihat Minami tersenyum. Muka Minami pun semakin memerah mendengar ucapan mereka.
"Jaa, ikimashou. (Jadi, ayo pergi)" kataku pada Minami.
"Hai, iku.(Ya, ayo)" jawab Minami.
"Eh, udah mau pergi, Mas?" tanya Aldi.
"Ho oh. Mau ngapain disini. Ntar kalian ganggu aja." kataku.
"Yah, kan masih mau ngobrol-ngobrol sama Takada-san." jawab Aldi.
"Gomen (Maaf), nanti kita jumpa lagi lain waktu." jawab Minami.
"Loh, bisa Bahasa Indonesia?" tanya Tedy.
"Bisa, sedikit." jawab Minami.
"Ya, nanti kapan-kapan kita janjian lagi ya, Takada-san?" tanya Aldi.
"Iya." jawab Minami sambil tersenyum.
"Gue cabut dulu ya, dah." jawabku.
"Itekimasu. (Saya pergi)" kata Minami sambil menunduk lalu melambaikan tangan ke arah ketiga temanku.
bersambung ....
Sisi lain cerita, bukan novel cinta, bukan novel tentang teknologi informasi, bukan novel tentang otaku atau vvota, bukan novel kekerasan atau fantasi.
Sunday, September 29, 2013
Friday, September 27, 2013
Satu Pesan
Tahun 5 Hari 253
"Kok diem aja, namanya siapa, Kak?" perlahan suara lembut dan sedikit dewasa itu melemaskan mulutku.
"Dodo." jawabku.
"Oh, Kak Dodo. Salam kenal." kata sambil tersenyum.
"Sumpah deh, kalau dia senyum berasa mati gue." kataku dalam hati "Ah, tengsin nih, mesti ngapain nih." pikirku "Langsung kasih hadiah aja deh."
Lalu aku mengeluarkan hadiah yang sudah kupersiapkan dari balik jaketku. Tanpa sengaja, ponselku turut keluar dari kantong jaketku dan seketika jatuh di atas meja di hadapan Nao-chan. "Ah, sial." pikirku. Ponselku jatuh pada posisi telentang dan seketika penutup depan dari bookcase ponselku terbuka. Karena aku atur ponselku otomatis layarnya menyala ketika penutup depan bookcase-nya terbuka, maka seketika menyalalah layar ponselku dan terpampang jelas wajah cantik Nao-chan yang aku pasang sebagai gambar latar layar ponselku.
"Wah, fotonya bagus." kata Nao-chan sambil tersenyum.
"Eh, anu, iya, itu ... " jawabku dengan gugup sambil mengambil ponselku dari atas meja.
"Ini aku ada hadiah buat kamu."
"Makasih." jawabnya.
"Anu ... " kataku gugup.
"Ya?" tanyanya.
"Makasih, ya untuk selama ini." jawabku.
"Makasih untuk apa, Kak?" tanyanya.
"Kamu selalu mengingatkan untuk tetap semangat. Kamu juga sering mengingatkan untuk sholat. Biarlah fans yang lain bilang kalau status Twitter itu adalah template masing-masing member. Tapi buatku, itu benar-benar kamu tulus bilang gitu." jawabku.
"Makasih." ujarnya sambil tersenyum.
"Untuk itu, sebagai rasa terima kasih, aku beri hadiah itu. Semoga suka, ya?"
"Aku pasti suka kok." jawabnya.
"Semoga hadiahnya bermanfaat untuk kamu dan karir kamu, ya?" ujarku.
"Isinya apa, sih?" tanyanya sambil menggoyang-goyangkan hadiah pemberianku.
"Nanti aja dibuka di rumah, ya. Siapa tau Juju mau ikutan lihat." kataku.
"Loh, ini buat Juju juga?" tanyanya.
"Nggak, buat kamu kok. Aduh, gimana ya. Tuh, salah ngomong kan?" jawabku sambil gugup.
"Hehehe. Iya, makasih, ya. Kakak lucu deh." jawabnya sambil tersenyum.
"Ah, biasa aja." jawabku sambil tersipu.
"Oiya, aku mau pesan satu hal." kataku.
"Yak, waktu habis." tiba-tiba penjaga booth Nao-chan berkata seperti itu.
"Dikit lagi ya, Pak." kataku.
"Banyak yang ngantri noh!" kata penjaga itu. Lalu Nao-chan menyiapkan empat buah stiker yang kemudian diberikan kepadaku dan menyalamiku.
"Ini stikernya, terima kasih ya, Kak." katanya.
"Kamu jangan ninggalin sholat, ya?" teriakku sambil meninggalkan booth itu.
"Iya." jawabnya sambil tersenyum dan melambaikan tangannya ke arahku.
Seketika, aku menjauh dari lokasi acara itu. "Dapat empat stiker. Aku tempel dimana, ya?" tanyaku dalam hati.
"Udah selesai, Mas?" tanya Aldi.
"Udah." jawabku.
"Gimana rasanya?" tanyanya.
"Nervous lah. Ah, speechless gue." jawabku.
"Hahaha. Makanya harus sering-sering ikutan acara beginian." katanya.
"Tedy sama Trias mana?" tanyaku.
"Trias masih ngantri. Tedy kayaknya dia sesi siangan deh. Gak tau deh kemana tuh anak."
"Kamu masih ada sesi lagi?" tanyaku.
"Ada, ntar siangan bareng Tedy. Si Trias kayaknya cuman sesi ini doang."
"Terus, habis ini mau kemana?"
"Nyari cemilan atau makan dulu aja, yuk? Mas Dodo mau kemana?"
"Ya kalau nggak ada acara lagi, gue mau balik. Tapi di kosan ngapain ya? Males juga." kataku.
Lalu akupun teringat sesuatu. Aku buka ponselku dan kuaktifkan aplikasi Line. Kemudian, kuketikkan sesuatu.
"Cari makan aja duluan aja, yuk? Ntar kabarin Trias sama Tedy suruh nyusul." kataku.
"Oke." jawab Aldi.
Lalu, kami berdua beranjak meninggalkan lokasi acara tersebut dan menuju ke sebuah food court di jajaran lantai atas mal itu. Aku dan Aldi memesan sebuah makanan ringan. Tak lama, Tedy menyusul ke food court tersebut, pun Trias menyusul selang beberapa lama kemudian. Sambil makan, kami membicarakan banyak hal, terutama tentang event yang baru saja kami ikuti.
"Di, ada cewek cakep. Orang jepang kayaknya. Apa orang DOT, ya?" ujar Trias.
"Mana?" tanya Aldi penasaran.
"Tuh." kata Trias sambil menunjuk. Aku dan Tedy pun kemudian menoleh ke arah perempuan itu.
"Wow, cakep euy." kata Aldi. Perempuan itu melihat ke arah kami sambil tersenyum.
"Wah sial. Ketauan kalau diliatin." kata Aldi.
"Lagian sih. Pada kompak ngeliat ke situ." kata Tedy.
Benar saja, perempuan itu menuju ke meja kami. Semua pun terkejut ....
Kecuali aku ....
bersambung ....
"Kok diem aja, namanya siapa, Kak?" perlahan suara lembut dan sedikit dewasa itu melemaskan mulutku.
"Dodo." jawabku.
"Oh, Kak Dodo. Salam kenal." kata sambil tersenyum.
"Sumpah deh, kalau dia senyum berasa mati gue." kataku dalam hati "Ah, tengsin nih, mesti ngapain nih." pikirku "Langsung kasih hadiah aja deh."
Lalu aku mengeluarkan hadiah yang sudah kupersiapkan dari balik jaketku. Tanpa sengaja, ponselku turut keluar dari kantong jaketku dan seketika jatuh di atas meja di hadapan Nao-chan. "Ah, sial." pikirku. Ponselku jatuh pada posisi telentang dan seketika penutup depan dari bookcase ponselku terbuka. Karena aku atur ponselku otomatis layarnya menyala ketika penutup depan bookcase-nya terbuka, maka seketika menyalalah layar ponselku dan terpampang jelas wajah cantik Nao-chan yang aku pasang sebagai gambar latar layar ponselku.
"Wah, fotonya bagus." kata Nao-chan sambil tersenyum.
"Eh, anu, iya, itu ... " jawabku dengan gugup sambil mengambil ponselku dari atas meja.
"Ini aku ada hadiah buat kamu."
"Makasih." jawabnya.
"Anu ... " kataku gugup.
"Ya?" tanyanya.
"Makasih, ya untuk selama ini." jawabku.
"Makasih untuk apa, Kak?" tanyanya.
"Kamu selalu mengingatkan untuk tetap semangat. Kamu juga sering mengingatkan untuk sholat. Biarlah fans yang lain bilang kalau status Twitter itu adalah template masing-masing member. Tapi buatku, itu benar-benar kamu tulus bilang gitu." jawabku.
"Makasih." ujarnya sambil tersenyum.
"Untuk itu, sebagai rasa terima kasih, aku beri hadiah itu. Semoga suka, ya?"
"Aku pasti suka kok." jawabnya.
"Semoga hadiahnya bermanfaat untuk kamu dan karir kamu, ya?" ujarku.
"Isinya apa, sih?" tanyanya sambil menggoyang-goyangkan hadiah pemberianku.
"Nanti aja dibuka di rumah, ya. Siapa tau Juju mau ikutan lihat." kataku.
"Loh, ini buat Juju juga?" tanyanya.
"Nggak, buat kamu kok. Aduh, gimana ya. Tuh, salah ngomong kan?" jawabku sambil gugup.
"Hehehe. Iya, makasih, ya. Kakak lucu deh." jawabnya sambil tersenyum.
"Ah, biasa aja." jawabku sambil tersipu.
"Oiya, aku mau pesan satu hal." kataku.
"Yak, waktu habis." tiba-tiba penjaga booth Nao-chan berkata seperti itu.
"Dikit lagi ya, Pak." kataku.
"Banyak yang ngantri noh!" kata penjaga itu. Lalu Nao-chan menyiapkan empat buah stiker yang kemudian diberikan kepadaku dan menyalamiku.
"Ini stikernya, terima kasih ya, Kak." katanya.
"Kamu jangan ninggalin sholat, ya?" teriakku sambil meninggalkan booth itu.
"Iya." jawabnya sambil tersenyum dan melambaikan tangannya ke arahku.
Seketika, aku menjauh dari lokasi acara itu. "Dapat empat stiker. Aku tempel dimana, ya?" tanyaku dalam hati.
"Udah selesai, Mas?" tanya Aldi.
"Udah." jawabku.
"Gimana rasanya?" tanyanya.
"Nervous lah. Ah, speechless gue." jawabku.
"Hahaha. Makanya harus sering-sering ikutan acara beginian." katanya.
"Tedy sama Trias mana?" tanyaku.
"Trias masih ngantri. Tedy kayaknya dia sesi siangan deh. Gak tau deh kemana tuh anak."
"Kamu masih ada sesi lagi?" tanyaku.
"Ada, ntar siangan bareng Tedy. Si Trias kayaknya cuman sesi ini doang."
"Terus, habis ini mau kemana?"
"Nyari cemilan atau makan dulu aja, yuk? Mas Dodo mau kemana?"
"Ya kalau nggak ada acara lagi, gue mau balik. Tapi di kosan ngapain ya? Males juga." kataku.
Lalu akupun teringat sesuatu. Aku buka ponselku dan kuaktifkan aplikasi Line. Kemudian, kuketikkan sesuatu.
"Cari makan aja duluan aja, yuk? Ntar kabarin Trias sama Tedy suruh nyusul." kataku.
"Oke." jawab Aldi.
Lalu, kami berdua beranjak meninggalkan lokasi acara tersebut dan menuju ke sebuah food court di jajaran lantai atas mal itu. Aku dan Aldi memesan sebuah makanan ringan. Tak lama, Tedy menyusul ke food court tersebut, pun Trias menyusul selang beberapa lama kemudian. Sambil makan, kami membicarakan banyak hal, terutama tentang event yang baru saja kami ikuti.
"Di, ada cewek cakep. Orang jepang kayaknya. Apa orang DOT, ya?" ujar Trias.
"Mana?" tanya Aldi penasaran.
"Tuh." kata Trias sambil menunjuk. Aku dan Tedy pun kemudian menoleh ke arah perempuan itu.
"Wow, cakep euy." kata Aldi. Perempuan itu melihat ke arah kami sambil tersenyum.
"Wah sial. Ketauan kalau diliatin." kata Aldi.
"Lagian sih. Pada kompak ngeliat ke situ." kata Tedy.
Benar saja, perempuan itu menuju ke meja kami. Semua pun terkejut ....
Kecuali aku ....
bersambung ....
Wednesday, September 25, 2013
First Meet
Tahun 5 Hari 253
"Boleh minta nomor hape-nya, Pak?" tanyaku.
"Buat apa, Mas?" tanyanya balik.
"Nggak, nanti sewaktu-waktu saya perlu sama Bapak kan enak, tinggal calling" jawabku.
"Nanti saya catetin deh, Mas. Kalau sudah sampai fX, ya?"
"Iya, Pak. Makasih." jawabku.
Taksi itu terus menyusuri Jalan Pakubuwono, hingga sebuah notifikasi pesan dari aplikasi Line terdengar dari ponselku. "Ah, siapa lagi yang mengontakku via Line kalau bukan dia." pikirku. Benar saja, ternyata dia yang mengirimiku pesan.
"Kamu dimana?"
"Kamu hari ini bebas?"
Pesan itu muncul di Line-ku.
"Aku di taksi. Mau ke fX. Aku pergi dengan teman sampai sore." jawabku.
"Nanti malam mau pergi dengan aku?" tanyanya.
"Nanti aku beri kabar lagi." jawabku.
"OK, aku menunggu." balasnya.
Tanpa kusadari, taksi itu sudah memasuki fX Sudirman. Segera saja aku mengeluarkan dompet dari saku belakang celanaku.
"Ini, Pak. Bawa saja kembaliannya." kataku sambil menyodorkan sejumlah uang kepada pengemudi taksi itu.
"Wah, makasih ya, Mas." jawab bapak itu dengan wajah sumringah.
"Iya, Pak. Mudah-mudahan biar cepat terlaksana bikin pabriknya." kataku.
"Amiin, makasih, Mas. Oiya, ini nomor hape saya."
Pengemudi taksi itu kemudian menyebutkan nomor ponselnya dan segera aku catat di ponselku. Kemudian aku dan teman-temanku meninggalkan taksi tersebut dan bergegas memasuki mal di bilangan Jalan Sudirman itu.
"Dibayarin nih, Mas?" tanya Aldi.
"Ya ntar gantinya di kosan aja." kataku
Lalu kami beranjak memasuki lobi mal tersebut.
"Loh, kok acaranya di lobi?" tanya Aldi terkejut.
Ternyata handshake event kali ini dilakukan di lobi mall tersebut, setelah sebelum-sebelumnya, menurut teman-temanku dilakukan di teater.
"Mati dah!" pikirku "Bakal diliatin orang-orang nih kalau tengsin."
Ya, itu adalah acara pertemuan dengan idola pertama yang aku ikuti. Gugup, itu pasti. Tetapi akan jadi tidak lucu bila bertemu idola yang aku pikir bisa sedikit privat tetapi ternyata dilihat banyak orang.
"Mas, nervous ya, Mas." tanya Trias yang melihat mukaku sedikit memucat.
"Ah, nggak kok." jawabku.
"Kok pucet gitu, Mas." timpal Tedy.
"Belum sarapan tadi pagi." jawabku.
"Apaan, orang tadi pagi beli ketoprak sama aku gitu." sahut Aldi.
Trias dan Tedy kemudian tertawa. Sebelum acara di mulai, kami memutuskan untuk berjalan-jalan mengitari mal tersebut. Akhirnya sesi ketiga acara tersebut dimulai. Aku sudah berada di antrian yang hendak handshake dengan Nao-chan.
Akhirnya Nao-chan dan idol lainnya muncul dan memasuki booth masing-masing. Ketika aku lihat, booth Nao-chan merupakan salah satu booth yang panjang antriannya. "Fans-nya banyak juga." pikirku. Sambil menanti giliran, aku lihat beberapa orang yang sudah bertemu dengan Nao-chan sebagian besar gugup. Hampir semua fans yang hendak bertemu dengan Nao-chan membawa hadiah untuknya. Aku juga sudah menyiapkan hadiah buatnya. "Mudah-mudahan dia berkenan dengan hadiahku." pikirku.
Seminggu sebelum acara itu, aku sempat bingung, apa yang harus aku jadikan hadiah untuk Nao-chan. Sebagai idol, tentu dia sudah mendapat banyak hadiah dari fans-nya. Hingga hari H-1 sebelum acara itu berlangsung, aku belum mendapatkan hadiah yang tepat untuk aku berikan kepadanya. Akhirnya, tadi malam, ketika Aldi mengajakku ke sebuah mal dekat tempat kosku, aku menemukan sesuatu yang menarik yang hendak aku berikan padanya.
"Mas, silahkan, Mas." tiba-tiba suara bapak satpam itu memanggilku.
"Oh, iya, Pak." jawabku sambil menyerahkan empat tiket kepadanya.
"Ini mau dipake semua empat-empatnya?" tanya satpam itu meyakinkan.
"Iya, Pak." jawabku. Lalu satpam itu mempersilahkanku.
Lalu aku berjalan menuju ke booth dimana Nao-chan menunggu.
"Ohayou, selamat pagi." kata wanita berzodiak gemini itu.
"Ohayou, assalamu'alaikum." jawabku.
"Wa'alaikumsalam." jawab perempuan bertinggi 154 cm itu sambil tersenyum.
"SUMPAH! SENYUMNYA CAKEP OI!" kataku dalam hati dan aku pun mulai gugup. Perlahan aku menyadari diriku membeku. Mulutku kaku, tidak dapat ku gerakkan. "Ini kah efek ketemu langsung sama idol?" pikirku.
bersambung ....
"Boleh minta nomor hape-nya, Pak?" tanyaku.
"Buat apa, Mas?" tanyanya balik.
"Nggak, nanti sewaktu-waktu saya perlu sama Bapak kan enak, tinggal calling" jawabku.
"Nanti saya catetin deh, Mas. Kalau sudah sampai fX, ya?"
"Iya, Pak. Makasih." jawabku.
Taksi itu terus menyusuri Jalan Pakubuwono, hingga sebuah notifikasi pesan dari aplikasi Line terdengar dari ponselku. "Ah, siapa lagi yang mengontakku via Line kalau bukan dia." pikirku. Benar saja, ternyata dia yang mengirimiku pesan.
"Kamu dimana?"
"Kamu hari ini bebas?"
Pesan itu muncul di Line-ku.
"Aku di taksi. Mau ke fX. Aku pergi dengan teman sampai sore." jawabku.
"Nanti malam mau pergi dengan aku?" tanyanya.
"Nanti aku beri kabar lagi." jawabku.
"OK, aku menunggu." balasnya.
Tanpa kusadari, taksi itu sudah memasuki fX Sudirman. Segera saja aku mengeluarkan dompet dari saku belakang celanaku.
"Ini, Pak. Bawa saja kembaliannya." kataku sambil menyodorkan sejumlah uang kepada pengemudi taksi itu.
"Wah, makasih ya, Mas." jawab bapak itu dengan wajah sumringah.
"Iya, Pak. Mudah-mudahan biar cepat terlaksana bikin pabriknya." kataku.
"Amiin, makasih, Mas. Oiya, ini nomor hape saya."
Pengemudi taksi itu kemudian menyebutkan nomor ponselnya dan segera aku catat di ponselku. Kemudian aku dan teman-temanku meninggalkan taksi tersebut dan bergegas memasuki mal di bilangan Jalan Sudirman itu.
"Dibayarin nih, Mas?" tanya Aldi.
"Ya ntar gantinya di kosan aja." kataku
Lalu kami beranjak memasuki lobi mal tersebut.
"Loh, kok acaranya di lobi?" tanya Aldi terkejut.
Ternyata handshake event kali ini dilakukan di lobi mall tersebut, setelah sebelum-sebelumnya, menurut teman-temanku dilakukan di teater.
"Mati dah!" pikirku "Bakal diliatin orang-orang nih kalau tengsin."
Ya, itu adalah acara pertemuan dengan idola pertama yang aku ikuti. Gugup, itu pasti. Tetapi akan jadi tidak lucu bila bertemu idola yang aku pikir bisa sedikit privat tetapi ternyata dilihat banyak orang.
"Mas, nervous ya, Mas." tanya Trias yang melihat mukaku sedikit memucat.
"Ah, nggak kok." jawabku.
"Kok pucet gitu, Mas." timpal Tedy.
"Belum sarapan tadi pagi." jawabku.
"Apaan, orang tadi pagi beli ketoprak sama aku gitu." sahut Aldi.
Trias dan Tedy kemudian tertawa. Sebelum acara di mulai, kami memutuskan untuk berjalan-jalan mengitari mal tersebut. Akhirnya sesi ketiga acara tersebut dimulai. Aku sudah berada di antrian yang hendak handshake dengan Nao-chan.
Akhirnya Nao-chan dan idol lainnya muncul dan memasuki booth masing-masing. Ketika aku lihat, booth Nao-chan merupakan salah satu booth yang panjang antriannya. "Fans-nya banyak juga." pikirku. Sambil menanti giliran, aku lihat beberapa orang yang sudah bertemu dengan Nao-chan sebagian besar gugup. Hampir semua fans yang hendak bertemu dengan Nao-chan membawa hadiah untuknya. Aku juga sudah menyiapkan hadiah buatnya. "Mudah-mudahan dia berkenan dengan hadiahku." pikirku.
Seminggu sebelum acara itu, aku sempat bingung, apa yang harus aku jadikan hadiah untuk Nao-chan. Sebagai idol, tentu dia sudah mendapat banyak hadiah dari fans-nya. Hingga hari H-1 sebelum acara itu berlangsung, aku belum mendapatkan hadiah yang tepat untuk aku berikan kepadanya. Akhirnya, tadi malam, ketika Aldi mengajakku ke sebuah mal dekat tempat kosku, aku menemukan sesuatu yang menarik yang hendak aku berikan padanya.
"Mas, silahkan, Mas." tiba-tiba suara bapak satpam itu memanggilku.
"Oh, iya, Pak." jawabku sambil menyerahkan empat tiket kepadanya.
"Ini mau dipake semua empat-empatnya?" tanya satpam itu meyakinkan.
"Iya, Pak." jawabku. Lalu satpam itu mempersilahkanku.
Lalu aku berjalan menuju ke booth dimana Nao-chan menunggu.
"Ohayou, selamat pagi." kata wanita berzodiak gemini itu.
"Ohayou, assalamu'alaikum." jawabku.
"Wa'alaikumsalam." jawab perempuan bertinggi 154 cm itu sambil tersenyum.
"SUMPAH! SENYUMNYA CAKEP OI!" kataku dalam hati dan aku pun mulai gugup. Perlahan aku menyadari diriku membeku. Mulutku kaku, tidak dapat ku gerakkan. "Ini kah efek ketemu langsung sama idol?" pikirku.
bersambung ....
Bertemu kembali
Tahun 5 Hari 21
"Shin!" tiba-tiba aku tersadar dari keasyikanku. Suara yang sudah lama tidak aku dengar itu perlahan terdengar lagi di telingaku, tentunya suara itu terdengar lebih dewasa.
"Takada-san. Ohayou (Selamat pagi)!" jawabku.
"Ohayou (Selamat pagi)! What's with Takada-san?" tanyanya balik.
"What should I call you then?" tanyaku.
"You usually called me Min-chan before." jawabnya sambil sedikit kecewa.
"Hahaha, I'm sorry. Hisashiburi da ne~ (Lama tidak berjumpa, ya)? O genki (Sehat)?" tanyaku.
"Hai, genki desu (Ya, sehat). Kimi wa (Kamu)?" tanyanya balik.
"I'm fine, arigatou." jawabku.
"Aku sedang mencoba Bahasa Indonesia." katanya tiba-tiba.
"Baiklah, lebih baik bicara Indonesia. Aku sudah lupa Bahasa Jepang. Hahaha." jawabku sambil tertawa.
"Mau jalan sekarang." tanyaku
"Iya, ayo." jawabnya.
Tak kurasa, ternyata aku masih bisa bertemu dengannya. Teringat beberapa tahun yang lalu, kejadian ini terulang kembali. Tentu dengan seting yang berbeda. Ya, Takada Minami bersamaku di Jakarta.
bersambung ....
"Shin!" tiba-tiba aku tersadar dari keasyikanku. Suara yang sudah lama tidak aku dengar itu perlahan terdengar lagi di telingaku, tentunya suara itu terdengar lebih dewasa.
"Takada-san. Ohayou (Selamat pagi)!" jawabku.
"Ohayou (Selamat pagi)! What's with Takada-san?" tanyanya balik.
"What should I call you then?" tanyaku.
"You usually called me Min-chan before." jawabnya sambil sedikit kecewa.
"Hahaha, I'm sorry. Hisashiburi da ne~ (Lama tidak berjumpa, ya)? O genki (Sehat)?" tanyaku.
"Hai, genki desu (Ya, sehat). Kimi wa (Kamu)?" tanyanya balik.
"I'm fine, arigatou." jawabku.
"Aku sedang mencoba Bahasa Indonesia." katanya tiba-tiba.
"Baiklah, lebih baik bicara Indonesia. Aku sudah lupa Bahasa Jepang. Hahaha." jawabku sambil tertawa.
"Mau jalan sekarang." tanyaku
"Iya, ayo." jawabnya.
Tak kurasa, ternyata aku masih bisa bertemu dengannya. Teringat beberapa tahun yang lalu, kejadian ini terulang kembali. Tentu dengan seting yang berbeda. Ya, Takada Minami bersamaku di Jakarta.
bersambung ....
Tuesday, September 24, 2013
Keputusan Mengejutkan
Tahun 0 Hari -1
"Dodo, dipanggil Pak Kepala di ruangannya." ujar bapak berkumis itu.
Akupun menutup kitab suci itu. Kulepas sarungku dan menggantinya dengan celana panjang. Lalu aku tinggalkan ruangan pengap yang dihuni enam orang itu, menuju sebuah ruangan yang lebih bagus dan hanya dihuni oleh satu orang terutama pada saat jam kerjanya.
"Tok tok tok." suara pintu diketuk.
"Ya, masuk." jawab seseorang dari balik pintu.
"Assalamu'alaikum, Bapak manggil saya?"
"Wa'alaikumsalam. Iya, silahkan duduk." kata bapak itu sambil mempersilahkan aku duduk.
"Saya terima surat ini kemarin, silahkan dibaca." ujar bapak itu sambil menyerahkan sepucuk amplop seukuran kertas folio.
Aku buka lipatan amplop itu. Terdapat tiga lembar kertas didalamnya. Aku mulai membaca lembar pertama. Mendekati setengah halaman pertama, tanganku bergetar. Mulutku seketika kaku, tidak dapat kugerakkan. Dadaku berdegup kencang. Aku teruskan membaca halaman pertama itu cepat. Aku teruskan ke lembar kedua dan kemudian lembar ketika. Tanpa sadar, kertas dan amplop yang aku pegang itu jatuh ke meja bapak itu.
"Mukjizat apa ini?" kataku dalam hati.
"Do? Dodo?" perlahan suara itu seperti membangunkanku dalam mimpi.
"Sudah dibaca, Do?" tanya suara itu.
Seketika akupun berdiri dari kursi "Ini beneran, Pak?" teriakku pada bapak itu.
"Iya, benar. Saya sudah baca. Saya juga tidak menyangka kalau ternyata PK-mu disetujui oleh Mahkamah Agung." kata bapak itu.
Seketika aku mundurkan badan dari kursi, lalu aku melakukan sujud syukur.
"Selamat, ya! Kesabaranmu berbuah baik, Do." ujar bapak itu.
Lalu aku berdiri dan menyalami tangan bapak itu. "Iya, Pak. Terima kasih." ucapku.
"Pak Sapta udah diberitahu kok, beliau sedang menuju kesini."
"Iya, terima kasih ya, Pak." ucapku lagi.
Beberapa menit kemudian, muncul seseorang dengan tergopoh-gopoh memasuki ruangan itu.
"Do, Dodo!" teriak orang itu. Lalu orang itu berlari ke arahku, kemudian memelukku.
"Kita menang, Do!" katanya
"Iya, Pak. Alhamdulillah. Terima kasih, Pak." ucapku
"Puji Tuhan, Do. Syukurlah, usahaku tidak sia-sia." ucap bapak itu.
Tanpa kusadari, air mataku mengalir dengan deras. Pun air mata bapak yang memelukku itu.
"Pak Sapta. Terima kasih ya, Pak. Terima kasih sudah membantu saya memperjuangkan kebebasan saya." ucapku pada bapak itu.
"Nggak, Do. Kamu memang sebenarnya nggak salah. Kamu hanya membela diri. Hakim hanya khilaf terlalu terburu-buru mengambil keputusan." katanya.
Lalu pikiranku membawaku ke masa lalu. Sekitar tiga atau empat tahun yang lalu, tindakanku atas nama solidaritas pertemanan membawaku ke kursi pesakitan.
bersambung ....
"Dodo, dipanggil Pak Kepala di ruangannya." ujar bapak berkumis itu.
Akupun menutup kitab suci itu. Kulepas sarungku dan menggantinya dengan celana panjang. Lalu aku tinggalkan ruangan pengap yang dihuni enam orang itu, menuju sebuah ruangan yang lebih bagus dan hanya dihuni oleh satu orang terutama pada saat jam kerjanya.
"Tok tok tok." suara pintu diketuk.
"Ya, masuk." jawab seseorang dari balik pintu.
"Assalamu'alaikum, Bapak manggil saya?"
"Wa'alaikumsalam. Iya, silahkan duduk." kata bapak itu sambil mempersilahkan aku duduk.
"Saya terima surat ini kemarin, silahkan dibaca." ujar bapak itu sambil menyerahkan sepucuk amplop seukuran kertas folio.
Aku buka lipatan amplop itu. Terdapat tiga lembar kertas didalamnya. Aku mulai membaca lembar pertama. Mendekati setengah halaman pertama, tanganku bergetar. Mulutku seketika kaku, tidak dapat kugerakkan. Dadaku berdegup kencang. Aku teruskan membaca halaman pertama itu cepat. Aku teruskan ke lembar kedua dan kemudian lembar ketika. Tanpa sadar, kertas dan amplop yang aku pegang itu jatuh ke meja bapak itu.
"Mukjizat apa ini?" kataku dalam hati.
"Do? Dodo?" perlahan suara itu seperti membangunkanku dalam mimpi.
"Sudah dibaca, Do?" tanya suara itu.
Seketika akupun berdiri dari kursi "Ini beneran, Pak?" teriakku pada bapak itu.
"Iya, benar. Saya sudah baca. Saya juga tidak menyangka kalau ternyata PK-mu disetujui oleh Mahkamah Agung." kata bapak itu.
Seketika aku mundurkan badan dari kursi, lalu aku melakukan sujud syukur.
"Selamat, ya! Kesabaranmu berbuah baik, Do." ujar bapak itu.
Lalu aku berdiri dan menyalami tangan bapak itu. "Iya, Pak. Terima kasih." ucapku.
"Pak Sapta udah diberitahu kok, beliau sedang menuju kesini."
"Iya, terima kasih ya, Pak." ucapku lagi.
Beberapa menit kemudian, muncul seseorang dengan tergopoh-gopoh memasuki ruangan itu.
"Do, Dodo!" teriak orang itu. Lalu orang itu berlari ke arahku, kemudian memelukku.
"Kita menang, Do!" katanya
"Iya, Pak. Alhamdulillah. Terima kasih, Pak." ucapku
"Puji Tuhan, Do. Syukurlah, usahaku tidak sia-sia." ucap bapak itu.
Tanpa kusadari, air mataku mengalir dengan deras. Pun air mata bapak yang memelukku itu.
"Pak Sapta. Terima kasih ya, Pak. Terima kasih sudah membantu saya memperjuangkan kebebasan saya." ucapku pada bapak itu.
"Nggak, Do. Kamu memang sebenarnya nggak salah. Kamu hanya membela diri. Hakim hanya khilaf terlalu terburu-buru mengambil keputusan." katanya.
Lalu pikiranku membawaku ke masa lalu. Sekitar tiga atau empat tahun yang lalu, tindakanku atas nama solidaritas pertemanan membawaku ke kursi pesakitan.
bersambung ....
Thursday, September 19, 2013
Macarin Idol!
Tahun 9 Hari 40
"Nanti selesai shooting jam berapa?" tanyaku
"Nggak tau. Nanti aku Whatsapp, ya?"
"OK." jawabku.
"Kamu mau ke pabrik?" tanya perempuan itu.
"Iya, mau ngecek yang mau dikirim ke Malaysia." jawabku.
"Kamu kapan mau ke Singapore?" tanya perempuan itu lagi.
"Minggu depan."
"Nggak sama Puji, kan?" tanyanya penasaran.
"Nggak kok, aku sendirian. Kenapa? Jangan jealous gitu dong. Dia kan cuman rekan bisnis." jawabku.
"Nggak, aku nggak jealous kok." jawabnya sambil cemberut.
"Hehehe, jangan bo'ong." tanyaku.
"Ya habis, kamu kayaknya akrab banget sama dia." jawabnya ketus.
"Namanya juga rekan bisnis. Lagi pula, aku nggak pernah nganggep dia lebih dari rekan bisnis, bahkan sejak pertama kali kami ketemu." jawabku.
"Awas ya kalau kamu macem-macem!" ancamnya.
"Hahaha, nggak mungkin lah. Lagian dia udah tunangan." jawabku.
"Hah? Masa?" tanyanya kaget "Kok aku nggak tau?"
"Hari Minggu kemarin tunangannya, aku juga nggak dateng." jawabku
"Ooo, pas kamu ke Surabaya, ya?" tanyanya.
"Iya, kamunya juga pas lagi ke Makassar." jawabku.
Perlahan, mobil dengan kapasitas mesin 3 liter itu memasuki sebuah komplek salah satu televisi swasta nasional.
"Kamu hati-hati dijalan, ya?" kata perempuan itu.
"Iya, sayang. Semoga sukses ya shooting-nya? ujarku.
"Iya." jawab perempuan itu sambil menyalami tanganku.
Lalu, perempuan itu beranjak keluar dari sedan buatan jerman itu. Setelah menutup pintunya dia melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum.
"Doa teman-temanku yang aku amini kala itu terkabul rupanya. Sudah beberapa bulan ini aku jalan dengan idol itu." pikirku
bersambung ....
"Nanti selesai shooting jam berapa?" tanyaku
"Nggak tau. Nanti aku Whatsapp, ya?"
"OK." jawabku.
"Kamu mau ke pabrik?" tanya perempuan itu.
"Iya, mau ngecek yang mau dikirim ke Malaysia." jawabku.
"Kamu kapan mau ke Singapore?" tanya perempuan itu lagi.
"Minggu depan."
"Nggak sama Puji, kan?" tanyanya penasaran.
"Nggak kok, aku sendirian. Kenapa? Jangan jealous gitu dong. Dia kan cuman rekan bisnis." jawabku.
"Nggak, aku nggak jealous kok." jawabnya sambil cemberut.
"Hehehe, jangan bo'ong." tanyaku.
"Ya habis, kamu kayaknya akrab banget sama dia." jawabnya ketus.
"Namanya juga rekan bisnis. Lagi pula, aku nggak pernah nganggep dia lebih dari rekan bisnis, bahkan sejak pertama kali kami ketemu." jawabku.
"Awas ya kalau kamu macem-macem!" ancamnya.
"Hahaha, nggak mungkin lah. Lagian dia udah tunangan." jawabku.
"Hah? Masa?" tanyanya kaget "Kok aku nggak tau?"
"Hari Minggu kemarin tunangannya, aku juga nggak dateng." jawabku
"Ooo, pas kamu ke Surabaya, ya?" tanyanya.
"Iya, kamunya juga pas lagi ke Makassar." jawabku.
Perlahan, mobil dengan kapasitas mesin 3 liter itu memasuki sebuah komplek salah satu televisi swasta nasional.
"Kamu hati-hati dijalan, ya?" kata perempuan itu.
"Iya, sayang. Semoga sukses ya shooting-nya? ujarku.
"Iya." jawab perempuan itu sambil menyalami tanganku.
Lalu, perempuan itu beranjak keluar dari sedan buatan jerman itu. Setelah menutup pintunya dia melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum.
"Doa teman-temanku yang aku amini kala itu terkabul rupanya. Sudah beberapa bulan ini aku jalan dengan idol itu." pikirku
bersambung ....
Wednesday, September 18, 2013
Di Sebuah Hari Yang Panas
Tahun 5 Hari 0
Aku mematikan mesin motorku, lalu aku turunkan penyangga sampingnya. "Belum tengah hari tapi udah panas banget." pikirku. Musim panas tahun ini sepertinya lama sekali. Belum selesai aku mengusap keringat di mukaku, tiba-tiba kudengar teriakan anak kecil memanggil namaku.
"Om Dodo. Ini ada surat." teriaknya.
"Makasih, ya." ucapku pada anak kecil itu.
Lalu aku melangkah menuju kamar kosku. Lalu kulihat jemuranku kosong. "Ah, aku lupa nyuci baju hari ini," pikirku "ntar aku laundry-in kiloan aja deh."
Setelah kubuka pintu kamar, kunyalakan lampu kamarku. Biarpun sudah menjelang tengah hari, tetapi hanya sedikit cahaya matahari yang dapat masuk ke kamar kosku. Meski memiliki dua buah jendela, tetapi bangunan tinggi, yang juga merupakan rumah kos, di depan kamar kosku itu, menghalangi sinar mentari masuk ke kamarku.
Kurebahkan diriku di kasur yang berisi kapuk tanpa menggunakan sprei itu. Lalu aku memandangi amplop kecil yang kuterima dari anak kecil tadi. "Srek." amplop itu aku sobek. Ternyata isinya seperti biasa, panggilan ke kantor pos untuk mengambil barang yang dikirim dari luar negeri. Lalu aku bangun dan beranjak menuju satu-satunya meja di kamar kosku itu. Aku buka lacinya, "Hmm, sudah datang semua nih rupanya. Besok aku ambil ah." pikirku, sambil memandangi tumpukan surat panggilan dari kantor pos.
Aku lalu menyalakan laptop. Setelah selesai booting, kutancapkan ponselku ke laptop, yang bergambar latar BMW M3 itu, dengan menggunakan kabel data micro USB. Lalu aku pilih USB Tethering melalui ponselku untuk dapat terhubung ke internet di laptopku. Aku buka Google Chrome di laptop yang ditenagai prosesor yang hanya setengah prosesor ponselku itu, dan membuka halaman sebuah situs dagang luar negeri, untuk mendata semua pesanan yang sudah tiba, termasuk pemberitahuan pesananku barusan.
"Baiklah, sudah benar ada tujuh pengiriman barang. Besok akan jadi hari yang panjang. Mungkin lebih baik aku tidur siang saja." lalu aku merebahkan diriku diatas kasur.
"Om Dodo, jadi ajarin Nurul komputer nggak?" tanya anak kecil yang tadi memberiku surat itu.
"Abis sholat duhur aja ya, Rul?" jawabku.
"Iya om, nanti Nurul kesini lagi, ya?" ujarnya.
Aku menjawabnya dengan anggukan kepala, lalu gadis kecil itu menghilang dari depan kamarku. "Bentar lagi adzan nih," pikirku "lebih baik aku ambil wudhu dulu, masa sholat duhurnya telat lagi kayak sholat subuh tadi pagi."
Lalu aku beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Selesai berwudhu, aku raih sarungku yang tersampir di kursi. Setelah mengunci kamar, aku langsung bergegas menuju masjid. Jarak masjid dari tempat kosku tidak bisa dibilang dekat, mungkin berjarak sekitar 100 sampai 200 meter. Di tengah perjalanan menuju masjid, seseorang memanggilku.
"Do!" teriaknya.
"Oi!" jawabku.
"Ada stok voucher, nggak?" tanyanya.
"Abis." jawabku.
"Besok ada, nggak?"
"Agak sore tapinya, mau?" tanyaku.
"Nggak apa-apa deh. Besok ya?" tanyanya memastikan.
"Ho oh, tulis aja ya voucher apa aja ama nominal berapa aja. Ntar balik dari masjid gue ambil." jawabku
"Sip!" ucap orang itu sambil mengacungkan ibu jarinya.
Kulanjutkan perjalananku menuju masjid. Kira-kira sekitar 10 meter sebelum tiba di masjid, aku bertemu dengan seseorang yang wajahnya tidak asing.
"Yan, dapet salam dari Ismail." kataku.
"Wa'alaikumsalam, Mas Dodo tadi ke Marbella?" tanyanya.
"Iya." jawabku.
"Ada motif baru nggak, Mas?" tanyanya.
"Ada, udah aku neci sekalian. Ntar poto-poto, yak?" pintaku.
"Lihat jadwal dulu, ya? Mudah-mudahan nggak sibuk, hehehe." jawabnya sambil tertawa.
"Dasar sok artis, wuuu!" ledekku "Nggak salam balik ke Ismail?" tanyaku.
"Nggak, ntar salamnya aku sampein sendiri aja." jawabnya.
"Cieeee, jangan-jangan nih." ledekku.
"Ah, Mas Dodo bisa aja." belanya.
Lalu adzan duhur berkumandang. Saat itulah aku berpisah dengan Maryana. Dalam perjalananku menuju masjid, aku banyak melihat mahasiswa sekolah kedinasan itu. "Sedang jam istirahat kuliah rupanya." pikirku. Sepertinya tadi Maryana juga sedang dalam perjalanan kembali ke tempat kosnya.
"Nih, uangnya sekalian?" tanya Awal.
"Nggak usah, besok aja." jawabku.
"Nyetok banyak sekalian aja, Do. Bentar lagi tanggal muda, pasti banyak mahasiswa yang ngisi pulsa." pinta Awal.
"Pulsa elektrik elu abis?" tanyaku.
"Nggak, ada sih. Cuman anak-anak ada yang males beli elektrik. Kadang pulsanya datengnya lama." jawab Awal.
"Ooo, ya udah. Besok aku sekalian nyetok banyak deh." jawabku.
"Ada barang baru nggak, Do?"
"Ada, besok palingan baru gue ambil. Tapi ada beberapa pesenan orang. Mau nyari apa?" tanyaku.
"Apa aja lah yang bisa dijual disini. Power bank ada?" tanyanya.
"Ada, tapi diluar pesenan orang palingan ada sebiji-dua biji doang. Itu juga cuman buat stok gue aja, buat gue jual di internet. Mau?" tanyaku.
"Seberapa gede?" tanyanya.
"Ngambil yang 2600 mili ampere doang. Warnanya lucu-lucu kok. Girly banget hehehe." jawabku.
"Wah, ogah ah. Kagak jadi. Selain itu ada apalagi?" tanyanya penasaran.
"Charger micro USB sih, bisa buat BB, Android." jawabku.
"Nah, boleh tuh. Berapaan?" tanyanya.
"Elu jual disini berapaan?" tanyaku.
"Yang satu set charger sama kabel data micro USB sih, gue jual dua puluh ribuan. Kalau yang jadi satu kayak charger BB gitu sih ya agak murah dikit lah. Disesuaiin sama kantong mahasiswa hehehe." jawabnya.
"Ya udah, buat elu sebijinya lima belas ribu deh." jawabku.
"Serius? Nggak bisa kurang lagi?" tanyanya.
"Elu mau ambil berapa biji? Ini diluar pesenan orang cuman sisa paling enam atau tujuh biji." jawabku.
"Gue ambil semua deh, tapi kurangin lagi, ya?" pinta Awal.
"OK, tiga belas ribu, tapi ambil semua, ya?" jawabku.
"Sip!" jawabnya.
"Alhamdulilah." pikirku. Belum juga barangnya sampai di tanganku, ternyata sudah laku dulu. Setelah kesepakatan itu, aku meninggalkan toko ponsel milik Awal. Pria yang bernama lengkap Awaluddin itu sudah membuka toko ponsel jauh sebelum aku memutuskan untuk hidup di daerah itu. Toko itu sekarang jauh lebih besar daripada saat pertama kali aku membeli ponsel di toko itu.
Sejak beberapa tahun lalu, aku memang menyuplai berbagai perlengkapan ponsel di toko-toko ponsel di sekitar tempat kos ku. Aku juga menyuplai aksesoris ponsel ke beberapa toko ponsel di Jakarta, termasuk di pusat penjualan ponsel terbesar di Jakarta yang terletak di bilangan Jakarta Barat.
Saat kembali ke kamar kos, kunyalakan layar ponselku. Niatku hendak menanyakan Maryana mengenai waktu kapan dia sanggup untuk aku foto menggunakan jilbab dengan motif baru yang baru aku beli tadi pagi. Ternyata kudapati ada pesan baru di Facebook. "Orang yang sama!" pikirku. "Kenapa?" pikiranku yang lain menimpali. "Aku sudah lama melupakannya, tetapi dia masih mengingatku. Darimana dia dapat akun Facebook-ku?" otakku tiba-tiba mengomando tanganku untuk membuka profil Facebook-nya. Lalu kulihat mutual friend kami.
"Bagus Hardianto." nama itu yang muncul disitu.
bersambung ....
Aku mematikan mesin motorku, lalu aku turunkan penyangga sampingnya. "Belum tengah hari tapi udah panas banget." pikirku. Musim panas tahun ini sepertinya lama sekali. Belum selesai aku mengusap keringat di mukaku, tiba-tiba kudengar teriakan anak kecil memanggil namaku.
"Om Dodo. Ini ada surat." teriaknya.
"Makasih, ya." ucapku pada anak kecil itu.
Lalu aku melangkah menuju kamar kosku. Lalu kulihat jemuranku kosong. "Ah, aku lupa nyuci baju hari ini," pikirku "ntar aku laundry-in kiloan aja deh."
Setelah kubuka pintu kamar, kunyalakan lampu kamarku. Biarpun sudah menjelang tengah hari, tetapi hanya sedikit cahaya matahari yang dapat masuk ke kamar kosku. Meski memiliki dua buah jendela, tetapi bangunan tinggi, yang juga merupakan rumah kos, di depan kamar kosku itu, menghalangi sinar mentari masuk ke kamarku.
Kurebahkan diriku di kasur yang berisi kapuk tanpa menggunakan sprei itu. Lalu aku memandangi amplop kecil yang kuterima dari anak kecil tadi. "Srek." amplop itu aku sobek. Ternyata isinya seperti biasa, panggilan ke kantor pos untuk mengambil barang yang dikirim dari luar negeri. Lalu aku bangun dan beranjak menuju satu-satunya meja di kamar kosku itu. Aku buka lacinya, "Hmm, sudah datang semua nih rupanya. Besok aku ambil ah." pikirku, sambil memandangi tumpukan surat panggilan dari kantor pos.
Aku lalu menyalakan laptop. Setelah selesai booting, kutancapkan ponselku ke laptop, yang bergambar latar BMW M3 itu, dengan menggunakan kabel data micro USB. Lalu aku pilih USB Tethering melalui ponselku untuk dapat terhubung ke internet di laptopku. Aku buka Google Chrome di laptop yang ditenagai prosesor yang hanya setengah prosesor ponselku itu, dan membuka halaman sebuah situs dagang luar negeri, untuk mendata semua pesanan yang sudah tiba, termasuk pemberitahuan pesananku barusan.
"Baiklah, sudah benar ada tujuh pengiriman barang. Besok akan jadi hari yang panjang. Mungkin lebih baik aku tidur siang saja." lalu aku merebahkan diriku diatas kasur.
"Om Dodo, jadi ajarin Nurul komputer nggak?" tanya anak kecil yang tadi memberiku surat itu.
"Abis sholat duhur aja ya, Rul?" jawabku.
"Iya om, nanti Nurul kesini lagi, ya?" ujarnya.
Aku menjawabnya dengan anggukan kepala, lalu gadis kecil itu menghilang dari depan kamarku. "Bentar lagi adzan nih," pikirku "lebih baik aku ambil wudhu dulu, masa sholat duhurnya telat lagi kayak sholat subuh tadi pagi."
Lalu aku beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Selesai berwudhu, aku raih sarungku yang tersampir di kursi. Setelah mengunci kamar, aku langsung bergegas menuju masjid. Jarak masjid dari tempat kosku tidak bisa dibilang dekat, mungkin berjarak sekitar 100 sampai 200 meter. Di tengah perjalanan menuju masjid, seseorang memanggilku.
"Do!" teriaknya.
"Oi!" jawabku.
"Ada stok voucher, nggak?" tanyanya.
"Abis." jawabku.
"Besok ada, nggak?"
"Agak sore tapinya, mau?" tanyaku.
"Nggak apa-apa deh. Besok ya?" tanyanya memastikan.
"Ho oh, tulis aja ya voucher apa aja ama nominal berapa aja. Ntar balik dari masjid gue ambil." jawabku
"Sip!" ucap orang itu sambil mengacungkan ibu jarinya.
Kulanjutkan perjalananku menuju masjid. Kira-kira sekitar 10 meter sebelum tiba di masjid, aku bertemu dengan seseorang yang wajahnya tidak asing.
"Yan, dapet salam dari Ismail." kataku.
"Wa'alaikumsalam, Mas Dodo tadi ke Marbella?" tanyanya.
"Iya." jawabku.
"Ada motif baru nggak, Mas?" tanyanya.
"Ada, udah aku neci sekalian. Ntar poto-poto, yak?" pintaku.
"Lihat jadwal dulu, ya? Mudah-mudahan nggak sibuk, hehehe." jawabnya sambil tertawa.
"Dasar sok artis, wuuu!" ledekku "Nggak salam balik ke Ismail?" tanyaku.
"Nggak, ntar salamnya aku sampein sendiri aja." jawabnya.
"Cieeee, jangan-jangan nih." ledekku.
"Ah, Mas Dodo bisa aja." belanya.
Lalu adzan duhur berkumandang. Saat itulah aku berpisah dengan Maryana. Dalam perjalananku menuju masjid, aku banyak melihat mahasiswa sekolah kedinasan itu. "Sedang jam istirahat kuliah rupanya." pikirku. Sepertinya tadi Maryana juga sedang dalam perjalanan kembali ke tempat kosnya.
"Nih, uangnya sekalian?" tanya Awal.
"Nggak usah, besok aja." jawabku.
"Nyetok banyak sekalian aja, Do. Bentar lagi tanggal muda, pasti banyak mahasiswa yang ngisi pulsa." pinta Awal.
"Pulsa elektrik elu abis?" tanyaku.
"Nggak, ada sih. Cuman anak-anak ada yang males beli elektrik. Kadang pulsanya datengnya lama." jawab Awal.
"Ooo, ya udah. Besok aku sekalian nyetok banyak deh." jawabku.
"Ada barang baru nggak, Do?"
"Ada, besok palingan baru gue ambil. Tapi ada beberapa pesenan orang. Mau nyari apa?" tanyaku.
"Apa aja lah yang bisa dijual disini. Power bank ada?" tanyanya.
"Ada, tapi diluar pesenan orang palingan ada sebiji-dua biji doang. Itu juga cuman buat stok gue aja, buat gue jual di internet. Mau?" tanyaku.
"Seberapa gede?" tanyanya.
"Ngambil yang 2600 mili ampere doang. Warnanya lucu-lucu kok. Girly banget hehehe." jawabku.
"Wah, ogah ah. Kagak jadi. Selain itu ada apalagi?" tanyanya penasaran.
"Charger micro USB sih, bisa buat BB, Android." jawabku.
"Nah, boleh tuh. Berapaan?" tanyanya.
"Elu jual disini berapaan?" tanyaku.
"Yang satu set charger sama kabel data micro USB sih, gue jual dua puluh ribuan. Kalau yang jadi satu kayak charger BB gitu sih ya agak murah dikit lah. Disesuaiin sama kantong mahasiswa hehehe." jawabnya.
"Ya udah, buat elu sebijinya lima belas ribu deh." jawabku.
"Serius? Nggak bisa kurang lagi?" tanyanya.
"Elu mau ambil berapa biji? Ini diluar pesenan orang cuman sisa paling enam atau tujuh biji." jawabku.
"Gue ambil semua deh, tapi kurangin lagi, ya?" pinta Awal.
"OK, tiga belas ribu, tapi ambil semua, ya?" jawabku.
"Sip!" jawabnya.
"Alhamdulilah." pikirku. Belum juga barangnya sampai di tanganku, ternyata sudah laku dulu. Setelah kesepakatan itu, aku meninggalkan toko ponsel milik Awal. Pria yang bernama lengkap Awaluddin itu sudah membuka toko ponsel jauh sebelum aku memutuskan untuk hidup di daerah itu. Toko itu sekarang jauh lebih besar daripada saat pertama kali aku membeli ponsel di toko itu.
Sejak beberapa tahun lalu, aku memang menyuplai berbagai perlengkapan ponsel di toko-toko ponsel di sekitar tempat kos ku. Aku juga menyuplai aksesoris ponsel ke beberapa toko ponsel di Jakarta, termasuk di pusat penjualan ponsel terbesar di Jakarta yang terletak di bilangan Jakarta Barat.
Saat kembali ke kamar kos, kunyalakan layar ponselku. Niatku hendak menanyakan Maryana mengenai waktu kapan dia sanggup untuk aku foto menggunakan jilbab dengan motif baru yang baru aku beli tadi pagi. Ternyata kudapati ada pesan baru di Facebook. "Orang yang sama!" pikirku. "Kenapa?" pikiranku yang lain menimpali. "Aku sudah lama melupakannya, tetapi dia masih mengingatku. Darimana dia dapat akun Facebook-ku?" otakku tiba-tiba mengomando tanganku untuk membuka profil Facebook-nya. Lalu kulihat mutual friend kami.
"Bagus Hardianto." nama itu yang muncul disitu.
bersambung ....
Tuesday, September 17, 2013
Membeli Boneka
Tahun 18 Hari .... (Aku sudah lupa)
"お母さん (Okaa-san: Ibu), can I buy this?" tanya anak kecil itu.
"Ask お父さん (Otoo-san: Ayah), sweety." jawab ibunya.
"お父さん (Otoo-san), can I buy this doll? お願い (Onegai: Kumohon)." tanya anak kecil itu.
"お母さん (Okaa-san: Ibu), can I buy this?" tanya anak kecil itu.
"Ask お父さん (Otoo-san: Ayah), sweety." jawab ibunya.
"お父さん (Otoo-san), can I buy this doll? お願い (Onegai: Kumohon)." tanya anak kecil itu.
"はい、そうでせ (Hai, sou desu: Ya, tentu saja)" jawabku.
"Sankyuu, お父さん (Otoo-san)" jawab anak itu dengan riang.
Anak kecil itu kemudian berlari ke arah ibunya, yang tidak lain adalah istriku. Setelah tahu permintaan anaknya disetujui, dia lalu menoleh ke arahku sambil tersenyum.
"綺麗~ (Kirei: Cantik)" kata itu yang lantas terlintas di pikiranku tatkala melihat senyumnya. Hatikupun menjadi tentram.
bersambung ....
bersambung ....
Minami?
Tahun 5 Hari 0
高田ミマミ
高田ミマミ
Nama itu yang muncul di pesan Facebook-ku. Aku gagal membaca 2 huruf kanji didepannya. Tetapi, 3 huruf terakhir, aku mencoba meraba-raba arti huruf itu. "Ah, MINAMI!" pikirku. Maklum, aku sudah lama tidak bersinggungan dengan huruf hiragana-katakana. Padahal, dulu aku sempat tergabung dalam fansub Indonesia untuk serial drama jepang.
Aku mencoba berpikir keras. Minami .... Minami siapa? Lalu pikiranku membawaku ke lebih dari sembilan tahun yang lalu.
"TAKADA MINAMI!" nama itu seketika muncul di pikiranku.
bersambung ....
Monday, September 16, 2013
Bisnis dan Kesenangan
Tahun 5 Hari 253
"Sesi berapa, Mas?" tanya Trias.
"Sesi 3" jawabku.
"Punya berapa tiket?" tanya Trias kembali.
"Empat doang."
"Nao-chan semua?" tanya Trias penasaran.
"Iya." jawabku.
"Wow, puas tuh." kata Tedy menimpali.
"Mas Dodo kan tipe-tipe setia, Ted. Nggak kayak kamu. Oshi kok ganti-ganti terus. Hahaha." ledek Aldi.
Lalu terdengar notifikasi pesan masuk di ponselku. Aku raih ponselku dari saku di dalam jaketku. "Rupanya ada SMS." kataku dalam hati. Setelah aku buka SMS tersebut, ternyata dari salah satu penyedia layanan jual beli di internet. Situs jual beli yang aku ikuti ini menyediakan tempat untuk berjualan gratis. Pembelipun akan merasa aman bertransaksi di situs ini. Di situs ini, pembayaran dari hasil transaksi ditahan oleh pengelola situs dan baru dibayarkan kepada penjual setelah pembeli mengkonfirmasi bahwa barang yang dibeli sudah sampai di tangannya.
SMS tersebut berisi bahwa ada transaksi pembelian atas jilbab yang aku jual di situs tersebut. Aku membuka situs tersebut melalui browser di ponselku. Ternyata benar ada transaksi pembelian jilbab sebanyak dua buah. Lalu aku beralih ke aplikasi Google Drive(4) untuk mengecek stok jilbab tersebut. Demi kepuasan pembeli, aku berniat mengirimkan jilbab itu hari ini. Sayangnya, aku juga tidak tahu sampai jam berapa nantinya aku baru bisa pulang ke kos. Selain itu, stok untuk jilbab itu hanya ada di aku. Biasanya beberapa motif jilbab juga aku berikan ke Maryana untuk dipasarkan. Andaikan Maryana memegang beberapa stok yang dibeli itu, tentu aku tinggal memintanya membantuku mengirimkannya.
"Ah, aku minta Yana ambil saja di kamarku, lalu minta dia mengirimkannya. Toh, dia juga sering main ke kos, Ibu pengurus kos juga sudah hafal." pikirku.
Sekejap itu pula, aku me-Whatsapp Maryana.
"Waduh, alamat salah persepsi nih." dan benar saja, Maryana langsung membalas seketika itu juga.
"Si Yana mau ke kos, Mas?" tanya Aldi.
"Ho oh. Mau ngambil jilbab." jawabku.
"Bisnisnya berkembang pesat ya, Mas?" tanya Tedy.
"Alhamdulillah, Ted."
"Jilbab ceweknya ketinggalan di kamar kos ya, Mas?" tiba-tiba pengemudi taksi tersebut, tidak ada angin tidak ada hujan, ikut nimbrung di omongan kami.
"Hah? Nggak, Pak. Itu temen saya mau ngambil jilbab buat dikirim. Saya jualan jilbab, Pak. Wah, bapak mikirnya yang nggak-nggak nih." belaku.
Seketika bapak pengemudi taksi dan teman-temanku tertawa.
"Hahaha, bercanda, Mas. Emang mas jualan jilbab?" tanya pengemudi tersebut.
"Iya, Pak." jawabku.
"Wah, nggak biasa loh cowok jualan jilbab. Biasanya cewek-cewek yang jualan jilbab. Hebat nih masnya." puji bapak tersebut.
"Ah, nggak, Pak. Makanya tadi saya dibantu sama teman saya tadi." ujarku.
"Oh, kirain tadi ceweknya, hehehe." kata bapak itu.
"Nggak, Pak. Bapak salah. Ini kita mau nyamperin ceweknya, hahaha." ujar Aldi membelaku sambil tertawa.
"Wah, mas-mas ini baik banget mau nganterin temennya ketemu ceweknya, hahaha." timpal bapak itu tertawa.
"Hahaha, nggak kok, Pak. Ini mau ketemu idola kita di fX Sudirman." ujarku.
"Oh, idol group itu, ya? Yang cewek-cewek ada 48 orang itu kan?" kata bapak itu.
"Bapak gaul juga ternyata, hahaha." jawab Tedy.
"Iya dong, anak saya juga ngefans kok. Terutama sama yang namanya Ayu-chin itu."
"Wah, kok sama ama saya, Pak?" timpal Tedy "Selera anaknya bagus, hahaha." imbuhnya.
Seketika seisi taksi itu tertawa. Lalu kami menjadi semakin akrab dan bapak pengemudi taksi tersebut bercerita tentang keluarganya. Bapak tersebut mengemudi taksi sebenarnya bukan untuk mencari nafkah untuk membiayai hidup. Tetapi guna mengumpulkan modal untuk istrinya yang bercita-cita mendirikan pabrik busana muslim. Saat ini istrinya memiliki tempat jahit yang membuat busana muslim, termasuk jilbab, dengan dibantu oleh anak tertuanya dan tujuh pegawai.
"Lumayan, Mas. Dari hasil itu udah cukup membiayai kebutuhan hidup. Jadi penghasilan saya nyupir murni ditabung buat ngumpulin modal." ujar bapak itu.
"Emang nyupir gini, sebulan bisa dapet berapa, Pak?" tanya Trias.
"Nggak tentu, Mas. Rata-rata sih saya bisa dapet tiga sampai empat jutaan bersih." jawab bapak itu.
"Wah, gede juga, ya?" jawab Trias.
"Alhamdulillah, Mas." jawab bapak itu.
"Perlu modal berapa lagi, Pak?" tanyaku.
"Pastinya nggak tau, Mas. Kemarin istri saya bilang sih, kira-kira masih perlu tiga puluh sampai empat puluh jutaan lagi. Wong mau bikin kecil-kecilan dulu kok." jawab bapak itu.
Entah kenapa, seketika itu juga, aku membuka internet banking melalui browser ponselku.
bersambung ....
"Sesi berapa, Mas?" tanya Trias.
"Sesi 3" jawabku.
"Punya berapa tiket?" tanya Trias kembali.
"Empat doang."
"Nao-chan semua?" tanya Trias penasaran.
"Iya." jawabku.
"Wow, puas tuh." kata Tedy menimpali.
"Mas Dodo kan tipe-tipe setia, Ted. Nggak kayak kamu. Oshi kok ganti-ganti terus. Hahaha." ledek Aldi.
Lalu terdengar notifikasi pesan masuk di ponselku. Aku raih ponselku dari saku di dalam jaketku. "Rupanya ada SMS." kataku dalam hati. Setelah aku buka SMS tersebut, ternyata dari salah satu penyedia layanan jual beli di internet. Situs jual beli yang aku ikuti ini menyediakan tempat untuk berjualan gratis. Pembelipun akan merasa aman bertransaksi di situs ini. Di situs ini, pembayaran dari hasil transaksi ditahan oleh pengelola situs dan baru dibayarkan kepada penjual setelah pembeli mengkonfirmasi bahwa barang yang dibeli sudah sampai di tangannya.
SMS tersebut berisi bahwa ada transaksi pembelian atas jilbab yang aku jual di situs tersebut. Aku membuka situs tersebut melalui browser di ponselku. Ternyata benar ada transaksi pembelian jilbab sebanyak dua buah. Lalu aku beralih ke aplikasi Google Drive(4) untuk mengecek stok jilbab tersebut. Demi kepuasan pembeli, aku berniat mengirimkan jilbab itu hari ini. Sayangnya, aku juga tidak tahu sampai jam berapa nantinya aku baru bisa pulang ke kos. Selain itu, stok untuk jilbab itu hanya ada di aku. Biasanya beberapa motif jilbab juga aku berikan ke Maryana untuk dipasarkan. Andaikan Maryana memegang beberapa stok yang dibeli itu, tentu aku tinggal memintanya membantuku mengirimkannya.
"Ah, aku minta Yana ambil saja di kamarku, lalu minta dia mengirimkannya. Toh, dia juga sering main ke kos, Ibu pengurus kos juga sudah hafal." pikirku.
Sekejap itu pula, aku me-Whatsapp Maryana.
Yan, ambilin motif Shining Moon ama Singing Bird masing2 sebiji, ya?Itulah yang aku ketik di aplikasi Whatsapp. Tetapi, baris pertama yang terkirim ke Maryana tertulis sebagai berikut:
Kunci kamarnya pinjem aja di Ibu kos, ntar aku telp Ibu kos klo kamu mau ambil jilbab.
Terus kirimin via kurir yang di depan gang itu ke ***(nama & alamat pembeli)***.
Ntar ongkir-nya aku ganti.
Makasih ^^
Yang, ambilin motif Shining Moon ama Singing Bird masing2 sebiji, ya?"DAMN YOU AUTOCORRECT!" pikirku. Kenapa kata "Yan" dikoreksi sama keyboard ponselku menjadi "Yang"?
"Waduh, alamat salah persepsi nih." dan benar saja, Maryana langsung membalas seketika itu juga.
Iya sayang hehehe XDLangsung saja aku balas:
Tumben manggil sayang :D
OTOKOREK WOYYYY!!! T_TDan dibalasnya:
Iya iya tau hahaha, ntar aku dimarahin sama minami-san lagi :))Lalu aku akhiri percakapan di Whatsapp itu:
Hayah :(Dan Maryana hanya menjawab dengan emoticon senyuman. Lalu aku menelepon tempat kos dan menyampaikan ke Ibu pengurus kos bahwa Maryana hendak kesana dan meminjam kunci kamarku untuk mengambil jilbab.
Makasih ya, ntar tak beliin coklat kesukaanmu deh hehehe :D
"Si Yana mau ke kos, Mas?" tanya Aldi.
"Ho oh. Mau ngambil jilbab." jawabku.
"Bisnisnya berkembang pesat ya, Mas?" tanya Tedy.
"Alhamdulillah, Ted."
"Jilbab ceweknya ketinggalan di kamar kos ya, Mas?" tiba-tiba pengemudi taksi tersebut, tidak ada angin tidak ada hujan, ikut nimbrung di omongan kami.
"Hah? Nggak, Pak. Itu temen saya mau ngambil jilbab buat dikirim. Saya jualan jilbab, Pak. Wah, bapak mikirnya yang nggak-nggak nih." belaku.
Seketika bapak pengemudi taksi dan teman-temanku tertawa.
"Hahaha, bercanda, Mas. Emang mas jualan jilbab?" tanya pengemudi tersebut.
"Iya, Pak." jawabku.
"Wah, nggak biasa loh cowok jualan jilbab. Biasanya cewek-cewek yang jualan jilbab. Hebat nih masnya." puji bapak tersebut.
"Ah, nggak, Pak. Makanya tadi saya dibantu sama teman saya tadi." ujarku.
"Oh, kirain tadi ceweknya, hehehe." kata bapak itu.
"Nggak, Pak. Bapak salah. Ini kita mau nyamperin ceweknya, hahaha." ujar Aldi membelaku sambil tertawa.
"Wah, mas-mas ini baik banget mau nganterin temennya ketemu ceweknya, hahaha." timpal bapak itu tertawa.
"Hahaha, nggak kok, Pak. Ini mau ketemu idola kita di fX Sudirman." ujarku.
"Oh, idol group itu, ya? Yang cewek-cewek ada 48 orang itu kan?" kata bapak itu.
"Bapak gaul juga ternyata, hahaha." jawab Tedy.
"Iya dong, anak saya juga ngefans kok. Terutama sama yang namanya Ayu-chin itu."
"Wah, kok sama ama saya, Pak?" timpal Tedy "Selera anaknya bagus, hahaha." imbuhnya.
Seketika seisi taksi itu tertawa. Lalu kami menjadi semakin akrab dan bapak pengemudi taksi tersebut bercerita tentang keluarganya. Bapak tersebut mengemudi taksi sebenarnya bukan untuk mencari nafkah untuk membiayai hidup. Tetapi guna mengumpulkan modal untuk istrinya yang bercita-cita mendirikan pabrik busana muslim. Saat ini istrinya memiliki tempat jahit yang membuat busana muslim, termasuk jilbab, dengan dibantu oleh anak tertuanya dan tujuh pegawai.
"Lumayan, Mas. Dari hasil itu udah cukup membiayai kebutuhan hidup. Jadi penghasilan saya nyupir murni ditabung buat ngumpulin modal." ujar bapak itu.
"Emang nyupir gini, sebulan bisa dapet berapa, Pak?" tanya Trias.
"Nggak tentu, Mas. Rata-rata sih saya bisa dapet tiga sampai empat jutaan bersih." jawab bapak itu.
"Wah, gede juga, ya?" jawab Trias.
"Alhamdulillah, Mas." jawab bapak itu.
"Perlu modal berapa lagi, Pak?" tanyaku.
"Pastinya nggak tau, Mas. Kemarin istri saya bilang sih, kira-kira masih perlu tiga puluh sampai empat puluh jutaan lagi. Wong mau bikin kecil-kecilan dulu kok." jawab bapak itu.
Entah kenapa, seketika itu juga, aku membuka internet banking melalui browser ponselku.
bersambung ....
Rapi di Sabtu Pagi
Tahun 5 Hari 253
Entah sejak kapan pikiranku teracuni, saat ini, aku sudah berpakaian rapi di Sabtu pagi.
"Urunan naik taksi aja yuk, Mas?" tanya Aldi.
"Kan nggak lucu nyampe sana lecek gara-gara kena polusi pas naik motor, hehehe." kata Aldi tertawa.
Saran Aldi tidak dapat aku tolak, memang begitu kenyataannya. Nggak lucu kalau ketemu idola tapi keadaan sudah acak-adut.
"Ya udah deh." jawabku "Siapa aja yang mau bareng?"
"Tedy sama Trias, Mas." jawab Aldi.
"Bagus lah." pikirku. Lumayan menghemat kalau ongkos taksinya dibagi empat orang. Meski sedikit lebih mahal daripada hitung-hitungan naik motor, tapi yang penting sampai di sana tidak kucel berbonus stres. Aku memang terbiasa memperhitungkan segala pengeluaranku. Tentu, aku tidak mau selamanya kos dan hanya punya motor. Aku kedepan pasti juga akan punya keluarga sendiri, memiliki istri dan anak-anak yang lucu. "Ah, kapan gue kawin?" pikirku "Mau tinggal dimana setelah kawin? Apa gue masih kerja kayak gini sampai besok-besok?" semua pikiran kedepan itu selalu menghantuiku.
"Waaah, Mas Dodo keren euy!" tiba-tiba Tedy sudah berdiri di depan pintu kamarku "Pasti Nao-chan klepek-klepek nih kalau liat Mas Dodo!" imbuhnya.
Seketika, Aldi ikut tertawa bersama Tedy. Entah apa yang ada di pikiran mereka tentang penampilanku pagi itu. Menggunakan celana jeans warna coklat muda model permanent press dengan nomor 30 yang agak kedodoran, kaos V-neck warna putih dan jaket hitam semi formal serta sepatu sneakers merk lokal, sepertinya penampilanku hari itu biasa saja. Memang sehari-hari, ketika aku berkutat dengan bisnisku, aku lebih suka menggunakan kaos oblong dan celana tiga perempat serta sandal jepit warna biru. Walau sehari-hari hanya mengenakan celana tiga perempat, aku tidak takut untuk sholat, karena sarungku selalu tersedia di tasku kemanapun aku pergi.
"Ah, iya. Hari ini gue nggak bawa tas. Terus hape gue gimana??" pikirku "Oh iya, ada saku di sisi atas bagian dalam jaket! Aman!" seketika akupun lega. Membawa ponsel dengan ukuran layar diatas lima inci memang agak menghambat mobilitasku. Meski menghambat mobilitas, aku masih mengandalkan ponsel itu untuk segala aktifitas, termasuk bisnisku.
"Udah siap, Mas? Berangkat sekarang, yuk?" tiba-tiba Trias muncul dari balik jendela kamar kosku. Pria asal Kebumen itu juga sudah berpakaian rapi sama seperti dua temannya. Hari ini, penampilan mereka berbeda dari biasanya. Nampaknya mereka berusaha berpenampilan semaksimal mungkin. Bahkan, semalam Aldi tampaknya memborong beberapa baju merek terkemuka dari salah satu mal di bilangan Pondok Indah.
"Yuk, berangkat sekarang." kataku. Setelah aku mengunci kamarku, aku meluncur ke tempat pengurus kos.
"Bu, saya pergi dulu, ya? Nitip motor, ya?"
"Iya, Do. Ati-ati. Motornya udah dikunci kan rem cakramnya?" tanya Ibu pengurus kos.
"Udah, Bu. Kunci kamarnya saya bawa, ya?" jawabku.
"Iya, ati-ati. Si Aldi jadi ikut?"
"Saya ikut, Bu." sahut Aldi dari kejauhan.
Ibu pengurus kos lalu keluar dari ruangannya, "Wah, tumben pada ganteng-ganteng. Pada mau kemana? Pacaran, ya?" tanyanya.
Seketika kami berempat tertawa bersama. "Mau nganterin Mas Dodo ngelamar anak orang, Bu." jawab Tedy.
"Ooo, yang fotonya ada di laptopnya Dodo, ya?" tanya Ibu pengurus kos.
"Iyaaa." serempak Aldi, Tedy dan Trias kompak menjawab sambil tertawa.
"Amiin!" kataku dalam hati. Foto siapa lagi yang jadi wallpaper laptopku kalau bukan foto Nao-chan. "Pacaran sama Nao-chan? Siapapun juga mau! Termasuk gue!" pikirku
Lalu kami semua beranjak dari tempat kosku dan Aldi. Ya, Aldi adalah teman satu kosku. Dia bekerja di sebuah instansi di bilangan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Begitu pula Tedy dan Trias, juga bekerja di tempat yang sama. Tetapi mereka berbeda tempat kos dengan kami.
Tanpa sadar, kami sudah berada di tepi jalan. Kami pun mulai menunggu taksi lewat yang berminat mengantar empat anggota boyband ini ke tempat tujuannya.
"Naik taksi apa nih, Mas" tanya Aldi padaku.
"Apa aja lah, asal taksi yang bener." jawabku.
Akhirnya sebuah taksi berhenti di depan kami setelah Aldi melambaikan tangannya, tanda memintanya mengantar ke suatu tempat. Lalu kami berempat langsung naik. Aldi langsung berinisiatif duduk di depan samping pengemudi taksi yang berlambang seperti media sosial Twitter tersebut. Dia sadar bahwa badannya yang subur itu bakal mengganggu bila dia duduk dengan kedua temannya di bagian belakang. Lalu, taksi itupun meluncur membawa kami berempat.
"Selamat pagi. Maaf, tujuannya kemana?" tanya pengemudi tersebut dengan sopan.
"fX Sudirman!" jawab kami kompak.
bersambung ....
Entah sejak kapan pikiranku teracuni, saat ini, aku sudah berpakaian rapi di Sabtu pagi.
"Urunan naik taksi aja yuk, Mas?" tanya Aldi.
"Kan nggak lucu nyampe sana lecek gara-gara kena polusi pas naik motor, hehehe." kata Aldi tertawa.
Saran Aldi tidak dapat aku tolak, memang begitu kenyataannya. Nggak lucu kalau ketemu idola tapi keadaan sudah acak-adut.
"Ya udah deh." jawabku "Siapa aja yang mau bareng?"
"Tedy sama Trias, Mas." jawab Aldi.
"Bagus lah." pikirku. Lumayan menghemat kalau ongkos taksinya dibagi empat orang. Meski sedikit lebih mahal daripada hitung-hitungan naik motor, tapi yang penting sampai di sana tidak kucel berbonus stres. Aku memang terbiasa memperhitungkan segala pengeluaranku. Tentu, aku tidak mau selamanya kos dan hanya punya motor. Aku kedepan pasti juga akan punya keluarga sendiri, memiliki istri dan anak-anak yang lucu. "Ah, kapan gue kawin?" pikirku "Mau tinggal dimana setelah kawin? Apa gue masih kerja kayak gini sampai besok-besok?" semua pikiran kedepan itu selalu menghantuiku.
"Waaah, Mas Dodo keren euy!" tiba-tiba Tedy sudah berdiri di depan pintu kamarku "Pasti Nao-chan klepek-klepek nih kalau liat Mas Dodo!" imbuhnya.
Seketika, Aldi ikut tertawa bersama Tedy. Entah apa yang ada di pikiran mereka tentang penampilanku pagi itu. Menggunakan celana jeans warna coklat muda model permanent press dengan nomor 30 yang agak kedodoran, kaos V-neck warna putih dan jaket hitam semi formal serta sepatu sneakers merk lokal, sepertinya penampilanku hari itu biasa saja. Memang sehari-hari, ketika aku berkutat dengan bisnisku, aku lebih suka menggunakan kaos oblong dan celana tiga perempat serta sandal jepit warna biru. Walau sehari-hari hanya mengenakan celana tiga perempat, aku tidak takut untuk sholat, karena sarungku selalu tersedia di tasku kemanapun aku pergi.
"Ah, iya. Hari ini gue nggak bawa tas. Terus hape gue gimana??" pikirku "Oh iya, ada saku di sisi atas bagian dalam jaket! Aman!" seketika akupun lega. Membawa ponsel dengan ukuran layar diatas lima inci memang agak menghambat mobilitasku. Meski menghambat mobilitas, aku masih mengandalkan ponsel itu untuk segala aktifitas, termasuk bisnisku.
"Udah siap, Mas? Berangkat sekarang, yuk?" tiba-tiba Trias muncul dari balik jendela kamar kosku. Pria asal Kebumen itu juga sudah berpakaian rapi sama seperti dua temannya. Hari ini, penampilan mereka berbeda dari biasanya. Nampaknya mereka berusaha berpenampilan semaksimal mungkin. Bahkan, semalam Aldi tampaknya memborong beberapa baju merek terkemuka dari salah satu mal di bilangan Pondok Indah.
"Yuk, berangkat sekarang." kataku. Setelah aku mengunci kamarku, aku meluncur ke tempat pengurus kos.
"Bu, saya pergi dulu, ya? Nitip motor, ya?"
"Iya, Do. Ati-ati. Motornya udah dikunci kan rem cakramnya?" tanya Ibu pengurus kos.
"Udah, Bu. Kunci kamarnya saya bawa, ya?" jawabku.
"Iya, ati-ati. Si Aldi jadi ikut?"
"Saya ikut, Bu." sahut Aldi dari kejauhan.
Ibu pengurus kos lalu keluar dari ruangannya, "Wah, tumben pada ganteng-ganteng. Pada mau kemana? Pacaran, ya?" tanyanya.
Seketika kami berempat tertawa bersama. "Mau nganterin Mas Dodo ngelamar anak orang, Bu." jawab Tedy.
"Ooo, yang fotonya ada di laptopnya Dodo, ya?" tanya Ibu pengurus kos.
"Iyaaa." serempak Aldi, Tedy dan Trias kompak menjawab sambil tertawa.
"Amiin!" kataku dalam hati. Foto siapa lagi yang jadi wallpaper laptopku kalau bukan foto Nao-chan. "Pacaran sama Nao-chan? Siapapun juga mau! Termasuk gue!" pikirku
Lalu kami semua beranjak dari tempat kosku dan Aldi. Ya, Aldi adalah teman satu kosku. Dia bekerja di sebuah instansi di bilangan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Begitu pula Tedy dan Trias, juga bekerja di tempat yang sama. Tetapi mereka berbeda tempat kos dengan kami.
Tanpa sadar, kami sudah berada di tepi jalan. Kami pun mulai menunggu taksi lewat yang berminat mengantar empat anggota boyband ini ke tempat tujuannya.
"Naik taksi apa nih, Mas" tanya Aldi padaku.
"Apa aja lah, asal taksi yang bener." jawabku.
Akhirnya sebuah taksi berhenti di depan kami setelah Aldi melambaikan tangannya, tanda memintanya mengantar ke suatu tempat. Lalu kami berempat langsung naik. Aldi langsung berinisiatif duduk di depan samping pengemudi taksi yang berlambang seperti media sosial Twitter tersebut. Dia sadar bahwa badannya yang subur itu bakal mengganggu bila dia duduk dengan kedua temannya di bagian belakang. Lalu, taksi itupun meluncur membawa kami berempat.
"Selamat pagi. Maaf, tujuannya kemana?" tanya pengemudi tersebut dengan sopan.
"fX Sudirman!" jawab kami kompak.
bersambung ....
Daerah yang Terlupakan
Tahun 5 Hari 0
"Berapa, Bang?" tanyaku pada penjual cendol.
"Berapa, Bang?" tanyaku pada penjual cendol.
"Sepuluh ribu."
Lalu aku mengeluarkan dua lembar uang bergambar Tuanku Imam Bonjol dari saku depan tasku.
"Udah, gue aja!" tiba-tiba Ismail menampik tanganku yang hendak memberikan uang tersebut kepada abang penjual cendol. Entah apa motivasinya, karena seingatku, akulah yang berjanji menraktirnya karena sikap kasarku pagi itu. Seketika, akupun tersadar. Nampaknya dia ingin berterima kasih karena sudah aku berikan foto Maryana ke ponselnya.
"Udah, nggak usah dipikirin. Nggak apa-apa kok." kata Ismail.
"Hehehe, makasih, ya?" jawabku tersenyum.
"Yuk, ke toko dulu aja, sambil nungguin necinya selesai." ajaknya.
"Nggak ah. Gue mau liat-liat ke lapak lain." jawabku.
"Masih mau nyari bahan lain?" tanyanya.
"Nggak, mau liat-liat aja sambil wasting time. Lagian, disini kagak ada yang jual bahan lebih murah dan lebih banyak motifnya selain di Marbella."
"Ooo, mau ditemenin nggak?" tanyanya, seakan-akan dia masih hendak berterima kasih karena sudah aku berikan foto Maryana ke ponselnya.
"Nggak ah, kemana-mana berdua sama elu ngider pasar sini, entar gue dibilang homo lagi, hahaha." jawabku.
Kemudian kami tertawa bersama. Lalu kamipun berpisah di tempat penjual cendol tersebut. Ismail berjalan kembali ke tokonya sambil tersenyum-senyum melihat ponselnya. Aku pun berjalan menyusuri toko-toko yang kebanyakan menjual kain di salah satu tempat penjualan tekstil terbesar di daerah Tangerang ini.
Tangerang? Ya, Tangerang. Saya lebih cocok menamai tempat ini Jakarta Coret dibandingkan Tangerang. Kenapa? Karena dari tempat ini, ke segala fasilitas penunjang yang disediakan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta, relatif lebih dekat dibandingkan dengan fasilitas yang disediakan Pemerintah Kota Tangerang. Dari pasar ini, menuju ke pusat Pemerintahan Kota Jakarta Selatan hanya sejauh lebih kurang sepuluh kilometer, sedangkan ke pusat Pemerintahan Kota Tangerang berjarak sekitar lima belasan kilometer. Bila ada pemilihan kepala daerah, baik Propinsi Banten maupun Kota Tangerang, daerah ini terlupakan dari jangkauan kampanye mereka yang bertarung di pemilihan. Tidak hanya kampanye, dalam hal pembangunan, nampaknya daerah ini juga terlupakan.
Aku pernah menanyakan kepada Ismail yang kebetulan tinggal tepat di perbatasan Jakarta-Tangerang. Secara administrasi dan daerah, rumah Ismail masuk wilayah Kota Tangerang. Sedangkan tepat di seberang rumahnya, yang hanya dipisahkan jalan kelas III B(5), masuk wilayah Kota Jakarta Selatan. Perbedaan fasilitas dan pelayanan yang dia dapat di kelurahannya dan kelurahan tetangganya sangat jauh berbeda. Itu sangat dia rasakan terutama saat pergantian tampuk kepemimpinan Propinsi DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Waktu itu, tetangga seberang rumahnya yang baru saja pindah ke daerah itu, mengurus pembuatan kartu keluarga. Tetangganya sempat mengira bahwa rumahnya masuk wilayah Kota Tangerang. Tetangga tersebut sempat bertanya ke Ismail tentang tata cara pembuatan kartu keluarga di wilayahnya. Ismail sempat bercerita bahwa waktu itu, karena sistem kependudukan Kota Tangerang sempat terganggu, dia membutuhkan waktu hingga satu bulan untuk menunggu hingga kartu keluarganya jadi. Setelah tahu bahwa dia masuk wilayah Jakarta Selatan, tetangganya mencoba mengurus sendiri ke kelurahan tempat dia tinggal.
Esoknya, tetangga tersebut bercerita bahwa pengurusan kartu keluarga di wilayahnya hanya membutuhkan waktu dua puluh menit. Ya, dua puluh menit. Makanya tidak heran banyak warga sekitar rumah Ismail sangat berharap Pemerintah Propinsi DKI Jakarta mau memperluas wilayahnya hingga ke tempat dia tinggal.
Ironis memang, wilayah yang hanya dibedakan oleh jalan kelas III B tersebut sangat berbeda jauh pelayanannya. Tiba-tiba, terdengar suara notifikasi pesan masuk di ponselku. "Ah, rupanya necinya sudah selesai." pikirku. Sambil melangkahkan kaki menuju tempat tukang jahit berada, kunyalakan layar ponselku. Ternyata, bukan SMS dari penjahit. Kucermati lagi status bar di atas layar ponselku, rupanya terdapat notifikasi pesan di Facebook. Aku sapu kebawah status bar di layar ponselku, lalu aku buka pesan di Facebook tersebut.
Aku terkejut, siapa dia? Kenapa dia tahu namaku, sekolah SMU-ku, tahu bahwa aku pernah ke Jepang selama beberapa minggu. Siapa dia?
bersambung ....
Aku pernah menanyakan kepada Ismail yang kebetulan tinggal tepat di perbatasan Jakarta-Tangerang. Secara administrasi dan daerah, rumah Ismail masuk wilayah Kota Tangerang. Sedangkan tepat di seberang rumahnya, yang hanya dipisahkan jalan kelas III B(5), masuk wilayah Kota Jakarta Selatan. Perbedaan fasilitas dan pelayanan yang dia dapat di kelurahannya dan kelurahan tetangganya sangat jauh berbeda. Itu sangat dia rasakan terutama saat pergantian tampuk kepemimpinan Propinsi DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Waktu itu, tetangga seberang rumahnya yang baru saja pindah ke daerah itu, mengurus pembuatan kartu keluarga. Tetangganya sempat mengira bahwa rumahnya masuk wilayah Kota Tangerang. Tetangga tersebut sempat bertanya ke Ismail tentang tata cara pembuatan kartu keluarga di wilayahnya. Ismail sempat bercerita bahwa waktu itu, karena sistem kependudukan Kota Tangerang sempat terganggu, dia membutuhkan waktu hingga satu bulan untuk menunggu hingga kartu keluarganya jadi. Setelah tahu bahwa dia masuk wilayah Jakarta Selatan, tetangganya mencoba mengurus sendiri ke kelurahan tempat dia tinggal.
Esoknya, tetangga tersebut bercerita bahwa pengurusan kartu keluarga di wilayahnya hanya membutuhkan waktu dua puluh menit. Ya, dua puluh menit. Makanya tidak heran banyak warga sekitar rumah Ismail sangat berharap Pemerintah Propinsi DKI Jakarta mau memperluas wilayahnya hingga ke tempat dia tinggal.
Ironis memang, wilayah yang hanya dibedakan oleh jalan kelas III B tersebut sangat berbeda jauh pelayanannya. Tiba-tiba, terdengar suara notifikasi pesan masuk di ponselku. "Ah, rupanya necinya sudah selesai." pikirku. Sambil melangkahkan kaki menuju tempat tukang jahit berada, kunyalakan layar ponselku. Ternyata, bukan SMS dari penjahit. Kucermati lagi status bar di atas layar ponselku, rupanya terdapat notifikasi pesan di Facebook. Aku sapu kebawah status bar di layar ponselku, lalu aku buka pesan di Facebook tersebut.
Aku terkejut, siapa dia? Kenapa dia tahu namaku, sekolah SMU-ku, tahu bahwa aku pernah ke Jepang selama beberapa minggu. Siapa dia?
bersambung ....
Love at First Sight
Tahun 5 Hari 0
"Bhuuuu .... "
Cendol yang sudah masuk ke mulutku itu tiba-tiba kusemburkan lagi. Sambil terbatuk-batuk, aku menegaskan ke Ismail.
"Apa gue nggak salah dengar, Il?" tanyaku.
"Menurut lu gimana, Do? Sejak itu gue selalu kepikiran." jawab Ismail sambil wajahnya memerah.
"Ya itu sih hak elu, tapi apa nggak keburu-buru? Elu baru ketemu sekali itu doang, kan?" tanyaku menegaskan.
"Iya sih. Tolong lah, Do. Ajak dia kesini sekali lagi. Ya? Ya?" pinta Ismail merajuk.
"Yaaa, hari ini gue baru ambil barang, ini aja belum tau kapan bisa laku, masa gue belanja lagi?"
"Tolong lah Do ..."
"Ya udah," jawabku "tapi tunggu dia libur, ya?"
Ismail pun menjawab dengan mengangguk. Sebenarnya aku juga bingung menanggapi permintaan Ismail. Dua minggu sebelumnya, aku sudah belanja kain cukup banyak untuk aku jadikan jilbab dan kemudian aku jual secara online di internet.
Sebelum itu, aku hanya memilih kain dengan motif-motif yang menurutku lucu. Tetapi semuanya berubahketika negara api menyerang ketika salah seorang teman dari tetangga satu tempat kosku bertandang ke kos. Waktu itu, ketika dia melewati kamarku, dia penasaran dengan apa yang aku kerjakan. Rasa penasarannya itu membuatnya berhenti di depan kamarku yang kebetulan pintunya memang terbuka dan bertanya kepadaku.
"Sedang bungkus apa, Kak?" tanyanya.
"Sedang bungkus jilbab." kataku.
"Motifnya lucu, ya? Kakak jualan?" tanyanya.
"Iya, ini aku jual buat biaya hidup."
"Kok warnanya gini semua, Kak? Nggak ada warna lain, ya?"
"Emang kenapa sama warnanya?" tanyaku penasaran.
"Ini warnanya, buat sebagian besar orang, nggak bikin kulit wajah jadi cerah. Malah bikin kulit wajah kelihatan gelap." katanya.
"Emang gitu, ya?" timpalku.
"Iya, harusnya kakak cari warna-warna jilbab yang bisa bikin wajah lebih cerah." katanya menegaskan.
"Ooo, baru tau. Makasih ya sarannya." ucapku.
"Sama-sama." jawabnya "Mau dijual berapaan, Kak?"
"Lima puluh ribuan, udah termasuk ongkos kirim untuk wilayah Jabodetabek." jawabku "Kamu mau beli?"
"Hehehe, nggak punya uang, Kak." jawabnya sambil tersenyum.
Itulah awal pertemuanku dengan seorang gadis yang merupakan mahasiswi yang sedang mengenyam pendidikan di sekolah kedinasan di dekat tempat kosku. Mahasiswi berjilbab yang akhirnya aku ketahui bernama Maryana itu akhirnya sering main ke tempat kosku. Akhir dari pertemuan pertama ternyata membuka jalan untuk bisnis jilbab yang sedang aku coba kembangkan. Maryana membantuku memasarkan jilbab yang aku jual ke teman-temannya. Selain itu, dia juga membantuku memilihkan motif jilbab untuk dipasarkan. Dari situlah awal pertemuan Ismail dan Maryana dimulai, yaitu ketika aku ajak Maryana ke toko Ismail untuk memilihkan motif yang kira-kira sedang trend di kalangan pengguna jilbab.
Dua minggu yang lalu, ketika pertama Maryana aku ajak ke toko Ismail, memang Ismail terlihat tertarik padanya. Mereka memang sempat ngobrol, maklum, ketika itu, aku memang agak lama berada di toko Ismail. Siapa lagi kalau bukan karena Maryana. Dia begitu antusias memilih-milih kain untuk dibuat menjadi jilbab. Mumpung ada advisor, sekalian saja aku manfaatkan waktu dengan belanja lebih banyak, toh, kebetulan waktu itu aku sedang ada modal lebih.
Aku tidak tahu apa yang waktu itu Maryana dan Ismail bicarakan, tetapi sepertinya Ismail berharap bila aku datang kesana lagi, Maryana akan juga ikut datang bersamaku. Ah, aku jadi sadar alasan dia meneleponku pagi ini. Padahal biasanya, boro-boro dia menelepon.
Setelah itu, aku bercerita tentang bisnis yang sekarang sedang aku jalani kepada Ismail. Aku juga menceritakan sejauh apa hubunganku dengan Maryana. Maryana membantu menjualkan jilbabku. Dia menjualnya kepada teman-teman dan kenalannya. Aku memberinya harga grosir dan dia menjual ke pelanggannya dengan harga retail, yaitu harga yang sama dengan harga yang aku pasang di internet. Dari situ, aku terbantu dengan semakin larisnya daganganku, sedangkan Maryana juga merasakan manfaat dengan bertambahnya uang sakunya. Meski baru dua minggu ini aku jalani bisnis ini dengan Maryana, tetapi hasilnya sudah dapat terlihat. Aku juga memanfaatkan Maryana sebagai model untuk aku gunakan memasarkan dagangan jilbabku di internet.
Maryana yang keturunan sunda ini memang fotogenic. Pas sekali ketika menggunakan jilbab-jilbab daganganku. Semua motif jilbab pilihannya tidak ada yang tidak cocok dikenakan olehnya. "Seleranya bagus juga." pikirku kala itu.
"Boleh minta nggak, Do?" tanya Ismail.
"Hah? Minta apaan?" tanyaku.
"Fotonya Yana." jawabnya.
"Buat apaan? Mau diguna-gunain ya?" tanyaku sambil cengengesan.
"Nggak lah, Do. Buat disimpen aja di hape."
"Ambil sendiri di internet ya?" jawabku.
"Males ke warnet nih hehehe. Transfer ke hape-ku aja pake bluetooth, ya?" pintanya.
"Ya udah, sini!" jawabku.
Lalu aku ambil ponsel Ismail yang bersistem operasi Android Ice Cream Sandwich itu sembari aku keluarkan ponselku dari dalam tas.
"Hape elu gede amat, Do. Kayak batu bata. Cocok buat ngelempar anjing, hehehe." cela Ismail.
"Biarin, hape layar 5,3 inci gini enak buat nonton pilem XXX." kataku.
"Wah, elu koleksi film gituan, ya?" tanya Ismail.
"XXX?" tanyaku menegaskan.
"Ho oh." katanya.
"Mau liat? Aku setelin, ya?" kataku memastikan.
"HAH? Bego, Lu! Masak nyetel gituan dimari?" tanyanya kaget.
Aku mengacuhkan ucapan Ismail tadi dan tetap mengarahkan jariku untuk membuka aplikasi Root Explorer(3). Lalu aku arahkan aplikasi tersebut untuk membuka ke folder "sdcard/movie". Kemudian aku pilih file berjudul "XXX (2002) 480p.mkv" tersebut. Si Ismail terkejut, dia mengira aku main-main dengan omonganku barusan. Lalu, terputarlah film tersebut. Muncul lah sosok yang dikenal Ismail dalam film tersebut, yaitu Vin Diesel. Ismail seketika menepuk dahinya.
bersambung ....
"Bhuuuu .... "
Cendol yang sudah masuk ke mulutku itu tiba-tiba kusemburkan lagi. Sambil terbatuk-batuk, aku menegaskan ke Ismail.
"Apa gue nggak salah dengar, Il?" tanyaku.
"Menurut lu gimana, Do? Sejak itu gue selalu kepikiran." jawab Ismail sambil wajahnya memerah.
"Ya itu sih hak elu, tapi apa nggak keburu-buru? Elu baru ketemu sekali itu doang, kan?" tanyaku menegaskan.
"Iya sih. Tolong lah, Do. Ajak dia kesini sekali lagi. Ya? Ya?" pinta Ismail merajuk.
"Yaaa, hari ini gue baru ambil barang, ini aja belum tau kapan bisa laku, masa gue belanja lagi?"
"Tolong lah Do ..."
"Ya udah," jawabku "tapi tunggu dia libur, ya?"
Ismail pun menjawab dengan mengangguk. Sebenarnya aku juga bingung menanggapi permintaan Ismail. Dua minggu sebelumnya, aku sudah belanja kain cukup banyak untuk aku jadikan jilbab dan kemudian aku jual secara online di internet.
Sebelum itu, aku hanya memilih kain dengan motif-motif yang menurutku lucu. Tetapi semuanya berubah
"Sedang bungkus apa, Kak?" tanyanya.
"Sedang bungkus jilbab." kataku.
"Motifnya lucu, ya? Kakak jualan?" tanyanya.
"Iya, ini aku jual buat biaya hidup."
"Kok warnanya gini semua, Kak? Nggak ada warna lain, ya?"
"Emang kenapa sama warnanya?" tanyaku penasaran.
"Ini warnanya, buat sebagian besar orang, nggak bikin kulit wajah jadi cerah. Malah bikin kulit wajah kelihatan gelap." katanya.
"Emang gitu, ya?" timpalku.
"Iya, harusnya kakak cari warna-warna jilbab yang bisa bikin wajah lebih cerah." katanya menegaskan.
"Ooo, baru tau. Makasih ya sarannya." ucapku.
"Sama-sama." jawabnya "Mau dijual berapaan, Kak?"
"Lima puluh ribuan, udah termasuk ongkos kirim untuk wilayah Jabodetabek." jawabku "Kamu mau beli?"
"Hehehe, nggak punya uang, Kak." jawabnya sambil tersenyum.
Itulah awal pertemuanku dengan seorang gadis yang merupakan mahasiswi yang sedang mengenyam pendidikan di sekolah kedinasan di dekat tempat kosku. Mahasiswi berjilbab yang akhirnya aku ketahui bernama Maryana itu akhirnya sering main ke tempat kosku. Akhir dari pertemuan pertama ternyata membuka jalan untuk bisnis jilbab yang sedang aku coba kembangkan. Maryana membantuku memasarkan jilbab yang aku jual ke teman-temannya. Selain itu, dia juga membantuku memilihkan motif jilbab untuk dipasarkan. Dari situlah awal pertemuan Ismail dan Maryana dimulai, yaitu ketika aku ajak Maryana ke toko Ismail untuk memilihkan motif yang kira-kira sedang trend di kalangan pengguna jilbab.
Dua minggu yang lalu, ketika pertama Maryana aku ajak ke toko Ismail, memang Ismail terlihat tertarik padanya. Mereka memang sempat ngobrol, maklum, ketika itu, aku memang agak lama berada di toko Ismail. Siapa lagi kalau bukan karena Maryana. Dia begitu antusias memilih-milih kain untuk dibuat menjadi jilbab. Mumpung ada advisor, sekalian saja aku manfaatkan waktu dengan belanja lebih banyak, toh, kebetulan waktu itu aku sedang ada modal lebih.
Aku tidak tahu apa yang waktu itu Maryana dan Ismail bicarakan, tetapi sepertinya Ismail berharap bila aku datang kesana lagi, Maryana akan juga ikut datang bersamaku. Ah, aku jadi sadar alasan dia meneleponku pagi ini. Padahal biasanya, boro-boro dia menelepon.
Setelah itu, aku bercerita tentang bisnis yang sekarang sedang aku jalani kepada Ismail. Aku juga menceritakan sejauh apa hubunganku dengan Maryana. Maryana membantu menjualkan jilbabku. Dia menjualnya kepada teman-teman dan kenalannya. Aku memberinya harga grosir dan dia menjual ke pelanggannya dengan harga retail, yaitu harga yang sama dengan harga yang aku pasang di internet. Dari situ, aku terbantu dengan semakin larisnya daganganku, sedangkan Maryana juga merasakan manfaat dengan bertambahnya uang sakunya. Meski baru dua minggu ini aku jalani bisnis ini dengan Maryana, tetapi hasilnya sudah dapat terlihat. Aku juga memanfaatkan Maryana sebagai model untuk aku gunakan memasarkan dagangan jilbabku di internet.
Maryana yang keturunan sunda ini memang fotogenic. Pas sekali ketika menggunakan jilbab-jilbab daganganku. Semua motif jilbab pilihannya tidak ada yang tidak cocok dikenakan olehnya. "Seleranya bagus juga." pikirku kala itu.
"Boleh minta nggak, Do?" tanya Ismail.
"Hah? Minta apaan?" tanyaku.
"Fotonya Yana." jawabnya.
"Buat apaan? Mau diguna-gunain ya?" tanyaku sambil cengengesan.
"Nggak lah, Do. Buat disimpen aja di hape."
"Ambil sendiri di internet ya?" jawabku.
"Males ke warnet nih hehehe. Transfer ke hape-ku aja pake bluetooth, ya?" pintanya.
"Ya udah, sini!" jawabku.
Lalu aku ambil ponsel Ismail yang bersistem operasi Android Ice Cream Sandwich itu sembari aku keluarkan ponselku dari dalam tas.
"Hape elu gede amat, Do. Kayak batu bata. Cocok buat ngelempar anjing, hehehe." cela Ismail.
"Biarin, hape layar 5,3 inci gini enak buat nonton pilem XXX." kataku.
"Wah, elu koleksi film gituan, ya?" tanya Ismail.
"XXX?" tanyaku menegaskan.
"Ho oh." katanya.
"Mau liat? Aku setelin, ya?" kataku memastikan.
"HAH? Bego, Lu! Masak nyetel gituan dimari?" tanyanya kaget.
Aku mengacuhkan ucapan Ismail tadi dan tetap mengarahkan jariku untuk membuka aplikasi Root Explorer(3). Lalu aku arahkan aplikasi tersebut untuk membuka ke folder "sdcard/movie". Kemudian aku pilih file berjudul "XXX (2002) 480p.mkv" tersebut. Si Ismail terkejut, dia mengira aku main-main dengan omonganku barusan. Lalu, terputarlah film tersebut. Muncul lah sosok yang dikenal Ismail dalam film tersebut, yaitu Vin Diesel. Ismail seketika menepuk dahinya.
bersambung ....
Sunday, September 15, 2013
Jilbab
Tahun 5 Hari 0
"Mas, parkir sini mas." ucap salah seorang tukang parkir.
"Mas, parkir sini mas." ucap salah seorang tukang parkir.
"Saya parkir disana, Pak. Udah langganan." timpalku.
Setelah memarkir motor, aku langsung beranjak ke toko kain itu. Tidak nampak yang aku cari, lalu seseorang menepuk bahuku.
"Mas Dodo, kok baru dateng. Tadi ditungguin Mas Mail tuh." ucap orang tersebut. Ternyata yang menepuk adalah Titi. Titi masih terhitung baru di toko ini, kira-kira baru satu atau dua bulan dia bekerja disini. "Mailnya mana, Ti?" tanyaku. "Lagi nganter jahitan kayaknya, tadi sih ada." jawabnya.
Sembari menunggu Mail, aku obrak-abrik gulungan kain di depan toko tersebut, mencari-cari motif yang unik yang bisa dijual.
"Yang ini sama kan ama yang kemarin-kemarin?" tanyaku pada Titi.
"Sama mas, tadi Mas Mail pesen katanya disamain aja. Mas Dodo kan udah langganan disini." jawabnya.
Setelah aku memilah-milah motif, aku mengambil lima motif yang menurutku menarik.
"Do, si Yana nggak diajak?" tiba-tiba suara seseorang yang tidak asing bertanya kepadaku.
"Eh, Il. Maaf ya, soal yang tadi."
"Nggak apa-apa, Do. Tumben sendirian?" tanya Mail.
"Hehehe, si Yana kan kuliah, Il. Masa gue eret-eret kesini. Kenapa? Kangen, ya?" tanyaku sedikit menggodanya. Ismail hanya tersenyum simpul. "Elu beneran kan nggak pacaran sama dia?" tanya Ismail penasaran.
"Ya ALLAH, Il. Ngapain juga gue bohong. Orang gue sama dia cuma sebatas kakak-adik doang kok. Lagipula, hubunganku dengan dia lebih ke arah bisnis." jawabku meyakinkan Ismail.
Ismail pun tersenyum puas atas jawabanku. Lalu dengan cekatan, Ismail meraih gunting diatas tumpukan kain dan mulai memotong kain pesananku.
"Kayak biasanya kan? Dua kali 180 senti terus lebarnya dibagi dua?" tanyanya.
"Iya, tuh udah apal." jawabku.
Setelah selesai memotong pesananku, aku menyerahkan beberapa lembar uang kepada Ismail.
"Elu temenin gue nganter ke tempat neci(2) ya, Il?" tanyaku.
"Laaahh, kan udah tau tempatnya. Kesana sendiri napa? Manja amat." jawabnya.
"Udahlah, elu temenin aja ya kesana, bawel amat, tinggal nemenin ini. Disini kan udah ada Titi yang jagain, lagian belum rame-rame amat tokonya." kataku meyakinkan.
"Ya udah deh." jawabnya.
Lalu, kami berdua beranjak ke seberang toko dimana Ismail bekerja. Kami mengunjungi sebuah tempat jahit pakaian. Disana ada tiga pekerja yang salah satunya adalah pemilik tempat jahit pakaian tersebut.
"Mas Mail mau jahit lagi?" tanya pemilik tempat tersebut.
"Neci doang kok, Pak." jawab Ismail.
"Oh, mas ini lagi. Mau neci ya, Mas?" tanya salah seorang pegawai tempat jahit tersebut.
"Iya, Mas," jawabku "tapi nggak usah buru-buru koq, santai saja."
"Kamu kenal?" tanya pemilik tempat tersebut.
"Kenal, Pak." jawab pegawai itu "Mas ini udah sering neci disini, tapi akhir-akhir ini agak jarang kesini ya, Mas?" tanyanya.
"Lagi agak sepi nih, kayaknya udah banyak banget yang jualan ya? Bingung gue mesti promosi gimana lagi." jawabku.
"Ooo, ya udah. Tapi tunggu setengah sampai satu jam ya, Mas?" ucap pemilik tempat tersebut.
"Iya, Pak. Nggak apa-apa." jawabku.
Lalu, bapak pemilik tempat tersebut mengambil kain yang tadi aku beli di toko tempat Ismail bekerja. "Ada dua puluh potong ya, Mas?" tanyanya. "Iya, Pak." jawabku. "Harganya seperti biasa aja ya, Pak." ucap Ismail kepada pemilik tempat tersebut. "Iya, Mas Mail. Tenang aja hehehe." jawabnya.
"Saya tinggal dulu ya, Pak? Nanti kalau sudah selesai di SMS saja." ucapku.
"Iya, Mas. Nomor henpon-nya berapa mas?" tanya pemilik tempat jahit itu.
"Saya ada nomornya, Pak. Nanti biar saya saja yang SMS." jawab pekerja yang sudah hafal dengan mukaku itu.
"Oke kalau begitu." ucap pemilik tempat tersebut.
Lalu aku dan Ismail beranjak meninggalkan tempat jahit tersebut.
"Udah makan belum, Il?" tanyaku pada Ismail.
"Udah lah, emang elu yang bangun siang sampe gak sempet sarapan?" jawabnya.
"Hehehe," aku tertawa nyengir "makan cendol, yuk?" tanyaku "Aku yang bayarin."
"Serius, nih?" tanyanya. "Ho oh." jawabku.
Lalu tanpa dikomando, kami berdua meluncur ke tempat penjual cendol.
"Dua ya, Bang!" ujarku kepada abang penjual cendol. Tanpa menjawab, penjual cendol langsung dengan cekatan menyiapkan pesanan. Sembari menunggu cendol disiapkan oleh penjual, Ismail bertanya kepadaku.
"Gimana bisnismu, Do?" tanyanya.
"Alhamdulillah, disyukurin aja Il. Alhamdulillah buat hidup sehari-hari cukup." jawabku.
"Emang bisnis apa aja sih selain jualan jilbab?" tanya Ismail penasaran.
Ya, sejak lima tahun yang lalu, aku memilih hidup sebagai wiraswasta dengan modal seadanya. Tujuanku adalah untuk membuktikan, setelah kasus yang menimpaku itu, aku bisa hidup sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Aku nekat meninggalkan kampung halamanku dan orang tua serta keluargaku yang sudah tidak mau mengakui keberadaanku lagi.
bersambung ....
5 Tahun
Tahun 5 Hari 0
奇麗な月の光が
始まりへと沈み行く....(1)
Tiba-tiba kata-kata itu mengalun indah, membangunkanku dari mimpi. Aku usap mata ini sembari melongok ponsel bertenaga prosesor empat inti tersebut. Ternyata, Ismail yang menelepon.
"Do, masih tidur ya?" kata Ismail di seberang sana.
"Ya iyalah, emang elu pikir ini jam berapa?" jawabku.
"Jadi kesini nggak, Do? Nanti keburu habis loh." timpalnya.
"Emang pagi buta gini, toko sudah buka?" jawabku sedikit marah.
"Ya ALLAH, ini udah jam 9 woi!" jawabnya dengan marah.
Seketika itu juga aku melompat dari tempat tidur sembari dalam hati berucap "Astaghfirullah". Lalu akupun memohon maaf kepada Ismail dan bilang akan segera kesana. Menyadari hari sudah siang, langsung aku bergegas menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Ya, sholat subuh. Telat banget! Namanya juga ketiduran. "Ah, ini urusan ALLAH sama hambanya." pikirku.
Setelah selesai sholat, langsung kuraih handuk di jemuran, dan menyadari tempat kos sudah sepi. "Sudah siang juga sih, pantas saja sepi." pikirku. Aku tinggal di rumah kos dengan dua belas kamar yang sebagian besar penghuninya adalah mahasiswa sekolah kedinasan yang ada di sekitar sini. Sebagian lainnya adalah alumni mahasiswa dari sekolah kedinasan itu, yang masih betah tinggal disekitar kampus walaupun mereka bekerja lumayan jauh dari sini.
Setelah selesai mandi dan berganti baju, aku hidupkan motor berkapasitas 0,1 liter itu. "Brum!" suara motor berhasil kunyalakan dengan kick starter. "Sudah lama starter elektriknya mati, apakah harus aku betulkan?" pikirku. "Ah, biarin, masih bisa di-starter manual ini." sisi lain pikiranku menimpali. Lalu aku berjalan ke kamar pengurus kos.
奇麗な月の光が
始まりへと沈み行く....(1)
Tiba-tiba kata-kata itu mengalun indah, membangunkanku dari mimpi. Aku usap mata ini sembari melongok ponsel bertenaga prosesor empat inti tersebut. Ternyata, Ismail yang menelepon.
"Do, masih tidur ya?" kata Ismail di seberang sana.
"Ya iyalah, emang elu pikir ini jam berapa?" jawabku.
"Jadi kesini nggak, Do? Nanti keburu habis loh." timpalnya.
"Emang pagi buta gini, toko sudah buka?" jawabku sedikit marah.
"Ya ALLAH, ini udah jam 9 woi!" jawabnya dengan marah.
Seketika itu juga aku melompat dari tempat tidur sembari dalam hati berucap "Astaghfirullah". Lalu akupun memohon maaf kepada Ismail dan bilang akan segera kesana. Menyadari hari sudah siang, langsung aku bergegas menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Ya, sholat subuh. Telat banget! Namanya juga ketiduran. "Ah, ini urusan ALLAH sama hambanya." pikirku.
Setelah selesai sholat, langsung kuraih handuk di jemuran, dan menyadari tempat kos sudah sepi. "Sudah siang juga sih, pantas saja sepi." pikirku. Aku tinggal di rumah kos dengan dua belas kamar yang sebagian besar penghuninya adalah mahasiswa sekolah kedinasan yang ada di sekitar sini. Sebagian lainnya adalah alumni mahasiswa dari sekolah kedinasan itu, yang masih betah tinggal disekitar kampus walaupun mereka bekerja lumayan jauh dari sini.
Setelah selesai mandi dan berganti baju, aku hidupkan motor berkapasitas 0,1 liter itu. "Brum!" suara motor berhasil kunyalakan dengan kick starter. "Sudah lama starter elektriknya mati, apakah harus aku betulkan?" pikirku. "Ah, biarin, masih bisa di-starter manual ini." sisi lain pikiranku menimpali. Lalu aku berjalan ke kamar pengurus kos.
"Bu, saya nitip motor, ya? Mau cari sarapan dulu."
"Iya, Do." jawabnya.
Lalu aku beranjak dari kosan dan berjalan menuju warung tegal di sisi ujung jalan kosanku.
"Makan sini, bungkus?" ucap teteh penjual di warung tersebut.
"Makan sini aja teh." timpalku.
"Sama apa?"
"Nasinya setengah aja teh, sama sop, orek, mi, sama telur ceplok pedes."
Setelah kuterima piring berisi pesananku tadi, aku langsung mengambil teh tawar yang sudah tersedia di sisi lain meja warung tersebut. Soal makanan, aku memang tidak pilih-pilih. Apa saja asal halal, tidak basi dan eatable, pasti aku makan, walaupun itu adalah nasi kuning kotakan yang sudah dua hari yang lalu. Ini karena aku sudah terbiasa, tepatnya sejak lebih dari lima tahun yang lalu. Sudah lima tahun ini, setiap pagi, aku lalui hari-hariku seperti ini. Tentunya, tidak setiap hari aku bangun hingga sesiang ini.
bersambung ....
bersambung ....
Subscribe to:
Comments (Atom)