Sunday, September 15, 2013

Jilbab

Tahun 5 Hari 0

"Mas, parkir sini mas." ucap salah seorang tukang parkir.
"Saya parkir disana, Pak. Udah langganan." timpalku.

Setelah memarkir motor, aku langsung beranjak ke toko kain itu. Tidak nampak yang aku cari, lalu seseorang menepuk bahuku.

"Mas Dodo, kok baru dateng. Tadi ditungguin Mas Mail tuh." ucap orang tersebut. Ternyata yang menepuk adalah Titi. Titi masih terhitung baru di toko ini, kira-kira baru satu atau dua bulan dia bekerja disini. "Mailnya mana, Ti?" tanyaku. "Lagi nganter jahitan kayaknya, tadi sih ada." jawabnya.

Sembari menunggu Mail, aku obrak-abrik gulungan kain di depan toko tersebut, mencari-cari motif yang unik yang bisa dijual.

"Yang ini sama kan ama yang kemarin-kemarin?" tanyaku pada Titi.
"Sama mas, tadi Mas Mail pesen katanya disamain aja. Mas Dodo kan udah langganan disini." jawabnya.

Setelah aku memilah-milah motif, aku mengambil lima motif yang menurutku menarik.

"Do, si Yana nggak diajak?" tiba-tiba suara seseorang yang tidak asing bertanya kepadaku.
"Eh, Il. Maaf ya, soal yang tadi."
"Nggak apa-apa, Do. Tumben sendirian?" tanya Mail.
"Hehehe, si Yana kan kuliah, Il. Masa gue eret-eret kesini. Kenapa? Kangen, ya?" tanyaku sedikit menggodanya. Ismail hanya tersenyum simpul. "Elu beneran kan nggak pacaran sama dia?" tanya Ismail penasaran.

"Ya ALLAH, Il. Ngapain juga gue bohong. Orang gue sama dia cuma sebatas kakak-adik doang kok. Lagipula, hubunganku dengan dia lebih ke arah bisnis." jawabku meyakinkan Ismail.
Ismail pun tersenyum puas atas jawabanku. Lalu dengan cekatan, Ismail meraih gunting diatas tumpukan kain dan mulai memotong kain pesananku.

"Kayak biasanya kan? Dua kali 180 senti terus lebarnya dibagi dua?" tanyanya.
"Iya, tuh udah apal." jawabku.

Setelah selesai memotong pesananku, aku menyerahkan beberapa lembar uang kepada Ismail.
"Elu temenin gue nganter ke tempat neci(2) ya, Il?" tanyaku.
"Laaahh, kan udah tau tempatnya. Kesana sendiri napa? Manja amat." jawabnya.
"Udahlah, elu temenin aja ya kesana, bawel amat, tinggal nemenin ini. Disini kan udah ada Titi yang jagain, lagian belum rame-rame amat tokonya." kataku meyakinkan.
"Ya udah deh." jawabnya.

Lalu, kami berdua beranjak ke seberang toko dimana Ismail bekerja. Kami mengunjungi sebuah tempat jahit pakaian. Disana ada tiga pekerja yang salah satunya adalah pemilik tempat jahit pakaian tersebut.

"Mas Mail mau jahit lagi?" tanya pemilik tempat tersebut.
"Neci doang kok, Pak." jawab Ismail.
"Oh, mas ini lagi. Mau neci ya, Mas?" tanya salah seorang pegawai tempat jahit tersebut.
"Iya, Mas," jawabku "tapi nggak usah buru-buru koq, santai saja."
"Kamu kenal?" tanya pemilik tempat tersebut.
"Kenal, Pak." jawab pegawai itu "Mas ini udah sering neci disini, tapi akhir-akhir ini agak jarang kesini ya, Mas?" tanyanya.
"Lagi agak sepi nih, kayaknya udah banyak banget yang jualan ya? Bingung gue mesti promosi gimana lagi." jawabku.
"Ooo, ya udah. Tapi tunggu setengah sampai satu jam ya, Mas?" ucap pemilik tempat tersebut.
"Iya, Pak. Nggak apa-apa." jawabku.

Lalu, bapak pemilik tempat tersebut mengambil kain yang tadi aku beli di toko tempat Ismail bekerja. "Ada dua puluh potong ya, Mas?" tanyanya. "Iya, Pak." jawabku. "Harganya seperti biasa aja ya, Pak." ucap Ismail kepada pemilik tempat tersebut. "Iya, Mas Mail. Tenang aja hehehe." jawabnya.

"Saya tinggal dulu ya, Pak? Nanti kalau sudah selesai di SMS saja." ucapku.
"Iya, Mas. Nomor henpon-nya berapa mas?" tanya pemilik tempat jahit itu.
"Saya ada nomornya, Pak. Nanti biar saya saja yang SMS." jawab pekerja yang sudah hafal dengan mukaku itu.
"Oke kalau begitu." ucap pemilik tempat tersebut.

Lalu aku dan Ismail beranjak meninggalkan tempat jahit tersebut.

"Udah makan belum, Il?" tanyaku pada Ismail.
"Udah lah, emang elu yang bangun siang sampe gak sempet sarapan?" jawabnya.
"Hehehe," aku tertawa nyengir "makan cendol, yuk?" tanyaku "Aku yang bayarin."
"Serius, nih?" tanyanya. "Ho oh." jawabku.

Lalu tanpa dikomando, kami berdua meluncur ke tempat penjual cendol.

"Dua ya, Bang!" ujarku kepada abang penjual cendol. Tanpa menjawab, penjual cendol langsung dengan cekatan menyiapkan pesanan. Sembari menunggu cendol disiapkan oleh penjual, Ismail bertanya kepadaku.

"Gimana bisnismu, Do?" tanyanya.
"Alhamdulillah, disyukurin aja Il. Alhamdulillah buat hidup sehari-hari cukup." jawabku.
"Emang bisnis apa aja sih selain jualan jilbab?" tanya Ismail penasaran.

Ya, sejak lima tahun yang lalu, aku memilih hidup sebagai wiraswasta dengan modal seadanya. Tujuanku adalah untuk membuktikan, setelah kasus yang menimpaku itu, aku bisa hidup sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Aku nekat meninggalkan kampung halamanku dan orang tua serta keluargaku yang sudah tidak mau mengakui keberadaanku lagi.

bersambung ....

No comments:

Post a Comment