Monday, September 16, 2013

Daerah yang Terlupakan

Tahun 5 Hari 0

"Berapa, Bang?" tanyaku pada penjual cendol.
"Sepuluh ribu."

Lalu aku mengeluarkan dua lembar uang bergambar Tuanku Imam Bonjol dari saku depan tasku.

"Udah, gue aja!" tiba-tiba Ismail menampik tanganku yang hendak memberikan uang tersebut kepada abang penjual cendol. Entah apa motivasinya, karena seingatku, akulah yang berjanji menraktirnya karena sikap kasarku pagi itu. Seketika, akupun tersadar. Nampaknya dia ingin berterima kasih karena sudah aku berikan foto Maryana ke ponselnya.

"Udah, nggak usah dipikirin. Nggak apa-apa kok." kata Ismail.
"Hehehe, makasih, ya?" jawabku tersenyum.
"Yuk, ke toko dulu aja, sambil nungguin necinya selesai." ajaknya.
"Nggak ah. Gue mau liat-liat ke lapak lain." jawabku.
"Masih mau nyari bahan lain?" tanyanya.
"Nggak, mau liat-liat aja sambil wasting time. Lagian, disini kagak ada yang jual bahan lebih murah dan lebih banyak motifnya selain di Marbella."
"Ooo, mau ditemenin nggak?" tanyanya, seakan-akan dia masih hendak berterima kasih karena sudah aku berikan foto Maryana ke ponselnya.
"Nggak ah, kemana-mana berdua sama elu ngider pasar sini, entar gue dibilang homo lagi, hahaha." jawabku.

Kemudian kami tertawa bersama. Lalu kamipun berpisah di tempat penjual cendol tersebut. Ismail berjalan kembali ke tokonya sambil tersenyum-senyum melihat ponselnya. Aku pun berjalan menyusuri toko-toko yang kebanyakan menjual kain di salah satu tempat penjualan tekstil terbesar di daerah Tangerang ini.

Tangerang? Ya, Tangerang. Saya lebih cocok menamai tempat ini Jakarta Coret dibandingkan Tangerang. Kenapa? Karena dari tempat ini, ke segala fasilitas penunjang yang disediakan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta, relatif lebih dekat dibandingkan dengan fasilitas yang disediakan Pemerintah Kota Tangerang. Dari pasar ini, menuju ke pusat Pemerintahan Kota Jakarta Selatan hanya sejauh lebih kurang sepuluh kilometer, sedangkan ke pusat Pemerintahan Kota Tangerang berjarak sekitar lima belasan kilometer. Bila ada pemilihan kepala daerah, baik Propinsi Banten maupun Kota Tangerang, daerah ini terlupakan dari jangkauan kampanye mereka yang bertarung di pemilihan. Tidak hanya kampanye, dalam hal pembangunan, nampaknya daerah ini juga terlupakan.

Aku pernah menanyakan kepada Ismail yang kebetulan tinggal tepat di perbatasan Jakarta-Tangerang. Secara administrasi dan daerah, rumah Ismail masuk wilayah Kota Tangerang. Sedangkan tepat di seberang rumahnya, yang hanya dipisahkan jalan kelas III B(5), masuk wilayah Kota Jakarta Selatan. Perbedaan fasilitas dan pelayanan yang dia dapat di kelurahannya dan kelurahan tetangganya sangat jauh berbeda. Itu sangat dia rasakan terutama saat pergantian tampuk kepemimpinan Propinsi DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Waktu itu, tetangga seberang rumahnya yang baru saja pindah ke daerah itu, mengurus pembuatan kartu keluarga. Tetangganya sempat mengira bahwa rumahnya masuk wilayah Kota Tangerang. Tetangga tersebut sempat bertanya ke Ismail tentang tata cara pembuatan kartu keluarga di wilayahnya. Ismail sempat bercerita bahwa waktu itu, karena sistem kependudukan Kota Tangerang sempat terganggu, dia membutuhkan waktu hingga satu bulan untuk menunggu hingga kartu keluarganya jadi. Setelah tahu bahwa dia masuk wilayah Jakarta Selatan, tetangganya mencoba mengurus sendiri ke kelurahan tempat dia tinggal.

Esoknya, tetangga tersebut bercerita bahwa pengurusan kartu keluarga di wilayahnya hanya membutuhkan waktu dua puluh menit. Ya, dua puluh menit. Makanya tidak heran banyak warga sekitar rumah Ismail sangat berharap Pemerintah Propinsi DKI Jakarta mau memperluas wilayahnya hingga ke tempat dia tinggal.

Ironis memang, wilayah yang hanya dibedakan oleh jalan kelas III B tersebut sangat berbeda jauh pelayanannya. Tiba-tiba, terdengar suara notifikasi pesan masuk di ponselku. "Ah, rupanya necinya sudah selesai." pikirku. Sambil melangkahkan kaki menuju tempat tukang jahit berada, kunyalakan layar ponselku. Ternyata, bukan SMS dari penjahit. Kucermati lagi status bar di atas layar ponselku, rupanya terdapat notifikasi pesan di Facebook. Aku sapu kebawah status bar di layar ponselku, lalu aku buka pesan di Facebook tersebut.

Aku terkejut, siapa dia? Kenapa dia tahu namaku, sekolah SMU-ku, tahu bahwa aku pernah ke Jepang selama beberapa minggu. Siapa dia?

bersambung ....

No comments:

Post a Comment