Tahun 5 Hari 253
Entah sejak kapan pikiranku teracuni, saat ini, aku sudah berpakaian rapi di Sabtu pagi.
"Urunan naik taksi aja yuk, Mas?" tanya Aldi.
"Kan nggak lucu nyampe sana lecek gara-gara kena polusi pas naik motor, hehehe." kata Aldi tertawa.
Saran Aldi tidak dapat aku tolak, memang begitu kenyataannya. Nggak lucu kalau ketemu idola tapi keadaan sudah acak-adut.
"Ya udah deh." jawabku "Siapa aja yang mau bareng?"
"Tedy sama Trias, Mas." jawab Aldi.
"Bagus lah." pikirku. Lumayan menghemat kalau ongkos taksinya dibagi empat orang. Meski sedikit lebih mahal daripada hitung-hitungan naik motor, tapi yang penting sampai di sana tidak kucel berbonus stres. Aku memang terbiasa memperhitungkan segala pengeluaranku. Tentu, aku tidak mau selamanya kos dan hanya punya motor. Aku kedepan pasti juga akan punya keluarga sendiri, memiliki istri dan anak-anak yang lucu. "Ah, kapan gue kawin?" pikirku "Mau tinggal dimana setelah kawin? Apa gue masih kerja kayak gini sampai besok-besok?" semua pikiran kedepan itu selalu menghantuiku.
"Waaah, Mas Dodo keren euy!" tiba-tiba Tedy sudah berdiri di depan pintu kamarku "Pasti Nao-chan klepek-klepek nih kalau liat Mas Dodo!" imbuhnya.
Seketika, Aldi ikut tertawa bersama Tedy. Entah apa yang ada di pikiran mereka tentang penampilanku pagi itu. Menggunakan celana jeans warna coklat muda model permanent press dengan nomor 30 yang agak kedodoran, kaos V-neck warna putih dan jaket hitam semi formal serta sepatu sneakers merk lokal, sepertinya penampilanku hari itu biasa saja. Memang sehari-hari, ketika aku berkutat dengan bisnisku, aku lebih suka menggunakan kaos oblong dan celana tiga perempat serta sandal jepit warna biru. Walau sehari-hari hanya mengenakan celana tiga perempat, aku tidak takut untuk sholat, karena sarungku selalu tersedia di tasku kemanapun aku pergi.
"Ah, iya. Hari ini gue nggak bawa tas. Terus hape gue gimana??" pikirku "Oh iya, ada saku di sisi atas bagian dalam jaket! Aman!" seketika akupun lega. Membawa ponsel dengan ukuran layar diatas lima inci memang agak menghambat mobilitasku. Meski menghambat mobilitas, aku masih mengandalkan ponsel itu untuk segala aktifitas, termasuk bisnisku.
"Udah siap, Mas? Berangkat sekarang, yuk?" tiba-tiba Trias muncul dari balik jendela kamar kosku. Pria asal Kebumen itu juga sudah berpakaian rapi sama seperti dua temannya. Hari ini, penampilan mereka berbeda dari biasanya. Nampaknya mereka berusaha berpenampilan semaksimal mungkin. Bahkan, semalam Aldi tampaknya memborong beberapa baju merek terkemuka dari salah satu mal di bilangan Pondok Indah.
"Yuk, berangkat sekarang." kataku. Setelah aku mengunci kamarku, aku meluncur ke tempat pengurus kos.
"Bu, saya pergi dulu, ya? Nitip motor, ya?"
"Iya, Do. Ati-ati. Motornya udah dikunci kan rem cakramnya?" tanya Ibu pengurus kos.
"Udah, Bu. Kunci kamarnya saya bawa, ya?" jawabku.
"Iya, ati-ati. Si Aldi jadi ikut?"
"Saya ikut, Bu." sahut Aldi dari kejauhan.
Ibu pengurus kos lalu keluar dari ruangannya, "Wah, tumben pada ganteng-ganteng. Pada mau kemana? Pacaran, ya?" tanyanya.
Seketika kami berempat tertawa bersama. "Mau nganterin Mas Dodo ngelamar anak orang, Bu." jawab Tedy.
"Ooo, yang fotonya ada di laptopnya Dodo, ya?" tanya Ibu pengurus kos.
"Iyaaa." serempak Aldi, Tedy dan Trias kompak menjawab sambil tertawa.
"Amiin!" kataku dalam hati. Foto siapa lagi yang jadi wallpaper laptopku kalau bukan foto Nao-chan. "Pacaran sama Nao-chan? Siapapun juga mau! Termasuk gue!" pikirku
Lalu kami semua beranjak dari tempat kosku dan Aldi. Ya, Aldi adalah teman satu kosku. Dia bekerja di sebuah instansi di bilangan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Begitu pula Tedy dan Trias, juga bekerja di tempat yang sama. Tetapi mereka berbeda tempat kos dengan kami.
Tanpa sadar, kami sudah berada di tepi jalan. Kami pun mulai menunggu taksi lewat yang berminat mengantar empat anggota boyband ini ke tempat tujuannya.
"Naik taksi apa nih, Mas" tanya Aldi padaku.
"Apa aja lah, asal taksi yang bener." jawabku.
Akhirnya sebuah taksi berhenti di depan kami setelah Aldi melambaikan tangannya, tanda memintanya mengantar ke suatu tempat. Lalu kami berempat langsung naik. Aldi langsung berinisiatif duduk di depan samping pengemudi taksi yang berlambang seperti media sosial Twitter tersebut. Dia sadar bahwa badannya yang subur itu bakal mengganggu bila dia duduk dengan kedua temannya di bagian belakang. Lalu, taksi itupun meluncur membawa kami berempat.
"Selamat pagi. Maaf, tujuannya kemana?" tanya pengemudi tersebut dengan sopan.
"fX Sudirman!" jawab kami kompak.
bersambung ....
No comments:
Post a Comment