Tahun 0 Hari -1
"Dodo, dipanggil Pak Kepala di ruangannya." ujar bapak berkumis itu.
Akupun menutup kitab suci itu. Kulepas sarungku dan menggantinya dengan celana panjang. Lalu aku tinggalkan ruangan pengap yang dihuni enam orang itu, menuju sebuah ruangan yang lebih bagus dan hanya dihuni oleh satu orang terutama pada saat jam kerjanya.
"Tok tok tok." suara pintu diketuk.
"Ya, masuk." jawab seseorang dari balik pintu.
"Assalamu'alaikum, Bapak manggil saya?"
"Wa'alaikumsalam. Iya, silahkan duduk." kata bapak itu sambil mempersilahkan aku duduk.
"Saya terima surat ini kemarin, silahkan dibaca." ujar bapak itu sambil menyerahkan sepucuk amplop seukuran kertas folio.
Aku buka lipatan amplop itu. Terdapat tiga lembar kertas didalamnya. Aku mulai membaca lembar pertama. Mendekati setengah halaman pertama, tanganku bergetar. Mulutku seketika kaku, tidak dapat kugerakkan. Dadaku berdegup kencang. Aku teruskan membaca halaman pertama itu cepat. Aku teruskan ke lembar kedua dan kemudian lembar ketika. Tanpa sadar, kertas dan amplop yang aku pegang itu jatuh ke meja bapak itu.
"Mukjizat apa ini?" kataku dalam hati.
"Do? Dodo?" perlahan suara itu seperti membangunkanku dalam mimpi.
"Sudah dibaca, Do?" tanya suara itu.
Seketika akupun berdiri dari kursi "Ini beneran, Pak?" teriakku pada bapak itu.
"Iya, benar. Saya sudah baca. Saya juga tidak menyangka kalau ternyata PK-mu disetujui oleh Mahkamah Agung." kata bapak itu.
Seketika aku mundurkan badan dari kursi, lalu aku melakukan sujud syukur.
"Selamat, ya! Kesabaranmu berbuah baik, Do." ujar bapak itu.
Lalu aku berdiri dan menyalami tangan bapak itu. "Iya, Pak. Terima kasih." ucapku.
"Pak Sapta udah diberitahu kok, beliau sedang menuju kesini."
"Iya, terima kasih ya, Pak." ucapku lagi.
Beberapa menit kemudian, muncul seseorang dengan tergopoh-gopoh memasuki ruangan itu.
"Do, Dodo!" teriak orang itu. Lalu orang itu berlari ke arahku, kemudian memelukku.
"Kita menang, Do!" katanya
"Iya, Pak. Alhamdulillah. Terima kasih, Pak." ucapku
"Puji Tuhan, Do. Syukurlah, usahaku tidak sia-sia." ucap bapak itu.
Tanpa kusadari, air mataku mengalir dengan deras. Pun air mata bapak yang memelukku itu.
"Pak Sapta. Terima kasih ya, Pak. Terima kasih sudah membantu saya memperjuangkan kebebasan saya." ucapku pada bapak itu.
"Nggak, Do. Kamu memang sebenarnya nggak salah. Kamu hanya membela diri. Hakim hanya khilaf terlalu terburu-buru mengambil keputusan." katanya.
Lalu pikiranku membawaku ke masa lalu. Sekitar tiga atau empat tahun yang lalu, tindakanku atas nama solidaritas pertemanan membawaku ke kursi pesakitan.
bersambung ....
No comments:
Post a Comment