Tahun 8 Hari 279
Aku sedang asyik mengutak-atik ponselku. Tiba-tiba ada notifikasi dari aplikasi Tweetcaster. "Oh, ada
Direct Messege masuk." pikirku. Lalu kubuka pesan di Twitter itu.
"Kakak sudah punya pacar?" tanyanya.
"Belum, aku belum punya pacar." balasku.
"
Ngapain nih anak tiba-tiba nanya
beginian." pikirku.
Lalu aku teruskan mengutak-atik ponselku. Lebih kurang 10 menit aku mengutak-atik ponselku, aku masih menunggu balasan dari pesan sebelumnya. "
Palingan tuh anak
cuman iseng." pikirku. Tiba-tiba muncul notifikasi Direct Messege di ponselku. Aku buka pesan itu.
"Aku mau jadi pacar kakak." itulah pesan yang aku terima dari akun Twitter salah satu anggota
idol group itu.
Seketika aku terdiam. Aku letakkan ponselku di meja yang terletak disamping sofa. Lalu aku matikan LCD berukuran 42 inci dihadapanku. Kusandarkan kepalaku pada sandaran sofa, lalu kupejamkan mataku. Aku cubit pipiku. Seketika aku terbangun karena kesakitan. Lalu aku buka kembali Direct Messege pada aplikasi Tweetcaster.
"Bukan mimpi," pikirku "lebih baik aku membalasnya."
"Kamu serius?" balasku melalui DM.
"Aku tahu, masalah seperti ini
nggak seharusnya disampaikan lewat DM. Apa kakak
anggep ini becanda?" balasnya.
"Aku cuma tanya, kamu serius dengan pernyataanmu
barusan?" tanyaku.
"Aku serius kak." balasnya.
"
Kayaknya kita perlu ketemu, tapi dimana ya?"
"Aku malam ini bisa, kalau kakak mau, aku bisa ketemuan di sekitar SCBD." jawabnya.
"Wah, kalau ke SCBD
mah bunuh diri, bisa-bisa ketahuan fansmu yang lain
ntar." jawabku.
"Aku
nyamar deh, tapi kalau ketemu jangan kaget ya :D" balasnya.
"Hah,
nyamar jadi apa?" tanyaku.
"Rahasia :D" balasnya.
"Ya udah deh,
abis maghrib
gimana?" tanyaku.
"Boleh, di Pizza situ mau?" tanyanya.
"Mau. OK, sampai ketemu nanti abis maghrib ya?" balasku.
"Iya kak." balasnya.
Singkatnya, sebelum maghrib, aku meninggalkan apartemenku dan berjalan menuju halte Trans Jakarta di daerah Karet. Aku lebih memilih menggunakan transportasi umum itu. Pergi membawa kendaraan di jam pulang kantor seperti ini sama saja bunuh diri. Bus Trans Jakarta yang aku naiki pun penuh sesak oleh para pekerja kantor yang kembali ke tempat tinggalnya. Bus Trans Jakarta yang aku naiki itu akhirnya berhenti di halte Polda Metro Jaya. Aku segera turun. Sudah hampir maghrib. Aku lalu bergegas menuju mal di bilangan SCBD untuk menunaikan sholat maghrib.
Setelah sholat maghrib, aku melanjutkan berjalan kaki ke tempat pertemuan yang sudah kami tentukan tadi. Mendekati tempat tersebut, aku kirimkan DM kepadanya.
"Aku
udah mau
sampe, kamu
udah sampe?"
"Lagi jalan kesana. Tunggu ya?" balasnya.
Aku lalu berjalan memasuki restoran pizza itu.
"Selamat malam. Mau makan disini atau dibawa pulang?" sambut pelayan itu ramah.
"Makan disini." jawabku.
"Untuk 1 orang?" tanyanya.
"Untuk 2 orang." jawabku.
"Mari silahkan."
Lalu pelayan itu mengantarkanku ke salah satu tempat duduk. Setelah aku duduk, pelayanan itu menyodorkan menu. Aku hanya memesan minuman saja sembari menunggunya datang. Tak berapa lama, aku melihat seseorang berjalan ke arahku. "Mungkinkah dia?" pikirku. Postur tubuhnya memang seperti dia, tetapi orang ini berdandan maskulin dengan sepatu sneakers, kaos oblong, celana jeans dan topi. Lalu orang itu menyapaku.
"Sudah lama, Kak?" tanyanya.
"Nao?" tanyaku.
"Iya, hihihi." jawabku, lalu dia melepas topi yang dikenakannya. Seketika, rambut panjangnya terurai.
"Aku
kirain siapa, aku sampai
nggak ngenalin." kataku.
"
Gimana penyamaranku, hebat, kan? Kakak udah lama?" tanyanya.
"Iya hebat, udah pantes jadi artis terus
nyamar buat
ngindarin paparazi hehehe. Aku baru
sampe kok." kataku.
"Mau pesan minum?" tanyaku.
"Iya."
Lalu aku melambaikan tangan memanggil salah satu pelayanan. Setelah menyodorkan menu, gadis itu lalu memilih salah satu menu minuman. Minuman yang dipesannya berbeda dengan seleraku.
"Kakak mau makan?" tanyanya.
"Kamu mau makan?" tanyaku balik.
"Kakak mau pizza?" tanyaku.
"Boleh, yang reguler aja berdua." jawabku.
"Mau topping apa?" tanyanya.
"Apa saja asal bukan seafood." jawabku.
Dia lalu memesan pizza dengan topping yang sebenarnya aku kurang begitu suka. Disitu aku mulai menyadari, terlalu banyak perbedaan diantara kami. Tetapi terlalu dini bila aku melihat dari satu sisi ini saja. Oleh karena itu, untuk memastikan, aku sengaja mengajaknya untuk bertemu. Kami terdiam beberapa saat setelah pelayan itu meninggalkan kami.
"Kalau kamu dandan
gini, aku jadi
pangling." kataku membuka pembicaraan.
"Kakak juga beda, beda dengan pertama kali aku ketemu kakak."
"Aku kan harus membuat
first impression yang baik kalau ketemu
oshi hehehe." jawabku. Dia ikut tertawa.
"Jadi .... kamu serius mau jadi pacarku?" tanyaku menegaskan. Dia terdiam sesaat.
"Kakak kaget ya? Kakak
nggak pernah
nyangka aku bakal ngomong
gitu?" tanyanya.
"Impian semua
fans tentu pengen lebih dekat dengan
oshi-nya. Dikenal sama
oshi-nya, sampai
oshi tahu namanya aja udah seneng. Apalagi kalau sampai jadian. Tapi sekedar kenal baik denganmu sudah membuatku senang. Makanya sedari awal aku hanya bertekad mendukungmu, baik melalui media sosial,
fanlet,
handshake atau datang ke pertunjukanmu. Mengharapkan aku bisa lebih denganmu itu memang pernah terlintas di pikiranku. Tapi itu cuma angan-angan buatku." jelasku.
Seketika Nao terdiam. Tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Apa kakak suka dengan orang lain?" tanyanya.
"Tidak, saat ini tidak. Kenapa?" jawabku.
"Aku takut." katanya.
"Takut kenapa?" tanyaku.
"Aku takut kalau kakak sudah punya pacar, kakak
ngelupain aku." jawabnya.
"Tidak pernah sekalipun terlintas di pikiranku buat
ngelupain kamu." kataku.
"
Bener?" tanyanya.
"Iya,
bener. Asal kamu tahu, terkadang aku menyisipkan doa untukmu disetiap akhir sholatku." jawabku.
"Masa?"
"Iya, doa agar kamu selalu dalam lindungan-Nya, kamu selalu sehat dan selalu memberikan performa yang terbaik di setiap penampilanmu. Juga agar kamu sukses meniti karir dan menggapai cita-citamu. Meski terkadang, aku menyelipkan doa kecil lain untukmu." jawabku.
"Doa apa itu?" tanyanya penasaran.
"Hanya aku dan Allah yang tahu hehehe." kataku.
"Ih, kakak jahat."
"Hahaha, jangan marah dong. Doa kecil yang aku panjatkan sejak setahun lebih yang lalu itu sekarang terjawab kok." kataku.
"Emang kakak doa apa?" tanyanya.
"Aku hanya berdoa kalau memang aku pantas menjagamu, aku hanya minta untuk menjadikan kita lebih dekat, dan kalau memang kau membutuhkanku, aku hanya minta kita disatukan." kataku.
Lalu tiba-tiba seorang pelayan datang mengantarkan minuman pesanan kami.
"Sepertinya doa kakak terjawab." jawabnya sambil meminum minuman pesanannya.
"Karenanya dalam setiap hubungan, aku tidak mau main-main. Meski tidak tahu kedepan akan seperti apa, tetapi dalam menjalani hubungan, aku selalu serius." kataku.
"Aku juga serius dengan kakak. Aku tidak main-main. Aku bukan ABG lagi yang melihat hubungan hanya sebagai kesenangan, Kak. Aku mau dalam hubungan itu berbagi suka dan duka, saling mendukung satu sama lain, mau mendengarkan keluh kesah satu sama lain, tetap mendukung pilihan yang lain meski tidak sesuai dengan pilihan kita asal yang lain senang. Itu yang aku dapat dari kakak. Itu yang aku suka dari kakak. Mengenal kakak tiga tahun ini, meski kita hanya bertemu beberapa kali dan itu hanya event resmi grupku, melihat aktifitas kakak di media sosial, serta dukungan dan segala hal yang kakak berikan kepadaku selama ini, aku tidak pernah bertemu orang seperti kakak. Makanya aku tidak mau kehilangan kakak. Karena itu aku mau lebih dekat dengan kakak. Aku mau kakak hanya untukku seorang." katanya.
"Seberarti itukah aku buatmu?" tanyaku.
"Kakak satu-satunya orang yang menganggap
postingan Twitter-ku itu murni dari dalam hatiku. Bukan pesanan atau
template untuk menyenangkan
fans. Kakak satu-satunya yang menganggap segala yang aku lakukan itu tulus, bukan karena alasan lain. Tidak ada orang yang menganggapku lebih manusia seperti kakak dibandingkan
fans lain, Kak. Termasuk teman-temanku sendiri." jawabnya.
"Kamu mau menerima aku apa adanya?" tanyaku.
"Aku suka kakak apa adanya." jawabnya.
"Termasuk kenyataan bahwa sebenarnya aku pernah mendekam di penjara selama empat tahun karena dituduh membunuh dan akhirnya aku tidak dapat lulus SMU karena kejadian itu?" kataku.
Nao menggeleng. Dia seketika terdiam. Dia tertunduk, tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Aku pernah dipenjara selama empat tahun. Meski akhirnya penyelidikan membuktikan aku tidak bersalah dan aku dibebaskan serta aku mendapat rehabilitasi nama baik. Tapi, tetap saja kenyataannya aku pernah duduk di kursi pesakitan." kataku.
"Aku tidak peduli masa lalu kakak. Kakak melakukan itu karena ada alasan logis, kan? Buktinya, sekarang kakak bebas dan dinyatakan tidak bersalah. Aku suka dengan kakak yang aku kenal tiga tahun ini. Terserah orang lain mau bilang apa tentang kakak, aku tetap suka sama kakak." katanya meyakinkan.
"Saat ini aku mau menjalani hubungan yang serius dengan kakak, meski kedepan, entah hubungan kita seperti apa. Tapi saat ini, aku tidak mau kehilangan kakak. Aku mau selalu dekat dengan kakak. Tiga tahun ini sudah cukup membuktikan bahwa sebenarnya aku membutuhkan kakak lebih dari siapapun...." imbuhnya.
"Aku mencintaimu Nao." tiba-tiba aku memotong perkataannya.
bersambung ....