Friday, November 22, 2013

PHP

Tahun 5 Hari 293

"Kak, makasih ya udah dateng." katanya.
"Eh, iya." jawabku.

Ucapannya itu mengagetkanku. Saat itu, pandanganku sedang terantuk pada wajah gadis lain. Beberapa hari yang lalu, sepertinya aku salah membeli tiket. Tanpa kusadari ternyata hari ini dia perform bersama dengan adiknya dalam satu panggung.

"Kakak kok bengong?" tanyanya.
"Eh, nggak kok." jawabku sembari mengalihkan pandanganku ke wajahnya.
"Gimana tadi penampilanku." tanyanya.
"Bagus kok, lebih bagus dari sebelumnya." jawabku.
"Oh ya? Makasih ya? Aku seneng deh kalau kakak dateng ke teater, aku jadi semangat." katanya.
"Oh ya? Wah, syukurlah kalau gitu." jawabku.
"Kakak lagi kenapa sih? Kayaknya nggak seperti kemarin-kemarin." tanyanya.
"Hah? Nggak kok, hahaha. Kayaknya teater lebih rame dari kemarin-kemarin ya?" jawabku mencoba mengalihkan pembicaraan. Mataku sebenarnya tidak ingin lepas dari wajah gadis di ujung ruangan itu.
"Iya, akhir-akhir ini lebih rame. Aku seneng kalau teater rame, aku jadi semangat." katanya.
"Lebih seneng teater rame atau lebih seneng aku dateng?" tanyaku.
"Sebenernya lebih seneng kakak dateng." jawabnya sambil tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu akau akan lebih sering dateng." kataku.
"Beneran kak?" tanyanya.
"Kalau ada rejeki insyaALLAH aku dateng. Doain ya?" jawabku.
"Amiin, iya kak. Mudah-mudahan kakak rejekinya lancar." katanya.
"Amiin. Eh aku balik dulu ya. Nggak enak kalau lama-lama." kataku.
"Iya kak. Makasih ya udah dateng. Minggu depan dateng lagi liat aku perform ya?" katanya.
"InsyaALLAH. Aku balik dulu ya? Assalamu'alaikum." kataku.
"Wa'alaikumsalam." jawabnya.

Lalu aku berlalu dari hadapannya. Setelah beberapa langkah, aku membalikkan badanku. Aku melambaikan tangan tanda perpisahan pada gadis di ujung ruangan itu. Dia membalas lambaian tanganku sambil tersenyum. Gadis yang tadi berbicara denganku sepertinya bingung, kenapa saudaranya melambaikan tangan ke arahnya, dia kemudian membalasnya. Seketika dia tersadar lalu menoleh kebelakang. Tidak ada yang melambaikan tangan ke arah saudaranya. Jadi dia berkesimpulan memang kakaknya melambaikan tangan kepadanya.

Beberapa jam kemudian, muncul notifikasi di ponselku.

"Kak, kayaknya kakak lagi terkenal ya di teater?" sebuah DM muncul di aplikasi Tweetcaster-ku.
"Terkenal apanya?" tanyaku.
"Ini member pada ngomongin kakak. Malah dikira kakak pacarnya Juju. Hahaha." balasnya.
"Hah? Ebuset. Pada ngawur semua T_T" balasku.
"Emang kalau kakak nonton Juju perform, tiap abis high touch dia ngobrol sama kakak ya?" tanyanya.
"Iya, ini udah kali ketiga. Pantesan pada salah paham." balasku.
"Kok sama aku nggak :(" tanyanya.
"Lah .... kamu abis high touch nggak minta aku nunggu buat ngobrol. Lagian enakan DM-DM-an gini kan lebih private hihihi." balasku.
"Aku kan juga pengen ngobrol langsung sama kakak :(" balasnya.
"Bulan depan ada handshake lagi kan? Aku udah beli tiketnya buat handshake sama kamu 2 menit loh." balasku.
"Serius? Asyiik. Aku tunggu loh ya?" balasnya.
"Kok jadi kamu yang seneng sih, harusnya kan aku yang seneng." balasku.
"Abis kakak ketemunya sama Juju terus :(" balasnya.
"Kamu jealous ya?" tanyaku.
"Nggak kok weee." balasnya.
"Boong, pasti jealous #nuduh." balasku.
"Iya aku jealous, tapi ..." balasnya.
"Tapi apa?" tanyaku.
"Tapi boong, weee." balasnya.
"T_T #dikerjain #sesenggukandipojokanfx #korek2lantai" balasku.
"Hahaha kakak lucu deh." balasnya.
"Eh udah larut malem nih, tidur ya? Besok bangun pagi loh." balasku.
"Kan ada kakak yang bangunin via mention :D" balasnya.
"Emang tau klo itu mention dari aku? Ringtonenya beda ya?" tanyaku.
"Nggak sama aja, tapi hatiku tau kalau itu dari kakak." balasnya.
"Pasti bentar lagi balesannya isinya PHP lagi deh kayak tadi T_T" balasku.
"Hahaha. Ya udah, aku tidur dulu ya kak. Met bobo. Oyasunao." balasnya.
"Yup, met bobo ya. Oyasunao. Assalamu'alaikum." balasku.
"Wa'alaikumsalam :)" balasnya.

Sebenarnya aku berharap dia memang cemburu saat itu, tapi itu jelas tidak mungkin. Karena itu aku tidak mau berharap terlalu banyak. Sedari awal aku memang hanya bertekad mendukungnya. Entah bila ALLAH menghendaki lain dengan mengabulkan doaku.

bersambung ....

Wednesday, November 20, 2013

Restu

Tahun 0 Hari 0

"Laopo koen nang Jakarta (Ngapain kamu ke Jakarta)?" tanya seseorang diseberang telepon sana.
"Aku dijak koncoku (Diajak temanku)." jawabku.
"Koq yo nggak moleh disek to, Nang (Koq ya nggak pulang dulu, Nang)." tanyanya.

Ya, di keluargaku, panggilan untuk anak laki-laki yang di keluarga jawa biasanya dipanggil le atau thole, di keluargaku dipanggil dengan nang. Entah darimana asal-muasal panggilan ini.

"Lha, laopo aku moleh. Papa yo wes gak gelem ketemu aku. Lha petang taun ndek Lowokwaru mosok tau nyambangi (Lha, ngapain aku pulang. Papa juga sudah tidak mau ketemu denganku. Empat tahun di Lowokwaru apa pernah menjenguk)?" jawabku.
"Yo paling nggak muliho disek. Aku lak yo kangen (Ya setidaknya pulanglah dulu. Aku kan kangen)." kata ibuku.
"Yo kapan-kapan aku tak moleh. Saiki tak nang Jakarta sek. Aku wes janji karo koncoku (Ya kapan-kapan nanti aku pulang. Sekarang aku ke Jakarta dulu. Aku sudah janji sama temanku)." jawabku.
"Sek-sek aku bingung. Iki lak sek petang taun. Kok awakmu wes bebas (Sebentar aku bingung. Ini kan masih empat tahun. Kok kamu sudah bebas)?" tanya ibuku.
"Aku ngajukno PK nang MA. Wes dikabulno, direwangi Pak Sapta. Malah si Didit mbelan-mbelani ngurus nang MA ndek Jakarta (Aku mengajukan PK ke MA. Sudah dikabulkan, dibantu Pak Sapta. Malah si Didit bela-belain membantu mengurus ke MA di Jakarta)." jawabku.
"Loh aku kok gak eroh (Loh aku tidak tahu)." tanya ibuku.
"Mama kan terakhir nyambangi pas bandingku ditolak ndek PT. Bar ngono mama gak tau nyambangi aku meneh (Mama kan terakhi rmenjengukku waktu bandingku ditolak di PT. Setelah itu mama tidak pernah menjengukku lagi)." jawabku.
"Lha yok opo, gak diolehi papamu. Padahal yo wes nyoba nyingit-nyingit tapi yo koyoke aku gak iso nang Malang (Lha bagaimana, tidak dibolehin papamu. Padahal ya sudah coba sembunyi-sembunyi tapi ya sepertinya aku tidak bisa ke Malang)." jawab ibuku.
"Yo wes gak popo, aku njaluk dungane ae ben ndek Jakarta aku apik-apik ae. Aku yo ate golek kerjo ndek Jakarta, si Didit wes janji ate ngerewangi (Ya sudah tidak apa-apa, aku minta doanya saja biar di Jakarta aku baik-baik saja. Aku juga mau mencari kerja di Jakarta, si Didit sudah janji mau membantu)." kataku.
"Awakmu wes manteb tenan tah (Kamu benar-benar sudah mantap ke Jakarta)?" tanyanya.
"InsyaALLAH, makane aku njaluk dungane ae yo, Ma (InsyaALLAH, makanya aku minta doanya saja ya, Ma)?" kataku.
"Yo wes nek wes manteb. Tak dungakno koen sehat-sehat, ndang oleh gawean, ojok lali ngabar-ngabari mama terus (Ya sudah kalau sudah mantap. Aku doakan kamu selalu sehat, lekas dapat pekerjaan, jangan lupa terus ngasih mama kabar)." katanya.
"Amiin, insyaALLAH aku menehi kabar mene nek ndek Jakarta. Salam gawe papa yo? Pulsaku karek sitik iki (Amiin, insyaALLAH aku beri kabar besok kalau di Jakarta. Salam buat papa ya? Pulsaku sudah tinggal sedikit)." kataku.
"Iyo, seng ati-ati yo, Nang. Salam gae Didit (Iya, hati-hati ya, salam buat Didit)." katanya.
"Iyo, Ma. Mama yo sehat-sehat yo? Salam gawe papa. Assalamu'alaikum (Iya, Ma. Mama juga sehat-sehat ya? Salam buat papa. Assalamu'alaikum)." kataku.
"Wa'alaikumsalam." jawabnya.

Lalu aku akhiri pembicaraan itu.Setidaknya ibuku sudah merestuiku untuk pergi ke Jakarta. Tinggal kuserahkan sisanya pada ALLAH untuk menuntunku di Jakarta.

bersambung ....

Tuesday, November 19, 2013

Keputusan Besar

Tahun 5 Hari 261

"Assalamu'alaikum." jawab seseorang diseberang telepon sana.
"Wa'alaikumsalam. Ini Dodo, Pak." jawabku.
"Dodo?" tanya orang itu bingung.
"Dodo yang seminggu lalu naik taksi bapak terus bapak anterin ke fX." jawabku.
"Ooo, iya saya ingat. Ada apa, Mas? Mau pesen taksi?" tanyanya.
"Oh, nggak, Pak. Bapak kapan libur?" tanyaku.
"Hari ini saya libur, Mas."
"Ooo, boleh nggak saya main ke tempat konveksi bapak?" tanyaku.
"Boleh, Mas. Mau kesini kapan?" tanyanya.
"Mungkin jam sembilan pagi, bisa?" tanyaku.
"Bisa mas. Mau kesini rame-rame kayak kemarin? Apa perlu saya jemput?" tanyanya.
"Hehehe, nggak, Pak. Yang lain pada kerja, saya kesana sendiri kok. Boleh minta alamatnya?" tanyaku.

Lalu orang diseberang telepon itu memberikan detil alamatnya. Aku segera mencatatnya.

"Baik, Pak. Nanti jam sembilan saya kesana, ya?"
"Silahkan, Mas. Saya tunggu." jawabnya.
"Terima kasih, Pak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." jawabnya.

Lalu aku mengakhiri pembicaraan itu dengan memutuskan sambungan telepon itu. Aku bergegas bersiap-siap untuk menuju tempat itu. Mendekati jam dimaksud. Aku bergegas menuju ke tempat yang hendak aku tuju.

"Bu, saya berangkat dulu, ya?" kataku.
"Mau ke Roxy? Kok nggak bawa tas, tumben." tanya Ibu Pengurus Kos.
"Nggak, Bu. Saya mau ke Pondok Aren." jawabku.
"Ooo, iya, ati-ati."
"Iya, Bu. Assalamu'alaikum." 
"Wa'alaikumsalam." jawabnya.

Aku langsung mengendarai motor 100cc yang aku beli dalam keadaan bekas beberapa tahun yang lalu. Hari ini aku mencoba mengambil sebuah keputusan besar, setelah selama kurang lebih seminggu ini aku memohon diberi petunjuk oleh-Nya apakah keputusan yang aku ambil ini tepat atau tidak. Beberapa hari kemarin sepertinya ALLAH memberikan tanda bahwa keputusan yang aku ambil hari ini adalah keputusan terbaik. Maka dari itu aku bertekad melaksanakannya hari ini.

Motorku membelah jalanan Bintaro yang lengang itu. Sepertinya aku akan tiba lebih awal dari perkiraanku. Aku mencoba mencari alamat rumah orang itu. Sepertinya memang tidak mudah mencarinya. Tempatnya agak jauh dari jalanan utama. Lebih tepatnya aku tidak begitu hafal daerah tersebut sehingga aku kesulitan mencarinya. Setiba di rumah yang dimaksud. Aku segera menghentikan laju motorku.

"Tok tok tok. Assalamu'alaikum." kataku.
"Wa'alaikumsalam." suara seorang wanita menjawab salamku. Lalu pintu itu terbuka.
"Maaf, apa benar ini rumahnya Pak Sukirman?" tanyaku.
"Iya benar. Mari silahkan masuk."
"Terima kasih. Permisi, ya?" jawabku.
"Iya, silahkan."

Lalu gadis itu berjalan meninggalkanku. Tak lama berselang, Pak Sukirman muncul dari balik kelambu rumah itu.

"Wah, susah nggak Mas nyari rumahnya?" tanya Pak Sukirman.
"Lumayan, Pak. Jarang ke daerah sini, jadi mesti tanya-tanya hehehe." jawabku.
"Mau ke tempat konveksi sekarang?" tanyanya.
"Boleh, Pak. Jauh nggak?" tanyaku.
"Nggak, deket sini kok. Tinggal jalan." jawabnya.
"Kalau gitu saya titip motor ya, Pak?"
"Boleh, masukin teras aja motornya."
"Baik, Pak." Jawabku.

Lalu aku beranjak keluar dari rumah itu dan kemudian memasukkan motorku ke beranda rumah itu.

"Ji, bapak ke tempat jahit dulu, ya?" kata Pak Sukirman.
"Iya, Pak." sahut seseorang dari dalam rumah.

Lalu kami beranjak ke tempat yang dimaksud Pak Sukirman. Tempat itu berjarak kurang lebih tiga puluh meter dari tempat Pak Sukirman. Tempatnya tidak terlalu besar, lebih mirip garasi dengan luas tiga puluh-an meter. Di depannya terdapat lemari kaca yang memajang beberapa busana muslim.

"Bajunya bagus-bagus, Pak." kataku.
"Ini beberapa rancangan anak saya, Mas. Tapi yang buatan sendiri sekarang jarang di produksi, kita lebih banyak bikin dari pesenan orang." kata Pak Sukirman.
"Sebulan bisa ngerjain berapa baju, Pak."
"Sehari, dengan tenaga tujuh orang ditambah istri saya bisa membuat baju sekitar empat sampai lima stel. Tergantung pesanan juga sih, ada beberapa juga kita buat aksesorisnya aja seperti daleman jilbab, jilbab, bando dan lain-lain." katanya.
"Ooo, ini rencananya mau dikembangin kemana, Pak?" tanyaku.
"Kemarin ada franchise busana muslim yang suka sama hasil produksi kita. Tapi kita terbatas alat sama tenaga. Saya mau nambah tapi belum cukup modalnya. Selain itu, kemarin hasil rancangan anak saya itu ada beberapa orang yang minat, tapi karena banyak pesanan dari yang lain, jadi kita nggak bisa bikin dalam waktu dekat. Saya rencananya mau bagi tempat konveksi ini jadi dua bagian. Satu bagian buat ngerjain pesanan, bagian lain buat produksi rancangan anak saya. Saya sudah ada modal beberapa, tapi nanggung kalau saya masukin sekarang. Mendingan terkumpul dulu." jelas Pak Sukirman.
"Boleh lihat gambar rancangan gambarnya, Pak?" tanyaku.
"Boleh."

Lalu Pak Sukirman menunjukkan beberapa desain gambar buatan anaknya. Menurutku desainya menarik. Lalu aku foto beberapa desain yang menurutku menarik lalu aku kirimkan foto-foto tersebut kepada Maryana.

"Pak, kalau boleh, bisa saya lihat catatan keuangannya?" tanyaku.
"Buat apa, Mas?" tanyanya.
"Jadi gini, Pak. Kemarin bapak bilang rencana mau ngembangin usaha bikin pabrik konveksi busana muslim kecil-kecilan. Bapak kemarin bilangnya masih perlu sekitar tiga puluh sampai empat puluh jutaan lagi. Nah saya minat nih naruh modal di tempat bapak. Gimana?" tanyaku.
"Hah? Serius, Mas?" tanya Pak Sukirman kaget.
"Serius, Pak. Makanya kalau boleh, kalau ada catatan keuangan, saya mau lihat dulu."
"Boleh-boleh. Nanti sama istri saya saja, ya?" jawabnya.

Lalu Pak Sukirman memanggil istrinya yang juga ada di tempat itu juga. Lalu beliau menunjukkan beberapa catatan keuangan dan menjelaskannya. Catatannya memang berantakan, tapi aku bisa melihat dan menilainya dengan jelas. Lalu aku foto beberapa catatan keuangan itu ke Maryana. Tak berapa lama, Yana membalas Whatsapp-ku.

"Mas, itu rancangannya bagus. Berpotensi dijual tuh." katanya.
"Gitu, ya. Aku lihat beberapa hasil jadinya disini, menurutku menarik. Entah ya, tapi masuk ke seleraku. Tapi gak tau kalau cewek2 nilainya gimana." balasku.
"Bagus itu mas. Kalau aku sih suka. BTW, itu yang bikin siapa mas?" tanyanya.
"Anaknya kenalanku. Cewek juga sih."
"Ooo." jawabnya.
"Aku udah lihat beberapa catatan keuangannya. Baju rancangannya kayaknya bisa dijual lebih mahal lagi tuh. Kalau aku lihat dari catatan keuangannya, sepertinya emang perlu ekspansi modal." imbuhnya.
"Aku rasa juga gitu. Disini order ngalir terus, tapi modalnya terbatas. Sedangkan keuntungan usahanya sebagian besar dipakai buat biaya produksi sama prive buat pemilik. Buat tambahan modal sepertinya hanya sedikit." kataku.
"Mas Dodo jadi mau join?" tanyanya.
"Sepertinya begitu, menurutmu gimana?" tanyaku.
"Ya, gpp sih. Ntar aku bantu masarin lagi deh. Hehehe." jawabnya.
"Ok deh, makasih ya. Sorry ganggu." kataku.
"Gpp mas, baru ada kuliah ntar siangan kok :D" balasnya.

Aku kemudian kembali berpikir keras. Tetapi hatiku sudah mantab untuk menggabungkan modalku ke usaha Pak Sukirman.

"Pak, kapan saya bisa ngasih modal?" tanyaku.
"Loh, jadi, Mas?" tanyanya.
"Jadi, Pak. Tapi saya hanya bisa ngasih modal tiga puluh lima juta dulu." kataku.
"Alhamdulillah. Nggak apa-apa nih, Mas?" tanyanya.
"Nggak apa-apa, Pak. nanti saya buatin bukti hitam diatas putihnya deh." kataku.

Lalu kami membicarakan akan digunakan untuk apa saja modal yang kami gabungkan nanti, serta pembagian keuntungannya. Selain itu aku meminta Pak Sukirman agar aku bisa mendapatkan salinan catatan keuangannya untuk aku bawa pulang. Rencananya, catatan keuangan itu hendak aku bahas dengan Maryana nanti sore. Aku membutuhkan masukan dari Maryana karena dia memang kuliah di jurusan akuntansi, jadi setidaknya dia tahu-menahu tentang catatan keuangan. Beruntung, Pak Sukirman membolehkanku mendapatkan salinan catatan keuangannya.

"Mas Dodo sudah punya pacar?" tanya Pak Sukirman.
"Sudah, Pak. Kan minggu kemarin bapak yang nganterin." jawabku becanda.
"Itu sih Mas Dodo yang ngarep." katanya sambil tertawa.
"Ya ngarep kan nggak apa-apa, Pak. Siapa tau jodoh." jawabku.
"Amiin. Mudah-mudahan jodoh." katanya.

Dalam hati kecilku, aku turut mengamini doa Pak Sukirman itu. Aku juga berharap doa itu terkabul suatu saat nanti.

bersambung ....

Saturday, November 16, 2013

Aku Akan Menikah

Tahun 11 Hari aku sudah lupa ....

"Halo." jawab seseorang diujung telepon sana.
"Halo, assalamu'alaikum," jawabku "ini Dodo."
"Wa'alaikumsalam. Hai, apa kabar?" tanyanya.
"Alhamdulillah baik. Gimana kabarmu?" tanyaku.
"Baik. Minggu depan aku mau UTS. Minta doanya, ya?"
"Mudah-mudahan kamu diberi kemudahan untuk mengerjakan dan mudah-mudahan nggak nyusul kayak kemarin-kemarin, ya?" jawabku.
"Amiin." jawabnya.
"Jaga kesehatan, jangan main mulu. Udah mau UTS, makan yang teratur, minum vitamin kalau perlu." tambahku.
"Iya, makasih, ya?" jawabnya.
"Oiya, hampir lupa. Aku menelepon mau memberi kabar."
"Kabar apa itu?" tanyanya.
"Aku mau menikah." jawabku.

Mendadak percakapan kami menjadi hening. Aku sudah menduga dia pasti kaget dengan keputusanku ini.

bersambung ....

Wednesday, November 13, 2013

Kembali ke Jakarta

Tahun 0 hari 1

Matahari sudah sepenggalahan naik menjelang siang. Kereta yang aku tumpangi baru memasuki Stasiun Pasar Senen. Setelah kereta berhenti, aku bergegas keluar dari gerbong. Aku terus menyusuri peron dan mengikuti arah keluar dari stasiun. Di luar, banyak penunggu yang menjemput penumpang yang hari itu datang. Tak ada wajah yang aku kenali diantara mereka.

Aku mencari sisi lain stasiun yang sepi. Lalu aku keluarkan ponsel yang baru aku kemarin itu dari saku celanaku, dan aku telepon seseorang.

"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Koen ndek endi saiki (Kamu dimana sekarang)?" tanya orang diseberang telepon tersebut.
"Cedek pintu masuk seng cedek parkiran motor (Dekat pintu masuk yang dekat parkiran motor)." jawabku.
"Nyabrango nang arah warung-warung. Onok warung werno biru, mrono'o, tak enteni ndek kono (Menyebranglah ke arah warung-warung. Ada warung warna biru, aku tunggu disana)." katanya.
"Oyi." jawabku. Lalu aku tutup telepon itu.

Lalu aku menuju ke warung yang ditunjukkan oleh orang di seberang telepon itu. Warung berwarna biru itu ternyata warung milik Orang Malang. Itu aku kenali karena nama warung itu memuat kata Arema. Perlahan aku masuk ke warung itu. Di dalam warung itu aku melihat seseorang yang wajahnya sudah lama aku kenal.

"Dit."
"Mit." kata orang itu. Lalu dia berdiri dari tempat duduknya dan beranjak ke arahku. Awalnya kami hanya bersalaman, setelah itu dia memelukku.
"Alhamdulillah, Mit." katanya sambil memelukku.
"Tahes tah koen (Sehat kah kamu?)" tanyanya sambil melepaskan pelukannya.
"Alhamdulillah tahes." jawabku.
"Tambah kuru awakmu, malih koyok kana licek (Tambah kurus kamu, malah kelihatan seperti anak kecil)." katanya.
"Hahaha, raiku ket mbiyen yo ngene iki, koyok arek SD (Hahaha, mukaku dari dulu ya begini ini, kayak anak SD)." jawabku.
"Koen kadit idrek tah (Kamu nggak kerja)?" imbuhku.
"Gak, aku sengojo ijin gae mapak koen (Nggak, aku sengaja ijin buat menjemputmu)." jawabnya.
"Gak popo tah? Engkok diuring-uring bosmu (Nggak apa-apa? Nanti dimarahi bosmu)?" tanyaku.
"Sante ae (Santai saja)," jawabnya "Koen wes nakam, gurung (Kamu sudah makan, belum)?"
"Mangan itor tok mau ndek sepur (Makan roti saja tadi di kereta)." jawabku.
"Mangano sek ndek kene, opo golek pangan panggen liyo (Makan duku disini, atau mau makan di tempat lain)?" tanyanya.
"Ndek kene ae wes (Makan disini aja deh)" jawabku.
"Peseno opo ae wes sak karepmu, mangano seng wareg (Pesenlah sesukamu, makanlah yang kenyang)." kata Didit.
"Oyi." jawabku.

Lalu aku menuju ke tempat penjual itu duduk dan memesan sepiring gado-gado siram kesukaanku. Akhirnya aku kembali lagi ke Jakarta. Kota yang pernah sempat aku singgahi beberapa hari sebelum akhirnya aku duduk di kursi pesakitan. Suasananya terasa lebih padat, beda dengan sekitar empat tahun yang lalu. Hawa panasnya masih sama dengan empat tahun yang lalu. Sepertinya, aku akan mulai menata ulang kehidupanku disini, di ibukota negara ini.

bersambung ....

Tuesday, November 12, 2013

Aku Mencintaimu

Tahun 8 Hari 279

Aku sedang asyik mengutak-atik ponselku. Tiba-tiba ada notifikasi dari aplikasi Tweetcaster. "Oh, ada Direct Messege masuk." pikirku. Lalu kubuka pesan di Twitter itu.

"Kakak sudah punya pacar?" tanyanya.
"Belum, aku belum punya pacar." balasku.
"Ngapain nih anak tiba-tiba nanya beginian." pikirku.

Lalu aku teruskan mengutak-atik ponselku. Lebih kurang 10 menit aku mengutak-atik ponselku, aku masih menunggu balasan dari pesan sebelumnya. "Palingan tuh anak cuman iseng." pikirku. Tiba-tiba muncul notifikasi Direct Messege di ponselku. Aku buka pesan itu.

"Aku mau jadi pacar kakak." itulah pesan yang aku terima dari akun Twitter salah satu anggota idol group itu.

Seketika aku terdiam. Aku letakkan ponselku di meja yang terletak disamping sofa. Lalu aku matikan LCD berukuran 42 inci dihadapanku. Kusandarkan kepalaku pada sandaran sofa, lalu kupejamkan mataku. Aku cubit pipiku. Seketika aku terbangun karena kesakitan. Lalu aku buka kembali Direct Messege pada aplikasi Tweetcaster.

"Bukan mimpi," pikirku "lebih baik aku membalasnya."
"Kamu serius?" balasku melalui DM.
"Aku tahu, masalah seperti ini nggak seharusnya disampaikan lewat DM. Apa kakak anggep ini becanda?" balasnya.
"Aku cuma tanya, kamu serius dengan pernyataanmu barusan?" tanyaku.
"Aku serius kak." balasnya.
"Kayaknya kita perlu ketemu, tapi dimana ya?"
"Aku malam ini bisa, kalau kakak mau, aku bisa ketemuan di sekitar SCBD." jawabnya.
"Wah, kalau ke SCBD mah bunuh diri, bisa-bisa ketahuan fansmu yang lain ntar." jawabku.
"Aku nyamar deh, tapi kalau ketemu jangan kaget ya :D" balasnya.
"Hah, nyamar jadi apa?" tanyaku.
"Rahasia :D" balasnya.
"Ya udah deh, abis maghrib gimana?" tanyaku.
"Boleh, di Pizza situ mau?" tanyanya.
"Mau. OK, sampai ketemu nanti abis maghrib ya?" balasku.
"Iya kak." balasnya.

Singkatnya, sebelum maghrib, aku meninggalkan apartemenku dan berjalan menuju halte Trans Jakarta di daerah Karet. Aku lebih memilih menggunakan transportasi umum itu. Pergi membawa kendaraan di jam pulang kantor seperti ini sama saja bunuh diri. Bus Trans Jakarta yang aku naiki pun penuh sesak oleh para pekerja kantor yang kembali ke tempat tinggalnya. Bus Trans Jakarta yang aku naiki itu akhirnya berhenti di halte Polda Metro Jaya. Aku segera turun. Sudah hampir maghrib. Aku lalu bergegas menuju mal di bilangan SCBD untuk menunaikan sholat maghrib.

Setelah sholat maghrib, aku melanjutkan berjalan kaki ke tempat pertemuan yang sudah kami tentukan tadi. Mendekati tempat tersebut, aku kirimkan DM kepadanya.

"Aku udah mau sampe, kamu udah sampe?"
"Lagi jalan kesana. Tunggu ya?" balasnya.

Aku lalu berjalan memasuki restoran pizza itu.

"Selamat malam. Mau makan disini atau dibawa pulang?" sambut pelayan itu ramah.
"Makan disini." jawabku.
"Untuk 1 orang?" tanyanya.
"Untuk 2 orang." jawabku.
"Mari silahkan."

Lalu pelayan itu mengantarkanku ke salah satu tempat duduk. Setelah aku duduk, pelayanan itu menyodorkan menu. Aku hanya memesan minuman saja sembari menunggunya datang. Tak berapa lama, aku melihat seseorang berjalan ke arahku. "Mungkinkah dia?" pikirku. Postur tubuhnya memang seperti dia, tetapi orang ini berdandan maskulin dengan sepatu sneakers, kaos oblong, celana jeans dan topi. Lalu orang itu menyapaku.

"Sudah lama, Kak?" tanyanya.
"Nao?" tanyaku.
"Iya, hihihi." jawabku, lalu dia melepas topi yang dikenakannya. Seketika, rambut panjangnya terurai.
"Aku kirain siapa, aku sampai nggak ngenalin." kataku.
"Gimana penyamaranku, hebat, kan? Kakak udah lama?" tanyanya.
"Iya hebat, udah pantes jadi artis terus nyamar buat ngindarin paparazi hehehe. Aku baru sampe kok." kataku.
"Mau pesan minum?" tanyaku.
"Iya."

Lalu aku melambaikan tangan memanggil salah satu pelayanan. Setelah menyodorkan menu, gadis itu lalu memilih salah satu menu minuman. Minuman yang dipesannya berbeda dengan seleraku.

"Kakak mau makan?" tanyanya.
"Kamu mau makan?" tanyaku balik.
"Kakak mau pizza?" tanyaku.
"Boleh, yang reguler aja berdua." jawabku.
"Mau topping apa?" tanyanya.
"Apa saja asal bukan seafood." jawabku.

Dia lalu memesan pizza dengan topping yang sebenarnya aku kurang begitu suka. Disitu aku mulai menyadari, terlalu banyak perbedaan diantara kami. Tetapi terlalu dini bila aku melihat dari satu sisi ini saja. Oleh karena itu, untuk memastikan, aku sengaja mengajaknya untuk bertemu. Kami terdiam beberapa saat setelah pelayan itu meninggalkan kami.

"Kalau kamu dandan gini, aku jadi pangling." kataku membuka pembicaraan.
"Kakak juga beda, beda dengan pertama kali aku ketemu kakak."
"Aku kan harus membuat first impression yang baik kalau ketemu oshi hehehe." jawabku. Dia ikut tertawa.
"Jadi .... kamu serius mau jadi pacarku?" tanyaku menegaskan. Dia terdiam sesaat.
"Kakak kaget ya? Kakak nggak pernah nyangka aku bakal ngomong gitu?" tanyanya.
"Impian semua fans tentu pengen lebih dekat dengan oshi-nya. Dikenal sama oshi-nya, sampai oshi tahu namanya aja udah seneng. Apalagi kalau sampai jadian. Tapi sekedar kenal baik denganmu sudah membuatku senang. Makanya sedari awal aku hanya bertekad mendukungmu, baik melalui media sosial, fanlet, handshake atau datang ke pertunjukanmu. Mengharapkan aku bisa lebih denganmu itu memang pernah terlintas di pikiranku. Tapi itu cuma angan-angan buatku." jelasku.

Seketika Nao terdiam. Tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Apa kakak suka dengan orang lain?" tanyanya.
"Tidak, saat ini tidak. Kenapa?" jawabku.
"Aku takut." katanya.
"Takut kenapa?" tanyaku.
"Aku takut kalau kakak sudah punya pacar, kakak ngelupain aku." jawabnya.
"Tidak pernah sekalipun terlintas di pikiranku buat ngelupain kamu." kataku.
"Bener?" tanyanya.
"Iya, bener. Asal kamu tahu, terkadang aku menyisipkan doa untukmu disetiap akhir sholatku." jawabku.
"Masa?"
"Iya, doa agar kamu selalu dalam lindungan-Nya, kamu selalu sehat dan selalu memberikan performa yang terbaik di setiap penampilanmu. Juga agar kamu sukses meniti karir dan menggapai cita-citamu. Meski terkadang, aku menyelipkan doa kecil lain untukmu." jawabku.
"Doa apa itu?" tanyanya penasaran.
"Hanya aku dan Allah yang tahu hehehe." kataku.
"Ih, kakak jahat."
"Hahaha, jangan marah dong. Doa kecil yang aku panjatkan sejak setahun lebih yang lalu itu sekarang terjawab kok." kataku.
"Emang kakak doa apa?" tanyanya.
"Aku hanya berdoa kalau memang aku pantas menjagamu, aku hanya minta untuk menjadikan kita lebih dekat, dan kalau memang kau membutuhkanku, aku hanya minta kita disatukan." kataku.

Lalu tiba-tiba seorang pelayan datang mengantarkan minuman pesanan kami.

"Sepertinya doa kakak terjawab." jawabnya sambil meminum minuman pesanannya.
"Karenanya dalam setiap hubungan, aku tidak mau main-main. Meski tidak tahu kedepan akan seperti apa, tetapi dalam menjalani hubungan, aku selalu serius." kataku.
"Aku juga serius dengan kakak. Aku tidak main-main. Aku bukan ABG lagi yang melihat hubungan hanya sebagai kesenangan, Kak. Aku mau dalam hubungan itu berbagi suka dan duka, saling mendukung satu sama lain, mau mendengarkan keluh kesah satu sama lain, tetap mendukung pilihan yang lain meski tidak sesuai dengan pilihan kita asal yang lain senang. Itu yang aku dapat dari kakak. Itu yang aku suka dari kakak. Mengenal kakak tiga tahun ini, meski kita hanya bertemu beberapa kali dan itu hanya event resmi grupku, melihat aktifitas kakak di media sosial, serta dukungan dan segala hal yang kakak berikan kepadaku selama ini, aku tidak pernah bertemu orang seperti kakak. Makanya aku tidak mau kehilangan kakak. Karena itu aku mau lebih dekat dengan kakak. Aku mau kakak hanya untukku seorang." katanya.
"Seberarti itukah aku buatmu?" tanyaku.
"Kakak satu-satunya orang yang menganggap postingan Twitter-ku itu murni dari dalam hatiku. Bukan pesanan atau template untuk menyenangkan fans. Kakak satu-satunya yang menganggap segala yang aku lakukan itu tulus, bukan karena alasan lain. Tidak ada orang yang menganggapku lebih manusia seperti kakak dibandingkan fans lain, Kak. Termasuk teman-temanku sendiri." jawabnya.
"Kamu mau menerima aku apa adanya?" tanyaku.
"Aku suka kakak apa adanya." jawabnya.
"Termasuk kenyataan bahwa sebenarnya aku pernah mendekam di penjara selama empat tahun karena dituduh membunuh dan akhirnya aku tidak dapat lulus SMU karena kejadian itu?" kataku.

Nao menggeleng. Dia seketika terdiam. Dia tertunduk, tidak mengeluarkan sepatah katapun.

"Aku pernah dipenjara selama empat tahun. Meski akhirnya penyelidikan membuktikan aku tidak bersalah dan aku dibebaskan serta aku mendapat rehabilitasi nama baik. Tapi, tetap saja kenyataannya aku pernah duduk di kursi pesakitan." kataku.
"Aku tidak peduli masa lalu kakak. Kakak melakukan itu karena ada alasan logis, kan? Buktinya, sekarang kakak bebas dan dinyatakan tidak bersalah. Aku suka dengan kakak yang aku kenal tiga tahun ini. Terserah orang lain mau bilang apa tentang kakak, aku tetap suka sama kakak." katanya meyakinkan.
"Saat ini aku mau menjalani hubungan yang serius dengan kakak, meski kedepan, entah hubungan kita seperti apa. Tapi saat ini, aku tidak mau kehilangan kakak. Aku mau selalu dekat dengan kakak. Tiga tahun ini sudah cukup membuktikan bahwa sebenarnya aku membutuhkan kakak lebih dari siapapun...." imbuhnya.
"Aku mencintaimu Nao." tiba-tiba aku memotong perkataannya.

bersambung ....

Sunday, October 20, 2013

HIATUS

CERITANYA SEMENTARA HIATUS DULU YA? SAMPAI BATAS WAKTU YANG TIDAK DITENTUKAN. TERIMA KASIH :)

Thursday, October 17, 2013

Sari

Tahun 7 Hari 78

"Kamu saja yang ambil." kataku.
"Nggak, kan kamu yang lihat duluan. Ambil saja." katanya.
"Aku cuma liat-liat doang, nggak niat beli." kataku.
"Jadi boleh buat aku?" tanyanya.
"Boleh, silahkan ambil aja." kataku.
"Makasih, ya?" katanya.
"Iya, sama-sama."

Setelah itu dia berlalu, aku masih mencari-cari CD yang sama di rak itu. Aku tidak dapat menemukannya.

"Mas, masih ada CD album Ayumi Hamasaki yang Love Again?"
"Sebentar, mas."

Penjaga toko tersebut kemudian mencari-cari CD yang aku maksud di tumpukan rak dihadapanku.

"Tadi ada sih, Mas. Sudah diambil orang kayaknya."
"Ada sisa stok nggak?" tanyaku.
"Saya cariin dulu ya?" katanya.

Dia bergegas pergi ke sebuah komputer yang berada di sudut toko itu. Setelah tak berapa lama, dia kembali menghampiriku.

"Habis, mas. Tinggal satu hari ini. Sepertinya sudah laku." katanya.
"Ya udah, makasih ya."

Aku lalu berjalan dengan sedikit lemas menuju pintu keluar toko itu.

"CD-nya habis, ya?" pertanyaan itu tiba-tiba mengagetkanku.
"Iya, tinggal satu-satunya. Tadi nyari di PI juga nggak ada." jawabku.
"Kalau nggak, CD-nya buat kamu aja deh." katanya.
"Jangan, kan kamu udah beli. Buat kamu aja." kataku.
"Tapi kamu sepertinya perlu." katanya.
"Nggak sih, cuman pengen buat didengerin aja. Eh, kalau aku pinjam sebentar buat aku copy boleh nggak? Sebagai gantinya aku traktir deh." tanyaku.
"Boleh sih." jawabnya.
"Kamu mau makan dimana?" tanyaku.
"Mana aja terserah." jawabnya.
"Makan ramen mau?" tanyaku.
"Boleh." jawabnya.

Kami pun segera beranjak meninggalkan toko musik itu. Kami menuju ke sebuah restoran ramen di lantai 4 mal tersebut. Setelah duduk, pelayan menawarkan kami menu. Tak disangka kami memesan menu yang sama. "Apakah ini jodoh?" pikirku. Kami menyukai jenis musik yang sama, artis yang sama, makanan yang sama. "Ah, cuma kebetulan." sisi lain otakku menimpali. Lalu aku mengeluarkan laptop dari tasku dan dia menyerahkan CD itu kepadaku. Sambil menunggu menyalin lagu itu, kami berbicara banyak hal. Tak kusangka ternyata obrolan kami nyambung.

"Oh, iya. Kita belum kenalan. Namaku Dodo." kataku memperkenalkan diri.
"Sari. Salam kenal." katanya.

Perlahan perasaanku menjadi aneh.

bersambung ....

Wednesday, October 16, 2013

Gombal

Tahun 6 Hari 156

"follow @do2345671 lagi gombalin @Nao_DKI48 tuh, gombal level akut parah! #GombaliNao"

Mention itu muncul di aplikasi Tweetcaster-ku. Setelah itu, akun Twitter mendapat banyak follower baru. Hari ini aku memang sedang tidak banyak pekerjaan. Semua barang pesanan sudah aku kirimkan kemarin. Usaha baruku juga sudah mulai berjalan lancar. Saat ini aku hanya menunggu barang pesananku datang dari luar negeri. Maka dari itu, seharian ini aku merasa suntuk. Hingga akhirnya aku iseng menulis di Twitter

"@Nao_DKI48 katanya pelangi itu warnanya merah, jingga, kuning, hijau, biru, ungu #GombaliNao"
"@Nao_DKI48 lampu lalu lintas itu warnanya merah, kuning, hijau #GombaliNao"
"@Nao_DKI48 tetapi semuanya hanya berwarna hitam putih di mataku #GombaliNao"
"@Nao_DKI48 hanya kamu yang berwarna di mataku #GombaliNao"
"@Nao_DKI48 kamu tau jalan pulang nggak? Sepertinya kamu tersesat di hatiku #GombaliNao"
"Tweeps ini hatiku, tolong berikan pada @Nao_DKI48 #GombaliNao"
"Tweeps punya kunci apa aja? Punya kunci buat buka hatinya @Nao_DKI48 nggak? #GombaliNao"
"Aku suka makan naosi, malah kadang naombah. Di rumahku ada naompan, di hatiku ada @Nao_DKI48 #GombaliNao"
"@Nao_DKI48 kalau kondisi darurat telp 112, kalau mati lampu telp 123, kalau lelah dan kesepian telp 0899******* #GombaliNao"
"Kalau banyak makan jadi gemuk, kalau banyak begadang jadi ngantuk, kalau banyak liatin @Nao_DKI48 jadi tambah cinta #GombaliNao"
"Kalau ada 100 orang yang suka @Nao_DKI48 aku pasti ada diantaranya #GombaliNao"
"Kalau ada 10 orang yang suka @Nao_DKI48 aku juga pasti ada diantaranya #GombaliNao"
"Kalau tidak ada orang yang suka @Nao_DKI48 berarti aku sudah tidak ada lagi di dunia ini #GombaliNao"
"@Nao_DKI48 kedepan, mari kita berteman. Tapi gimana bisa berteman, tiap melihatmu jantungku berdegup kencang #GombaliNao"
"@Nao_DKI48 4 Juni 1994 pasti hujan seharian. Langit menangis karena satu2nya malaikatnya turun ke bumi #GombaliNao"
"@Nao_DKI48 apa kamu nggak ngerasa sakit .... habis jatuh dari langit? #GombaliNao"

Masih banyak twit gombalanku yang lain. Kalau dihitung, hari ini aku menulis lebih dari 50 twit berisi gombalan kepada kapten tim K5 itu. Beberapa orang masih menyemangatiku untuk terus memberikan gombalan kepada akun Twitter @Nao_DKI48 itu. Tapi sepertinya otakku sudah buntu, sampai akhirnya muncul Direct Messege ke akun Twitter-ku.

"Kok udahan?" katanya.
"Pelurunya udah abis." balasku.
"Yah :(" jawabnya.
"Ntar kalau mood ah ngetwit lagi." balasku.

Direct Messege itu tak berbalas, hingga akhirnya beberapa sebuah mention muncul di aplikasi Tweetcasterku.

"Kak @do2345671 tukang gombal hahaha."

Semenjak itu, para Naomisionaris, fans club Nao-chan, menjulukiku skyman.

bersambung ....

Hidup Dibalik Tembok Setinggi Lebih dari 5 Meter

Tahun -2 Hari .... aku sudah lupa

Aku tidak tahu pukul berapa ini. Aku bergegas ke bilik kecil di ruangan itu untuk mengambil air wudhu. Setelah itu aku gelar sajadah di atas tikar yang tadi aku gunakan untuk pergi ke alam mimpi itu. Entah sudah berapa raka'at aku tunaikan sholat malam itu, kemudian terdengar suara logam beradu di depan pintu ruangan itu.

"Mas Sholeh. melok nang masjid nggak (Mas Sholeh, ikut ke masjid nggak), Mas?" kataku sambil tanganku menggoyang-goyangkan pria bertubuh gempal itu.
"Iyo, sek (Iya, bentar)." jawabnya.

Lalu aku meninggalkannya menuju ke pintu berwarna hijau itu. Setelah melewati pintu itu, aku bergegas menuju ke masjid. Hari ini giliranku untuk adzan subuh. Setelah waktu subuh masuk, segera aku kumandangkan adzan untuk mengajak para muslim menunaikan sholat. Setelah adzan, aku dan beberapa jamaah bergegas menunaikan sholat sunah qobliyah. Aku tidak mau terlewat menunaikan salah satu sholat sunah muakadah tersebut.

Tak berapa lama kemudian, masjid sudah mulai berisi orang-orang yang hendak sholat berjamaah. Iqomah pun aku kumandangkan. Segera kami merapatkan shaf untuk menunaikan sholat subuh berjamaah. Setelah sholat selesai, beberapa orang masih betah berada di masjid untuk mengaji, termasuk aku. Tatkala langit mulai sudah sedikit terang. Aku bergegas meninggalkan masjid dan kembali ke ruangan yang dihuni enam orang itu.

Beberapa orang di ruangan itu nampaknya belum bangun. Aku langsung mengambil handuk dan bergegas mandi. Setelah mandi dan berganti baju, aku bergegas keluar ruangan itu sambil melakukan pemanasan dan bersiap melakukan aktifitas seperti biasa. Setelah otot-otot dibadanku sedikit meregang, aku langsung beranjak ke sebuah ruangan yang cukup besar di sudut bangunan itu.

"Pagi bener, Do. Masih dikunci nih, Pak Sardi belum datang. Sarapan dulu aja sana." kata seseorang yang aku temui di ruangan yang orang-orang sebut bengkel tersebut.
"Mau nyelesein yang kemarin, Pak. Abis itu saya baru sarapan." jawabku.
"Ya udah, tunggu sini aja." katanya.

Lebih kurang setengah jam aku menunggu di depan bengkel yang masih terkunci itu. Kemudian seseorang datang menuju ke arahku.

"Udah sarapan?" tanyanya.
"Belum, Pak." jawabku.
"Sarapan dulu sana." katanya.
"Nanti dulu, Pak. Kalau jam segini biasanya rame. Saya nyelesein yang kemarin aja dulu, tinggal dikit." kataku.

Lalu orang itu membukakan pintu bengkel tersebut. Aku langsung bergegas ke sebuah meja di sisi selatan ruangan tersebut.

"Hari ini ada pengiriman, Pak?" tanyaku.
"Ada. Kalau hari ini bisa jadi 1 lusin lagi, nanti dikasih bonus katanya." jawab bapak itu.
"Alhamdulillah, mudah-mudahan keburu, Pak." kataku.

Aku lalu melanjutkan pekerjaanku yang tertunda sehari sebelumnya. Di bengkel itu aku dan beberapa orang membuat berbagai kerajinan berbahan dasar rotan seperti kursi, keranjang, meja dan lain sebagainya. Setiap hasil kerajinan mendapatkan upah yang berbeda. Aku lebih suka membuat keranjang karena bisa kukerjakan sendiri. Artinya upah yang aku terima atas keranjang itu nantinya untuk aku sendiri. Tetapi terkadang aku juga membuat kursi atau meja. Tentu saja hal ini dikerjakan 2 orang. Hasil dari pekerjaan itu tentu juga dibagi dua. Biasanya aku dan Mas Sholeh, rekan sekamarku, yang membuatnya.

Hasil upah itu kugunakan untuk mendukung kehidupanku di tempat itu. Meski sudah mendapatkan tempat tinggal dan makan gratis, tetapi untuk kebutuhan lain, seperti perlengkapan untuk kebersihan dan makanan tambahan, aku harus membelinya sendiri.

Beberapa orang memilih menggunakan kemampuannya untuk membantu yang lain, seperti memijat, mencukur rambut dan lain sebagainya. Beberapa orang lain lebih menggantungkan uang dari keluarga atau teman yang menjenguknya. Aku tidak memiliki kemampuan apapun, bahkan sangat jarang yang menjengukku. Oleh sebab itu aku bertekad mencari uang sendiri tanpa bantuan orang lain. Sisa upah yang tidak aku gunakan, aku simpan untuk tabunganku kelak.

Tanpa aku sadari, bengkel sudah semakin penuh dengan orang-orang yang bekerja. Itu artinya, tempat makan sudah mulai sepi. Aku bergegas meminta ijin untuk sarapan ke penjaga tempat itu. Lalu aku menuju sebuah ruangan yang lebih mirip aula yang disulap menjadi tempat makan dengan bangku dan kursi yang diatur berjajar. Benar, ruangan itu sudah mulai sepi. Aku lalu mengambil baki dan piring di sisi sudut meja.

"Makan, Pak." kataku.
"Sini, Do. Udah banyak yang sarapan. Untung masih ada sisa." kata bapak berpakaian hitam itu.
"Hehehe, nggak apa-apa pak."

Lalu bapak itu menuangkan nasi dan sayur sop ke piringku. Lalu menyodorkan tempe dan tahu kepadaku. Setelah itu aku membawanya ke meja di dekat jendela. Begitulah yang aku makan sehari-hari. Makanan yang seadanya itu sudah cukup untuk mengisi tenagaku untuk bekerja seharian. Setelah selesai makan, aku bawa perlengkapan makan itu ke dapur.

"Udah taruh situ aja." kata bapak itu.
"Nggak apa-apa, Pak." kataku.
"Masih lama disini, Do?" tanyanya.
"Nggak tau, Pak. Kemarin ngajuin kasasi ke PT ditolak. Sekarang sedang mau ngajuin ke MA." kataku.
"Mudah-mudahan dikabulkan ya, Do?" katanya.
"Amiin," kataku "bapak sendiri gimana?" tanyaku.
"Masih lama, Do. Dinikmati aja. Yang penting masih berguna disini." jawabnya.

Pak Slamet adalah salah satu orang yang sudah lama tinggal di tempat itu. Dia menjadi pesakitan karena menghilangkan nyawa seseorang atas alasan ketidakadilan dan dendam. Setelah membantunya mencuci piring, kemudian aku berpamitan padanya dan kembali ke bengkel.

"Do, habis ini bantuin Sholeh ngerjain kursi, ya?" kata Pak Sardi.
"Iya, Pak." kataku.

Kemudian aku bergegas melanjutkan membuat keranjang. Hingga menjelang adzan dhuhur tiba, aku berhasil menyelesaikan 2 keranjang. Setelah menunaikan sholat dhuhur, seseorang memanggilku.

"Do, ada yang jenguk. Buruan ke depan." katanya.

Aku bergegas menuju tempat yang biasa disebut tempat kangen oleh kebanyakan penghuni. Ketika disana aku bertemu dengan penjaga pintu yang memisahkan tempat penghuni dengan sisi depan bangunan itu.

"Dmitry Sindoro, Pak." kataku.
"Oh, iya. Langsung kesana." katanya

Lalu aku beranjak ke sebuah ruangan besar yang terdiri dari bangku-bangku panjang. Aku kebingungan mencari siapa yang menjengukku. Lalu seseorang memanggil namaku.

"Demit!" kudengar suara yang familiar di telingaku itu.

bersambung ....

Friday, October 11, 2013

Semakin Akrab

Tahun 5 Hari 291

"Plok." suara tangan kami bertepuk.
"Ore tanjou (Aku datang)!" kataku sambil menirukan gaya Kamen Rider Den-O.
"Kakak tunggu ya, jangan pulang dulu!" katanya. Aku membalasnya dengan anggukan. Selang beberapa saat setelah sesi high touch berakhir. Dia beranjak ke arahku.

"Kakak, makasih ya udah datang." katanya.
"Sama-sama. Alhamdulillah ada rejeki, jadi bisa nonton kamu perform." kataku.
"Gimana perform-ku tadi? Bagus nggak?" tanyanya.

Penampilannya hari ini memang jauh lebih baik dari minggu lalu. Dia sepertinya bersungguh-sungguh untuk mengejar ketertinggalan dari teman-temannya. Penampilannya di panggung sudah mulai kompak dengan teman-temannya. Tariannya hari ini lebih enerjik dari biasanya, hampir tidak ada gerakan yang salah atau tertinggal.

"Good job! Bagus banget, lebih bagus dari minggu lalu. Gitu dong." kataku menyemangati.
"Iya, setiap perform aku akan selalu berusaha jadi lebih baik dari sebelumnya." katanya.
"Oke, kayaknya aku harus pulang nih. Nggak enak." kataku.
"Kok buru-buru kak?" tanyanya.
"Nggak enak sama yang lain. Lagipula besok aku harus bangun pagi." jawabku.
"Aku belum tahu nama kakak." katanya.
"Namaku Dodo." jawabku.
"Salam kenal ya Kak Dodo."
"Salam kenal juga. Aku pulang dulu ya?" kataku.
"Iya, kak. Hati-hati ya? Kapan-kapan nonton aku perform lagi ya?" katanya.
"InsyaALLAH." lalu aku akhiri pertemuan singkat itu dengan lambaian tangan tanda sebagai tanda perpisahan.

Aku beranjak meninggalkan mal di kawasan Sudirman itu dan bergegas kembali ke tempat kosku. Karena menontonnya di teater hari ini, ada beberapa pekerjaanku yang tertunda. Setibanya di tempat kos. Aku langsung mendata kembali barang dagangan serta pesanan pelangganku. Tanpa sadar, jam di ponselku menunjukkan waktu hampir tengah malam. Tiba-tiba terdengar suara notifikasi di ponselku. Dengan sedikit mengantuk kubaca notifikasi yang ternyata merupakan Direct Messege itu.

"Kakak udah tidur?" tanyanya.
"Udah ZZZZ." jawabku.
"Ihhh jahat. Kakak jadi ke teater kan?"
"Jadi." jawabku.
"Juju bilang orang yang nolong dia itu namanya dodo. Kakak tadi liat orangnya?"
"Namaku kan Dodo."
"Emang kakak yang nolongin Juju?" tanyanya.
"Iya aku yang nolongin. Kenapa? Jealous ya?" tanyaku.
"Serius?"
"Serius lah. jealous ya?" tanyaku.
"Kakak udah 2 kali dateng ke performnya Juju tapi gak pernah dateng ke perform aku di teater :(." jawabnya.
"Aku pernah ke teater sekali loh waktu kamu perform. Lupa ya :( Lagian hari ini kan kamu yang nyuruh dateng :(" jawabku.
"Loh, pernah ya. Maaf nggak ngenalin."
"Aku kan emang nggak terkenal dibandingin fansmu yang lain :("
"Hahaha marah nih ye."
"Padahal lusa aku mau ke teater lihat kamu loh. Nggak jadi deh :("
"Yaaa, kakak dateng dong :("
"Paling ntar juga nggak ngenalin :("
"Ngenalin kok kak. Kakak dateng ya?"
"Iya deh. Tapi sekarang tidur loh ya. Udah malem. Besok kesiangan lagi."
"Kan ada kakak yang bangunin XD Ya deh aku tidur dulu. Oyasunao :)"
"Oyasunao .... sleep tight. Dreamin' of me :D Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam :)"

Setelah saling DM malam itu, kami jadi semakin akrab.

bersambung ....

Wanita Idaman

Tahun 5 Hari 253

"Shin itu, sudah punya pacar?" tanya Minami.
"Belum." jawabku.
"Sou ka (Begitu, ya)." kata Minami sambil terlihat perasaan lega di wajahnya.
"Nan desu ka (Kenapa)?" tanyaku.
"Tidak, aku hanya mau tahu." jawabnya. Sepertinya dia hendak mengungkit perihal beberapa tahun yang lalu.

Aku memang belum pernah menjawab apakah aku menerima atau tidak cinta yang dinyatakan Minami sekitar sepuluh tahun yang lalu. Kuajak dia keluar dari mal itu karena suasananya yang terlalu ramai karena ada event handshake dari salah satu idol group. Kami beranjak menuju halte Trans Jakarta di depan Ratu Plasa. Bus Trans Jakarta membawa kami menyusuri jalanan utama ibukota. Setibanya di halte Semanggi, kamipun turun. Aku ajak dia ke sebuah mal di sudut jalan Semanggi itu.

"Mau cake? Minum?" tanyaku.
"Minum saja." jawabnya.

Kami lalu melangkahkan kaki ke sebuah tempat penjualan kopi di sudut dekat pintu masuk mal tersebut. Tanpa sengaja, kami memesan dua kopi yang sama. Niatku untuk sedikit berhemat hari itu nampaknya harus aku tunda. Kami lalu mengambil tempat duduk sedikit jauh dari tempat kasir.

"Min-chan sudah punya pacar?" tanyaku memulai pembicaraan. Dia hanya menggeleng.
"Min-chan masih suka aku?" tanyaku lagi. Kali ini mukanya memerah. Dia tidak menjawab. Kami terdiam beberapa saat.
"Min-chan masih ingat yang Min-chan katakan di Akibahara?" tanyaku. Dia mengangguk.
"Apa Min-chan masih punya rasa suka yang sama?" tanyaku.
"Kenapa Shin?" tanyanya.
"Tadi Min-chan tanya aku, apa aku sudah punya pacar. Kenapa?" tanyaku. Dia terdiam.
"Kalau aku sudah punya pacar, aku tidak mungkin di sini dengan Min-chan." kataku.
"Shin itu tipe setia, ya?" tanya Minami.
"Aku tidak akan pergi hanya berdua dengan wanita lain kalau aku sudah punya pacar. Itu akan menyakiti perasaannya." kataku.
"Shin suka wanita seperti apa?" tanyanya.
"Aku suka wanita yang berwajah oriental, berkulit putih dan berambut panjang." kataku.
"Seperti aku?" tanya Minami.

Sepertinya aku tanpa sadar menyebut semua ciri-ciri yang ada pada diri Minami. Padahal, bukan dia yang sebenarnya aku maksud, tetapi orang lain yang hari ini baru saja aku temui.

bersambung ....

Wednesday, October 9, 2013

Nembak

Sampai saat ini, mungkin lebih banyak lawan jenis yang menyatakan perasaan suka padaku atau mau menjadi pacarku dibanding sebaliknya.

Tahun -4 Hari .... aku sudah lupa

"君が好き! (Kimi ga suki: Aku suka kamu!)" katanya. Mendadak suara riuh jalanan di sekitar Stasiun Akibahara menghilang dari pendengaranku.
"私わ,シンが好き! (Boku ga, Shin ga suki: Aku, suka dengan Shin!)" katanya. Aku masih tidak mempercayai apa yang baru saja kudengar.
"どうして? (Doushite?: Kenapa?)" tanyaku.
"私はあなたと快適さを感じる (Watashi wa anata to kaiteki-sa okanjiru), I feel comfort with you." katanya.

Tahun 8 Hari 279

Aku sedang asyik mengutak-atik ponselku. Tiba-tiba ada notifikasi dari aplikasi Tweetcaster. "Oh, ada Direct Messege masuk." pikirku. Lalu kubuka pesan di Twitter itu.

"Kakak sudah punya pacar?" tanyanya.
"Belum, aku belum punya pacar." balasku.
"Ngapain nih anak tiba-tiba nanya beginian." pikirku.

Lalu aku teruskan mengutak-atik ponselku. Lebih kurang 10 menit aku mengutak-atik ponselku, aku masih menunggu balasan dari pesan sebelumnya. "Palingan tuh anak cuman iseng." pikirku. Tiba-tiba muncul notifikasi Direct Messege di ponselku. Aku buka pesan itu.

"Aku mau jadi pacar kakak." itulah pesan yang aku terima dari akun Twitter salah satu anggota idol group itu.

Tapi bukan berarti aku tidak pernah menyatakan suka dengan seseorang. Seperti waktu itu. Itulah pertama kalinya aku mengungkapkan rasa suka pada lawan jenis, meski menurut kebanyakan orang itu hanya cinta monyet.

Tahun -8 Hari .... aku sudah lupa

"Aku cinta sama kamu." kataku.
"Hah? Opo (Apa)?" tanyanya.
"Aku cinta sama kamu." kataku menjelaskan.
"Koen ngomong opo seh (Kamu bicara apa sih)?" katanya.
"Aku seneng karo awakmu. Koen gelem dadi pacarku tah (Aku suka sama kamu, kamu mau jadi pacarku?)" kataku.
"Wah, sori yo (Wah, maaf ya)." jawabnya.
"Kenopo (Kenapa)?" tanyaku.
"Sori Dem, ncen awakmu pinter seh. Tapi koen guduk tipeku. Koen gendut, potonganmu lucu. Sori yo (Maaf Dem, memang kamu pintar sih. Tapi kamu bukan tipeku. Kamu gemuk, penampilanmu lucu. Maaf ya)?" jawabnya.

Setelah pembicaraan di lantai dua sekolah kami tepatnya di depan kelasnya itu, dia langsung meninggalkanku. Semenjak itu aku sedikit trauma untuk menyatakan cinta ke lawan jenis.

Tahun -6 Hari .... aku sudah lupa

"Dem, digoleki Fira (Dem, dicari Fira)." kata salah satu teman sekelasku.
"Laopo nggoleki aku (Ngapain nyariin aku)?" tanyaku.
"Embuh, engkok helum halokes dienteni ndek mburi aula (Entah, nanti pulang sekolah ditunggu di belakang aula)." katanya.
"Oyi, suwun (Iya, makasih)."

Aku tidak habis pikir kenapa dia mau menemuiku. Memang sekarang kami masih sekolah di sekolah yang sama. Hampir setiap hari aku masih bertemu dengannya dan masih saling menyapa. Sepulang sekolah, aku lalu menuju belakang aula.

"Wes suwe tah ngentenine (Sudah lama nunggunya)?" tanyaku.
"Nggak, jek ket ae kok (Nggak, baru aja kok)." jawabnya.
"Onok opo pengen ketemu aku (Ada apa mau ketemu aku)?" tanyaku.
"Koen sek loro ati gak biyen tak tolak (Kamu masih sakit hati nggak dulu aku tolak)?" tanyanya.
"Nggak lah, gak po-po kok. Santai ae (Nggak lah, tidak apa-apa kok. Tenang saja)" kataku "emange opo o (Memangnya kenapa)?"
"Koen gelem dadi pacarku nggak (Kamu mau jadi pacarku nggak)?" tanyanya.
"Hah?" tanyaku kaget.

bersambung ...

Aku Bukan Pangeran

Tahun 5 Hari 286

Hari ini aku memang sengaja ke teater idol group itu. Memang dia tidak tampil hari ini, tetapi ada orang lain yang ingin aku lihat penampilannya hari ini. Dari informasi yang aku dapat, hari ini orang lain itu memastikan dirinya akan tampil. Aku ingin melihat, apa dia masih depresi atas kejadian kemarin.

Show pun dimulai. Dia tampil seperti biasanya. Aku jadi berpikir, sepertinya yang ditulis oleh salah satu fans pada sebuah catatan di media sosial itu ada benarnya. Dia tampak kurang kompak dengan teman sepanggungnya. Tapi aku melihat ada semangat di senyum dan matanya. Dia berusaha mengimbangi performa teman sepanggungnya.

Aku sangat maklum, mungkin dia masih sedikit lemah setelah kejadian minggu kemarin. Selain itu, seminggu ini dia juga absen berlatih. Para penonton pasti akan mengambil satu kesimpulan yang berbeda denganku atas penampilannya hari ini. Aku sangat memaklumi hal itu, karena kejadian seminggu yang lalu hanya aku, personil belakang panggung, pihak manajemen dan anggota lain yang tahu.

Akhirnya show itu pun berakhir. Tibalah saat high touch dengan para anggota idol group yang tampil hari ini. Bila prediksiku tidak meleset, lebih baik aku keluar paling akhir saja pada sesi high touch ini. Satu-persatu penonton mulai meninggalkan teater itu. Para penonton antusias untuk melakukan high touch dengan anggota idol group itu. Akhirnya semua penonton sudah membuat barisan, aku memilih antrian paling ujung belakang pada barisan itu.

Semua penonton sudah mulai keluar, akhirnya giliranku melakukan high touch. Semua member melakukan high touch denganku. Dia ada pada urutan ke 6 dari member pertama yang melakukan high touch denganku. Ketika aku melakukan high touch dengan member kedua dia melihat ke arahku. Aku acuhkan saja, meski aku tahu dia melihat ke arahku. Aku terus melakukan high touch, tidak sedetikpun dia berpaling dari melihatku. Sampai akhirnya tiba giliranku high touch dengannya.

"Plok." suara tangan kami bersentuhan.
"Maaf ya waktu itu. Udah baikan, kan? Otsukare .." kataku padanya. Lalu aku berlalu dari hadapannya.

Seketika dia terpaku. Saat aku melakukan high touch dengan member terakhir, sepertinya dia sadar akan sesuatu.

"Kakak!" teriaknya. Aku acuhkan panggilannya. Aku tidak mau ge-er, mungkin orang lain yang dipanggil olehnya.

"Kakak! Jangan pergi!" katanya. Kata-kata yang sama yang aku dengar seminggu lalu dengan nada yang lebih lemah. Aku tetap mengacuhkannya dan melangkahkan kakiku meninggalkan teater. Penonton yang lebih dulu pergi bingung siapa yang dipanggil olehnya.

"Kakak yang pake kacamata, jaket hitam, baju merah jangan pergi!" teriaknya. Seketika aku sadar dia menyebut apa yang aku kenakan saat itu.
"Mas, dipanggil tuh." kata seorang penjaga di ruangan itu. Dia bergegas berlari ke arahku.
"Kakak yang waktu itu di Poin's Square, kan?" tanyanya.
"Aku cuma lewat." kataku sambil tersenyum.
"Kakak yang waktu itu nolong aku, kan?" tanyanya.
"Waktu itu banyak yang nolong kamu, kan?" tanyaku balik.
"Iya, tapi waktu pertama sadar aku lihat Kakak. Kakak yang nolong aku sadar, kan?" tanyanya.
"Ada banyak orang yang nolong kok." kataku.
"Iya, tapi kakak kan yang waktu itu megang tangan aku waktu aku sadar, terus minta maaf karena udah neken tangan aku biar aku sadar. Iya, kan?" tanyanya.
"Alhamdulillah kalau kamu inget." kataku.
"Bener Kakak, ya? Makasih ya!" katanya sambil membungkukkan badanya.
"Alhamdulillah kalau aku berguna. By the way, kamu masih kepikiran tulisan salah satu fans yang waktu itu lagi ramai di media sosial ya?" tanyaku.
"Kok Kakak tahu?" tanyanya.
"Itu yang memicu kamu depresi dan akhirnya collapse minggu kemarin, kan?" tanyaku.
"Iya." jawabnya sambil menunjukkan muka murung.

"Jangan dimasukin hati, ya? Fans bermacam-macam, beberapa malah ceplas-ceplos bahkan kelewatan. Namanya juga manusia. Dimaklumi saja. Jangan merasa depresi. Dijadikan pelajaran saja. Jangan dipendam, kan bisa diceritakan ke member yang lain, terutama kakakmu, kan?" kataku.
"Iya." jawabnya.
"Sekarang kamu, tetap semangat ya. Latihannya yang rajin. Bila perlu minta kakakmu mengajari berlatih lagu dan tariannya. Kamu tidak perlu jadi seperti kakakmu. Kalau boleh jujur, kakakmu sudah masuk level Kami. Dia bisa disejajarkan dengan Tim D. Lebih baik kamu jadi diri kamu sendiri. Buatlah dirimu unik dari yang lain, niscaya akan semakin banyak yang menyukai dan mendukungmu. Termasuk aku." kataku
"Makasih ya kak sarannya." katanya.
"Nah, aku pulang dulu ya. Sudah malam. Kamu jangan pulang malam-malam, ya? Masih harus banyak istirahat lho. Besok sekolah, kan?" tanyaku. Dia hanya menjawab dengan anggukan.
"Oke, kalau gitu. Sampai jumpa, ya?" kataku.
"Kakak, minggu depan liat aku perform, ya?" katanya.
"InsyaALLAH. Kalau ada rejeki aku akan nonton." jawabku. Lalu aku melambaikan tanganku padanya sebagai tanda perpisahan.

Aku pun bergegas pulang. Hawa dingin menusuk tulang. Jakarta habis diguyur hujan rupanya malam itu. Sesampai di tempat kos, aku tidak dapat menahan rasa kantukku. Tanpa mengganti baju, aku terlelap tidur diatas kasur kapuk tanpa sprei itu.

Tahun 5 Hari 287

"Ohayou! Selamat pagi! Ayo bangun! Jangan tidur lagi, ya? Semangat buat hari ini!" tiba-tiba kudengar suara yang biasa aku kenal itu membangunkanku.
Setelah terbangun, aku lalu meraih ponselku. Sebuah DM kulihat muncul di deretan notifikasiku.

"Tau nggak kak. Juju semalem seneng banget pulang dari teater."
"Kakak udah tidur, ya? Oyasunao."

Lalu aku balas DM itu.

"Maaf, tadi malam kecapekan. Tidur cepet tanpa pamit ke kamu deh ^^"

Lalu aku bergegas ke kamar mandi untuk menggosok gigi kemudian mengambil air wudhu. Setelah itu aku melaksanakan qiyam lail. Setelah selesai, sembari menunggu adzan subuh, aku otak atik ponselku.

"Kakak udah bangun?" isi DM itu.
"Udah, kamu tumben udah bangun." balasku.
"Kakak sih bangun pagi2 lgsg mention aku disuruh bangun, akunya bangun deh."
"Lha ini kan belum aku mention."
"Berarti telat XD."
"Si Juju kenapa semalem." tanyaku melalui DM.
"Nggak tau, seneng banget. Berubah dia, kayaknya habis ketemu prince charming gitu."
"Prince charming siapa?"
"Katanya orang yang nolongin dia minggu kemarin dateng ke teater."
"Hmmm, siapa ya. Eh shubuh dulu yuk, udah mau adzan."
"Iya, mau ke masjid ya? Ati2 ya."

Ketika kulihat di aplikasi Kupluk, adzan subuh masih 10 menit lagi. Tetapi aku terpaksa mengakhiri percakapan melalui DM itu.

bersambung ....

Tuesday, October 8, 2013

Bully?

Tahun 5 Hari 277

"Mas, coba baca deh. Lagi rame tuh di kalangan fans." kata Aldi.

Aku lalu mencermati sebuah halaman di media sosial itu. Salah satu pemilik akun media sosial itu menulis sebuah catatan yang cukup panjang tentang performa idol group yang sedang naik daun itu. Isi tulisan yang berisi tentang pendapatnya akan performa idol group itu menurutku tidak ada yang aneh.

Hampir semua anggota idol group itu mendapat ulasan, kebanyakan ulasan positif yang didapat. Pemilik akun itu menyebut, kebanyakan anggota idol group itu sudah mengalami kemajuan yang pesat. Ada satu anggota yang mendapat banyak kritik. Karena semenjak bergabung hingga sekarang, perkembangan anggota yang satu ini terbilang lambat dibandingkan teman-temannya. Padahal dia sudah tergabung dalam tim K5.

Aku menduga dia sudah membaca catatan fans itu. Entah apa yang ada dipikirannya setelah membacanya. "Kenapa aku sekarang jadi mengkhawatirkannya?" pikirku. "Nge-fans juga nggak." sisi pikiranku yang lain menimpali. Jujur, semenjak membaca catatan fans itu, terlebih komentar-komentar di dalamnya, aku semakin khawatir.

Lalu kulihat jadwal idol group itu. Ternyata lusa mereka ada perform di sebuah mal di kawasan Jakarta Selatan. Lalu kukirim sebuah DM ke salah satu anggota idol group itu.

"Lusa ikut perform di Poin's Square? Juju ikut?" begitu isi Direct Messege-ku

Aku masih membaca beberapa komentar terkait catatan itu bersama dengan Aldi. Aldi sebenarnya adalah fans tingkat wahid dari idol group tersebut. Semua berita dan perkembangan idol group itu tidak ada yang tidak diketahui Aldi. Bahkan status Facebook dan kicauan Twitter-nya hampir 100% berisi tentang idol group tersebut, terutama oshi-nya yaitu Jenni. Saat itu pun aku aku juga membahas banyak tentang idol group tersebut dengannya. Termasuk bagaimana para anggota yang bersaudara yang tergabung di grup tersebut. Aldi ternyata sependapat denganku. Anggota idol group yang bersaudara pasti salah satu ada yang menonjol dan yang lain hanya menjadi bayang-bayang saudaranya. Sayang, menurutku hal seperti itu tidak perlu dijadikan bahasan di media publik.

Setengah jam kemudian, terdengar bunyi notifikasi dari ponselku. Sekejap aku buka notifikasi itu, ternyata Direct Messege. Kubuka DM itu, ternyata ada balasan dari akun @Nao_DKI48.

"Ikut dong, Juju juga ikut kok. Kakak nonton ya?"
"Loh, Mas Dodo kok bisa DM-DM-an sama Nao-chan?" tanya Aldi yang tanpa sengaja melihat ke layar ponselku.

bersambung ....

Monday, October 7, 2013

I Will Save You! 俺の仲間! (ORE NO NAKAMA!)

Tahun -4 Hari .... 2 hari setelah pulang dari Jepang

"Ada yang terluka parah di bawah jembatan Kali Brantas. Mungkin sekarang sudah mati." kataku.

Tak berapa lama, raungan sirine ambulan memecah keheningan diiringi adzan Isya. Aku membopong Didit yang sudah berlumuran darah ke salah satu tempat tidur di ruangan itu. Petugas medis segera menanganinya.

"Kamu mana yang luka?" tanya salah seorang perawat di ruangan itu.
"Nggak ada, ini darah temen saya." kataku.

Beberapa saat sebelumnya ....

Aku membuat janji dengan Didit untuk memberikan oleh-oleh dan pesanannya dari Jepang. Aku mengajaknya untuk bertemu di sebuah plasa di pusat kota Malang. Ketika sampai disana, aku melihat Didit dirangkul oleh dua orang. Aku tidak tahu siapa, mungkin temannya. Didit dan kedua orang itu berjalan meninggalkan kawasan plasa itu. Aku masih belum berani menegurnya, mungkin dia juga ada janji bertemu dengan temannya.

Aku ikuti mereka dari kejauhan. Didit berjalan semakin menjauh dari kawasan plasa itu. Sekitar lebih dari satu kilometer mereka meninggalkan kawasan plasa itu dan aku tetap mengikuti mereka dari kejauhan. Hingga mereka sampai di sebuah jembatan. Mereka bertiga turun ke bawah jembatan yang gelap itu. Aku melihat mereka dari atas jembatan. Di bawah jembatan itu, aku melihat Didit ditodong pisau oleh kedua orang itu.

Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku sendiri takut. Didit tidak mau menyerahkan apa yang dua orang tersebut minta. Seseorang mulai memukulnya. Didit masih tidak bergeming. Ketika yang lain mencoba merebut tasnya, Didit mempertahankannya mati-matian hingga akhirnya mereka berdua mengeroyok Didit. Setelah Didit terlihat tidak berdaya, salah seorang diantara mereka mengambil tas Didit. Mereka menemukan ponsel Didit dan dompetnya yang berisi uang yang tidak sedikit. Ya, uang itu digunakan untuk membayar pesanannya yang aku bawakan dari Jepang.

Setelah mendapatkan apa yang mereka mau, salah seorang dari mereka menginjak kepala Didit sambil berkata "Cobak koen nurut ket mau, gak usah susah-susah aku ngajar koen. Ngene kan enak, podo enake. Aku oleh, koen gak perlu melbu rumah sakit. Nek sek angel maneh tak suduk koen. (Coba kamu menurut dari tadi, aku tidak perlu susah-susah menghajarmu. Begini kan enak, sama enaknya. Aku dapat dan kamu tidak perlu masuk rumah sakit. Kalau masih susah saja saya tusuk kamu.)"

Tanpa dikomando, aku melangkahkan kakiku ke bawah jembatan sambil meneriakkan nama Didit. Kedua orang itu langsung terkejut. Aku mengira mereka bakal kabur meninggalkan Didit. Ternyata perhitunganku salah. Salah seorang dari mereka berlari ke arahku sambil membawa pisau terhunus. Aku sebenarnya tidak takut berhadapan dengannya. Kondisi tempat pertarungan yang membuatku ragu bisa bertarung dengan baik melawan mereka. Tempat pertarunganku adalah sebuah jembatan yang terbuat dari batu kali dengan sudut kemiringan sekitar empat puluh lima derajat dengan sisi kiri dinding jembatan dan sisi kanan tanpa pegangan tangga.

Saat serangan pertama orang itu dilancarkan, aku mampu menghindar. "Aku harus membawa pertarungan ini ke tempat lain yang lebih memungkinkan." pikirku. Aku mampu menghindar? Ya. Aku tergabung dalam dojo Aikido dan saat ini aku sudah memegang tingkat Shodan. Tusukan oleh orang yang hanya memiliki basis street fighter sangat mudah aku hindari. Saat aku sudah mendekati ke orang kedua, dia melancarkan serangan. Serangannya dapat aku lumpuhkan dengan kaiten-nage dan menghasilkan pisaunya terjatuh ke dalam sungai yang jaraknya lebih kurang sepuluh meter dibawah tempat Didit terkapar.

Orang kedua berhasil kulumpuhkan dan tidak dapat bergerak. Dia terkapar di dekat Didit. Melihat temannya terkapar, orang yang masih berada di tangga itu berlari ke arahku, lagi, dengan pisau masih terhunus. Lokasi terkaparnya Didit dan orang yang lain itu, sebenarnya kurang memungkinkan dijadikan arena pertarungan. Tempat itu hanya sebesar tiga kali dua meter. Apa boleh buat. Aku hadapi juga orang itu.

Sama seperti sebelumnya orang itu dapat aku lumpuhkan dengan mudah. Setelah itu, aku beranjak menghampiri Didit. Aku berniat segera membawanya ke rumah sakit. Tak kusangka, orang yang baru saja aku lumpuhkan ternyata sanggup berdiri. Disinilah letak kesalahanku, aku tidak membuang pisau yang digunakannya. Dia kembali menyerangku. Aku sungguh beruntung, bisa menghindarinya. Terlambat sedikit saja mungkin dia berhasil menusuk punggungku. Tanpa sengaja, orang tersebut menginjak kepala Didit yang sudah berlumuran darah.

"How dare you step on my nakama's head, bastard!" pikirku. Lalu orang itu melancarkan serangan kedua. Kusambut dengan kote-gaeshi. Tanpa sengaja pisau yang dipegangnya kuarahkan ke dadanya. Alhasil, pisau yang dipegangnya menancap di dada orang itu. Darah segar langsung mengucur dari dadanya dan seketika dia ambruk tak bergerak. Temannya yang melihat dia ambruk melarikan diri.

Seketika aku bopong Didit dan membawanya keatas jembatan. Sesampainya diatas jembatan, beberapa orang yang melihat kami dengan segera menghampiri. Beberapa orang menolongku membopong Didit dan yang lain berusaha memberhentikan mikrolet. Sebuah mikrolet berhenti. Beberapa orang penumpang di dalamnya dengan sadar keluar dari mikrolet. Lalu aku dibantu beberapa orang menaikkan Didit.

"Wes, suwun. Tak gowone dewe, Sam (Sudah, terima kasih. Aku bawa sendiri, Mas)!" kataku pada beberapa orang yang menolongku.
"Ndek ngisor jembatan onok seng kesuduk lading. Tulungono ae iku. Ben aku nggowo koncoku iki disek nang RSSA." kataku.

Beberapa orang kemudian bergerak turun ke bawah jembatan. Mencari orang yang tertusuk pisau tadi. Dengan segera, pengemudi mikrolet menjalankan kendaraannya.

"Waduh, kenek opo iki Sam kok sampek koyok ngene (Waduh, kenapa ini mas kok bisa sampai begini)?" tanya pengemudi itu.
"Bar dikeroyok ndek ngisor jembatan, Sam. Wes saiki terno nang RSSA. Sepurane yo tak carter iki mikrolete sampeyan (Habis dikeroyok di bawah jembatan, Mas. Sudah, sekarang antarkan ke RSSA. Maaf ya mikroletnya aku carter)." kataku.
"Oyi, santai ae." jawabnya.

Lalu mikrolet itu bergerak membawa kami ke Rumah Sakit Saiful Anwar.

bersambung ....

Mention

Tahun 5 Hari 38

"@Nao_DKI48 assalamu'alaikum, selamat pagi. Bangun yuk, udah mau adzan subuh."
"@Nao_DKI48 hai, jangan lupa sholat dhuha biar dimudahkan segala urusan hari ini (^o^)/"
"@Nao_DKI48 udah mau dhuhur nih, jangan lupa sholat ya? Jangan lupa makan siang juga ^^"
"@Nao_DKI48 selamat sore, tetap semangat menjalani hari ^_^ jangan lupa ashar ya"
"@Nao_DKI48 apakah kau melihat mentari tenggelam? Tandanya udah mau maghrib ^_^"
"@Nao_DKI48 jangan lupa makan malam, udah mau isya' nih. Makan dulu biar pas sholat nggak kepikiran :)"
"@Nao_DKI48 istirahat yang cukup ya? Jangan tidur malam2"
"@Nao_DKI48 oyasunao, have a nice dream .... dreamin' of me #eh"

Begitulah isi tweet-ku setiap hari. Sejak aku mengenalnya dan mulai nge-fans dengan kapten tim K5 itu, lebih dari lima buah tweet-ku kutujukan kepadanya, hanya untuk sekedar menyapa atau mengingatkannya.

"Mungkin juga nggak dibaca." pikirku. Tetapi aku tetap mengirimkan mention kepadanya setiap hari meski tidak pernah sekalipun dia membalasnya.

"Selamat pagi, terima kasih sudah mendukung dan mengingatkanku akan segala hal." tweet miliknya yang sepertinya ditujukan untuk anonim itu sudah cukup menyenangkanku. Hingga suatu hari ....

Tahun 6 Hari 130

"Kak @do2345671 bangun! Udah siang loh."
"@Nao_DKI48 udah bangun dari tadi weee."

Setelah mention pertama padaku di Twitter itu, mendadak banyak mention dari akun yang tidak aku kenal.

bersambung ....

Sunday, October 6, 2013

The Feeling

Tahun -4 Hari .... aku sudah lupa

"君が好き! (Aku suka kamu!)" katanya. Mendadak suara riuh jalanan di sekitar Stasiun Akibahara menghilang dari pendengaranku.
"私わ,シンが好き! (Aku, suka dengan Shin!)" katanya. Aku masih tidak mempercayai apa yang baru saja kudengar.
"どうして? (Kenapa?)" tanyaku.
"私はあなたと快適さを感じる, I feel comfort with you." katanya.
"But, why me? Why you tell me at my last day in Japan?" kataku.
"I wanna be with you!' jawabnya.
"I can't decide it now. I feel confuse." jawabku bingung.
"It's, OK. You can take your time to think about it. At least, I can show you my feeling." katanya.
"I don't know. Maybe, I will give you answer when I arrive at Indonesia." jawabku.
"It's OK, I will wait. So, let's celebrate your last day in Japan." katanya.
"はい、行く!(Ya, ayo!)." kataku.

Tetapi aku belum bisa memberinya jawaban itu, karena seminggu setelah itu, aku harus menyelamatkan Didit.

bersambung ....

Kesurupan

Tahun 5 Hari 279

Tiba-tiba aku mendengarkan suara gaduh di belakang panggung. Para penonton yang sedang asyik menonton performa salah satu artis itu, sepertinya kurang aware akan kegaduhan dibelakang panggung. Tanpa dikomando, kaki langsung bergegas ke arah belakang panggung.

"Ada yang pingsan!" kata seseorang di belakang panggung. Aku bergegas mendekati keramaian itu. Seorang gadis dibopong menuju sebuah tenda tertutup yang lokasinya tidak jauh dari panggung itu. Beberapa teman-teman gadis itu mengikuti kemana gadis itu dibawa. Lalu, sesampainya di dalam tenda itu, gadis itu sadar dan meronta.

"Pegangin-pegangin, dia kesurupan." kata salah seorang yang memegang gadis itu. Seketika teman-teman gadis itu panik. Beberapa temannya memeganginya. Bergegas aku menerobos ke kerumunan itu.

"Tenang, tenang. Saya dulu kader kesehatan!" kataku sambil mendekati gadis itu.
"Tolong semua cewek keluar dari tenda ini, sekarang!" perintahku.
"Tapi, tapi." kata salah seorang temannya.
"Semua cewek keluar tanpa terkecuali! Atau semuanya bakal seperti dia!" teriakku marah.
"Tolong mas-mas yang kuat bantu saya megangin!" beberapa orang dengan sigap memegang tangan dan kaki gadis itu.

Lalu aku mulai melepas sepatu dan kaus kakinya. Lalu aku lepas satu kancing atas bajunya dan aku renggangkan ikat pinggangnya.

"Mas, tolong bilangin yang diluar suruh nyari balsem atau minyak apa gitu yang baunya kuat, sekarang!" perintahku pada salah satu seseorang yang berada di dekat pintu keluar tenda itu. Lalu aku mulai menekan bagian yang terletak di antara jari telunjuk dan ibu jari gadis itu kuat-kuat. Aku terus menekannya meski dia meronta-ronta kesakitan.

"Mas, apa nggak manggil ustad atau orang pintar aja, Mas?" tanya salah satu orang yang memegang gadis itu.
"Pak, kalau Bapak ngira kesurupan kayak gini ini gara-gara kerasukan makhluk halus, Bapak salah besar!" kataku dengan nada marah.
"Tapi ini kayak kemasukan, Mas!" jawabnya.
"Ini bukan kemasukan, Pak. Udah, Bapak percaya saja sama saya!" jawabku.

Kebanyakan orang mengira kesurupan adalah akibat kesurupan makhluk halus. Sepengetahuanku dari mengikuti program kader kesehatan sekolah atau dulu sering disebut dokter kecil menampik praduga itu. Kesurupan yang banyak dialami khususnya remaja putri bukan karena dirasuki makhluk halus. Hal itu disebabkan karena orang tersebut sudah menahan perasaan akan sesuatu begitu lama. Entah itu kekecewaan, kekesalan, sakit hati dan lain sebagainya yang dipendam sendiri tanpa diceritakan ke orang lain. Suatu saat, perasaan yang sudah menumpuk itu tentu meronta untuk di keluarkan. Satu hal kecil seperti kelelahan atau bahkan ucapan kasar yang bisa membuatnya down bisa memicu perasaan tersebut keluar.

Karena itu, aku memerintahkan semua teman-teman ceweknya keluar karena ini bisa memicu efek berantai. Bila ada gadis yang sama yang mengalami hal diatas dan melihat temannya kesurupan seperti itu, bisa memicunya kesurupan juga.

Lalu seseorang masuk dengan membawakan sebuah balsem. Aku oleskan balsem panas itu ke hidung gadis itu. Gadis itu terus meronta-ronta sambil berbicara ngelantur. Kejadian itu berlangsung lebih dari setengah jam. Tiba-tiba gadis itu berhenti meronta. Matanya seketika terbuka perlahan.

"Tolong Mas beliin susu sama teh anget!" kataku sambil memberikan selembar uang kepada salah seorang di tenda itu.. Gadis itu mulai membuka matanya. Aku usap dahinya.
"Udah sadar?" tanyaku. Dia hanya mengangguk. Lalu kuusap sisa balsem di hidungnya.
"Maaf ya. Tadi aku buka kaus kaki sama sepatunya. Ini juga aku buka." kataku sambil menunjuk kancing atas bajunya. Dia hanya mengangguk. Lalu seseorang masuk membawa sekotak susu cair.
"Nih, minum dulu. Biar tenaganya balik." kataku. Lalu gadis itu meminum susu itu. Setelah selesai, aku berbicara padanya.
"Tangannya sakit, ya?" tanyaku.
"Iya." jawabnya lirih. Lalu aku tunjukkan tangannya yang memerah hasil aku tekan selama setengah jam lebih itu.
"Ini tadi aku tekan, maaf ya? Yang penting sekarang kamu sudah sadar." kataku.
"Makasih, ya?" katanya sambil matanya sedikit berkaca-kaca.

Itulah cara penanganan korban kesurupan. Pertama adalah melancarkan peredaran darah dan udara. Pastikan semua hal yang mengikat atau menghambat aliran darah dan oksigen dilepaskan, seperti kancing baju, ikat pinggang, sepatu, gelang, kalung dan lain sebagainya. Lalu pancing kesadarannya menggunakan bau-bauan yang menyenga. Idealnya menggunakan bau semacam terasi, bila tidak dimungkinkan bisa menggunakan balsem atau benda lain meskipun tidak seefektif terasi. Selain itu tekan bagian yang berada diantara jari telunjuk dan ibu jari yang disebut titik kesadaran secara terus menerus hingga korban sadar. Setelah korban sadar, lebih baik diberikan susu untuk memulihkan tenaganya.

"Istirahat dulu ya? Nanti kalau sudah hilang pusingnya dan udah nggak lemes, langsung pulang dan istirahat di rumah ya? Kalau perlu minta off dulu satu atau dua hari." kataku.
"Iya, makasih ya, Kak." katanya.

Lalu aku berdiri dan kemudian beranjak meninggalkannya.
"Kakak, jangan pergi dulu." katanya. Aku tidak menggubris permintaannya dan terus meninggalkannya. Semakin jauh aku mendengar suaranya yang lirih yang memintaku untuk tidak pergi. Lalu aku menemui salah seorang dari temannya.
"Mbak, itu dia kalau bisa suruh off dulu deh barang satu atau dua hari, kasihan." kataku.
"Nanti aku tanyain pihak manajemen deh. Dia udah sadar?" tanyanya.
"Udah, kalau mau masuk aja, tapi jangan banyak orang, ya?" kataku.
"Oke, makasih ya." katanya.
"Itu kayaknya nyariin kakaknya, suruh kakaknya nemenin aja. Teman-temannya jangan boleh masuk dulu." kataku.
"Oke, nanti aku kasih tahu." katanya.
"Aku cabut dulu ya, bye." kataku.
"Loh, mau kemana?" tanyanya.

Aku hiraukan pertanyaannya dan langsung kutinggalkan area panggung itu dan langsung menuju ke tempat parkir. Aku ambil motorku dan segera meninggalkan area mal tersebut. Malam harinya, seseorang mengirimkan Direct Messege di Twitterku.

"Kakak hari ini nonton perform? Sepertinya tadi aku lihat kakak." begitulah isi Direct Messege itu.

bersambung ....

Pertama Ku Menyukaimu

Tahun 5 Hari 21

"Yang ini namanya siapa?" tanyaku.
"Yang mana, Mas?" tanya Aldi.
"Nah, yang ini nih." jawabku.
"Oh, ini namanya Nao-chan." jawab Aldi.

Mataku tiba-tiba terpaku pada salah satu anggota idol group itu. Dia menari dengan enerjik, ekspresi mukanya menyatu dengan lagu yang dibawakannya. Tatap matanya seolah mengajakku untuk menari bersamanya. Sejenak, aku terhipnotis oleh lagu Apakah Kau Melihat Mentari Tenggelam itu.

"Boleh minta file-nya?" tanyaku.
"Copy aja, Mas." jawab Aldi.

Bergegas aku mengambil flashdisk, lalu menyalin berkas video klip itu.

"Mau ketemu sama Nao-chan, Mas?" tanya Aldi.
"Emang bisa?" tanyaku.
"Bisa, kadang seminggu sekali dia show di teater. Nanti selesai teater bisa high touch sama yang hari itu perform. Kalau dia ada jadwal show hari itu, ya kita bisa high touch sama dia." jawab Aldi.
"High touch itu ngapain?" tanyaku.
"Semacam tos gitu lah. Sebagai tanda terima kasih kalau sudah menghibur dan terima kasih sudah nonton. Itu juga yang mendekatkan fans sama member. Kadang fans juga ngasih fan let atau nulis di blog atau media sosialnya dia sebagai respon atas performa member saat itu." jawab Aldi.
"Fan let itu apa?" tanyaku.
"Fan letter. Kalau nulis di media sosial atau blog, biasanya habis selesai nulis di mention ke Twitter member biar member-nya baca." jawab Aldi.
"Wah, konsepnya bagus. Kayak bisnis aja. Hahaha."
"Ya buat pihak manajemen ini kan bisnis, Mas."
"Si Nao-chan kapan ada show?" tanyaku.
"Cek aja di website-nya."

Lalu Aldi memintaku membuka alamat situs idol group itu. Aku lihat profil Nao-chan, ternyata ada akun Twitter-nya. Seketika aku follow akun Twitter-nya. Saat aku buka jadwal teater, ternyata besok ada jadwal Nao-chan tampil.
"Besok nonton yuk?" kataku.
"Wah mendadak, enaknya sih kirim email dulu buat reserve tiket, nanti kalau dapet email verifikasi berarti bisa dateng kesana." jawab Aldi.
"Lah, mana tahu gue kalau pakai acara begituan."
"Kalau gitu besok aja langsung kesana, beli tiket WL." jawab Aldi.
"Apaan tuh WL?" tanyaku.
"Waiting List. Itu yang gak dapet email verifikasi atau yang mau go show nonton bisa langsung datang kesana antri tiket. Selama masih ada jatah tiket buat hari itu sih, bisa aja nonton show." jawabnya.
"WL aja deh mas besok, sekalian beli CD versi teater." katanya menambahkan.
"Apa bedanya sama CD yang dijual biasanya?" tanyaku.
"Harganya lebih murah karena bonusnya dikurangin, tapi kita bisa dapet tiket event handshake." jawabnya.
"Apalagi tuh handshake?" tanyaku.
"Itu semacam acara member ketemu sama fans. Nanti fans berkesempatan bersalaman dan ngobrol sama member. Satu CD nanti dapat satu tiket, satu tiket waktunya sepuluh detik." jawabnya.
"Bentar banget waktunya." kataku.
"Ya beli CD yang banyak dong, hahaha." jawabnya.

Akhirnya malam itu, aku memaksa Aldi menemaniku menonton teater dan antri membeli CD demi dapat bersalaman dengan Nao-chan.

bersambung ....

Friday, October 4, 2013

This is My Life

Tahun 5 Hari 1

"Pak, mau ambil barang." kataku.
"Lama nggak kesini, Mas." tanya bapak itu.
"Nunggu banyak dulu, Pak. Lagian ngirimnya lama sih hehehe." kataku.
"Namanya juga free shipping, Mas. Kalau mau cepet ya pakai kurir semacam DHL gitu." jawabnya.
"Ogah, Pak. Mahal, hehehe."

Lalu bapak itu beranjak dari tempat duduknya menuju ke bagian belakang kantor itu. Tak berapa lama kemudian, bapak itu kembali sambil membawa sebuah keranjang berisi beberapa paket.

"Ada banyak ya, Mas?" tanyanya.
"Tujuh ya, Pak." jawabku.
"Iya, ada tujuh," katanya "jadi dua puluh satu ribu, ya?"

Lalu aku menyodorkan sejumlah uang kepada bapak itu.

"Pak, kok nggak dianter aja sih ke rumah saya?" tanyaku.
"Kayaknya itu kebijakan sini deh, Mas." jawabnya.
"Padahal di kantor pos lain diantar tuh, Pak." kataku.
"Nggak tau juga ya." tegasnya.
"Kalau dianter saya mau tuh kasih lebih dari tiga ribu satu paketnya. Bapak tau yang biasa nganter ke daerah saya nggak?" tanyaku.
"Coba nanti saya tanyakan bagian pengiriman ya." jawabnya.
"Kalau ada bilangin aja ya, Pak? Boleh minta nomor teleponnya sini nggak, Pak? Nanti kalau saya cek di website EMS sudah sampai sini saya telepon deh." kataku.
"Loh, masih ada lagi?" tanyanya.
"Kan saya suka masukin barang, Pak. Hehehe, seminggu ada kali dua kali saya masukin barang. Kalau nggak gitu, makan apa saya." jawabku.
"Oke, Mas. Nanti saya kasih tau bagian pengiriman deh." kata bapak itu sambil mencatatkan nomor telepon kantornya.
"Makasih ya, Pak."

Lalu bapak itu menyerahkan paket-paket itu kepadaku. Segera saja aku masukkan paket-paket itu ke tas. Lalu aku bergegas meninggalkan kantor pos di bilangan ciputat itu.

"Kayaknya perlu balik ke kos dulu deh, sekalian ngirim pesanan Ko Yopi di Roxy." pikirku. Lalu aku putuskan untuk kembali ke tempat kosku. Ketika sudah dekat dengan tempat kosku, seseorang memanggilku.

"Dodo!" seketika aku menghentikan laju motorku.
"Oi, kenapa, Wal?" tanyaku.
"Voucher-nya udah ada?" tanyanya.
"Belum, ini baru mau jalan lagi." jawabku.
"Ooo, kirain udah."
"Abis ini ya? Abis ini gue ke tempet elu nganterin charger yang elu pesen kemarin." kataku.
"Udah dateng, ya? Sip deh." katanya.
"Gue ke kos dulu, ya?"
"Oke."

Lalu aku melanjutkan perjalananku. Setibanya di tempat kos, aku buka semua paket yang baru saja aku ambil dari kantor pos. Lalu aku pisah-pisahkan berdasarkan nama pemesan sesuai yang ada di daftarku. Setelah selesai, kumasukkan kembali pesanan yang sudah aku pisahkan tadi ke dalam tasku. Lalu aku kembali beranjak meninggalkan tempat kosku. Kukendarai kembali motorku menuju toko ponsel milik Awal.

"Nih, charger-nya, sisa enam biji doang." kataku.
"Oke, uangnya sekarang?" tanyanya.
"Ntar aja sekalian sama voucher sama perdananya." kataku.
"Sip." balas Awal. "Gue cabut dulu ya?" kataku.
"Oke, ati-ati, Do." balas Awal.

Lalu aku pergi meninggalkan toko ponsel milik Awal dan kuarahkan motorku ke Jalan Cipadu Raya. Aku memang sengaja mencari jalan tikus guna menuju daerah Roxy, karena di pagi menjelang siang seperti ini, melewati jalan utama adalah pilihan bunuh diri. Ya, macet menjelang makan siang memang tidak dapat terhindarkan di Jakarta. Rute yang aku ambil adalah melewati Jalan Cipadu Jaya - Ciledug Raya - Kostrad Petukangan Utara - Pos Pengumben - Kebayoran Lama - Palmerah Barat - K.S. Tubun hingga melewati depan Stasiun Tanah Abang.

Dari depan Stasiun Tanah Abang aku arahkan motorku untuk belok ke kiri melewati jalan kecil yang dapat menembus ke arah Komplek Roxy Mas. Setelah memarkir motor di bagian belakang ITC Roxy Mas, aku bergegas masuk ke dalam dan langsung menuju lantai tiga. Di salah satu sudut lantai tiga terdapat toko yang tidak begitu besar tetapi ramai dikunjungi orang. Toko tersebut menjual nomor kartu selular perdana dan voucher dengan harga miring. Rupanya aku kesiangan tiba disana. Toko tersebut sudah mulai ramai. Mau tidak mau aku harus ikut antri dan berebut dengan pembeli lain.

"Mbak, mbak." kataku.
"Eh, Mas Dodo. Sini, Mas. Sebelah sini aja." kata salah satu pegawai toko itu.
"Kemarin aku udah SMS, Mbak. Barangnya ada?" tanyaku.
"Bentar, ya? Tunggu disini dulu." katanya pegawai itu. Lalu pegawai itu mengeluarkan sebuah kursi plastik yang kemudian diserahkan kepadaku.
"Udah duduk mulu dari rumah, Mbak. Hehehe, pegel, aku berdiri aja." kataku.
"Nggak apa-apa, Mas. Dipake aja. Kalau berdiri lama capek. Aku ngurus yang lain dulu, ya?" katanya.
"Iya, nggak apa-apa." jawabku.

Pegawai itu meninggalkanku dan dengan cekatan melayani pembeli lainnya. Tak berapa lama, pegawai yang bernama Sisil itu kembali menemuiku dan membawakan dua kardus.

"Ini, Mas. Sesuai dengan pesanan kemarin." katanya.
"Ngutang boleh nggak?" tanyaku.
"Yah, gimana sih Mas Dodo. Udah aku siapin dari kemarin kok ngutang." kata Sisil dengan nada kecewa.
"Hahaha, ya udah. Aku transfer aja ya ke rekening biasa, nggak bawa cash banyak nih. Sekalian barangnya nitip disini ya, nanti aku ambil. Mau nganterin barang dulu." kataku.
"Oke."

Lalu aku meninggalkan toko itu dan bergegas naik ke lantai empat. Di lantai empat, aku mengunjungi sebuah toko aksesoris ponsel. Tampak seseorang sedang sibuk memilah-milah barang pada sebuah kardus besar.

"Ko Yopi." sapaku.
"Eh, Do. Tumben nggak ngabarin." jawabnya.
"Hehehe." aku hanya bisa menjawab dengan tertawa.
"Pesenanku udah dateng semua?" tanyanya.
"Udah, nih mau tak kasih." jawabku.
"Harga masih sama, kan?" tanyanya.
"Masih, tapi kalau pesen sekarang beda dikit ya, Ko? Maklum dolar lagi naik." jawabku.
"Iya, gue ngerti. Eh, kayaknya Lenovo lagi laris tuh. Ada nggak aksesorisnya yang seri-seri baru?" tanyanya.
"Hehehe, sebelum tuh Lenovo launching disini saya udah pegang beberapa aksesorisnya, Ko." jawabku.
"Loh, gitu ya? Berarti disini launchingnya lama ya?" tanyanya.
"Ya begitulah." jawabku.

Lalu aku berikan barang pesanan Ko Yopi. Dia kemudian mengecek semua pesanannya. Setelah itu, diberikannya barang tersebut kepada pegawai di tokonya.

"Jadi berapa, Do?" tanyanya.
"Itu ada bon-nya."
"Wah, nggak ada cash segini lagi. Gue transfer aja gimana?" tanyanya.
"Boleh, gue juga mau ke ATM mau transfer." jawabku.

Ko Yopi lalu bilang pada pegawai tokonya bahwa dia hendak ke ATM. Dalam perjalanan menuju ATM lantai 1, kami berbincang seputar perkembangan gadget di tanah air. Ya, begitulah keseharianku. Antar jemput orderan dari beberapa toko ponsel di Jakarta, selain berjualan jilbab. Hanya itu yang bisa aku lakukan demi mempertahankan hidupku, karena SMU pun aku tidak lulus. Pada awal datang ke Jakarta pun, aku hanya mengharapkan sumbangan dari teman-temanku, terutama Didit.

bersambung ....

Thursday, October 3, 2013

Folbek (Follow Back)

Tahun 5 Hari 255

Aku sedang asyik membungkus jilbab yang hendak aku kirimkan kepada pembeli. Tiba-tiba terdengar suara notifikasi di ponselku. Lalu aku cek ponselku, ternyata ada e-mail baru di Google Mail-ku.

"Oh, dari Twitter." kataku dalam hati.

Aku berpaling dari ponselku dan melanjutkan kembali membungkus jilbab pesanan pembeli. Tidak lama kemudian, terdengar suara notifikasi lagi. Aku lihat di status bar ponselku, ternyata dari aplikasi Tweetcaster.

"Siapa yang mention, nih?" kataku dalam hati.
"Oh, Direct Messege."

Aku lalu membuka notifikasi itu dan mengarahkannya ke aplikasi Tweetcaster. "Loh, kok dia bisa Direct Messege ke aku?" kataku dalam hati penasaran. Lalu aku buka e-mail sebelumnya. Ternyata notifikasi dari Twitter memberitahukan bahwa:

"Nao-chan (@Nao_DKI48) is now following you on Twitter!"
"Wow, jarang-jarang idol folbek fans." kataku dalam hati.

Sebenarnya tanganku gatal hendak membalas Direct Messege itu. Tetapi aku meneruskan membungkus jilbab.

"Hai kakak lucu, makasih ya hadiahnya. Isinya bagus :)" begitulah isi Direct Messege itu. Ternyata dia masih ingat denganku.

bersambung ....

Wednesday, October 2, 2013

Langkah Pertama

Tahun 0 Hari 0

Kulangkahkan kaki melewati pintu gerbang besar itu. Kuhirup udara segar kebebasan. "Ah, segarnya." kataku dalam hati. Akhirnya aku hirup udara Kota Malang yang sebenarnya. Bukan udara yang terbelenggu dibalik tembok setinggi lebih dari lima meter itu.

Berbekal uang saku hasil kerjaku selama beberapa tahun di tempat itu, aku berusaha mencari warung telepon. "Ya, aku harus menelepon dia!" pikirku. Ternyata di jaman ini, mencari warung telepon bukan sesuatu yang mudah. Akhirnya kuputuskan menyetop mikrolet warna biru berstrip kuning itu. Mikrolet itu membawaku menyusuri sisi dalam Kota Malang, hingga akhirnya aku memintanya berhenti di dekat alun-alun. Setelah itu, aku menyusuri deretan plasa di daerah itu, hingga aku tiba di plasa paling ujung. Kususuri eskalator demi eskalator hingga aku naik ke lantai paling atas. Di lantai paling atas plasa itu, terdapat pusat penjualan ponsel terbesar di Malang kala itu. Aku mencoba melihat-lihat deretan ponsel yang dipajang disana.

"Sam, ewud hape rego satu sewuan tah (Mas, punya ponsel seharga seratus ribuan)?" tanyaku. Lalu penjual itu mengambil beberapa ponsel dari etalasenya.
"Nyoh satus ewuan, CDMA opo GSM (Ini seratus ribuan, CDMA atau GSM)?" tanyanya.
"Seng gae nelpon murah seng endi (Yang buat menelepon murah yang mana)?" tanyaku.
"CDMA ae, hape iki satus ewu pas wes oleh perdana onok pulsane hulupes ewu (CDMA saja, ponsel ini harganya pas seratus ribu sudah termasuk nomor perdana dengan pulsa sepuluh ribu)." jawabnya.
"Tak cobak sek oleh tah (Aku coba dulu boleh)?" tanyaku.
"Yo nek pasti ukut gak popo (Ya kalau pasti beli tidak apa-apa)." jawabnya.
"Oyi, pasti ukut, Sam (Iya, pasti beli, Mas)." jawabku.

Lalu penjual itu membuka kardus ponsel itu dan menunjukkan isinya kepadaku. Setelah puas aku melihat-lihat, aku putuskan membelinya. Lalu dia meminta KTP-ku untuk meregistrasikan nomor ponsel itu.

"Waduh, KTP ayas durung dadi, Sam. Nggae KTP-ne sampeyan sek osi tah (Waduh, KTP-ku belum jadi, Mas. Pakai KTP Mas dulu apa boleh)?" tanyaku.

Penjual ponsel itu menyetujui permintaanku. Memang, selepas dari tempat itu, KTP-ku pun sudah kadaluwarsa. Aku hanya memiliki surat pengantar dari tempat itu. Aku tidak mungkin lagi membuat KTP di rumah asalku, karena semua keluargaku sudah pindah meninggalkan Malang. Setelah penjual ponsel itu selesai dengan registrasi dia lalu menyerahkan ponsel itu kepadaku beserta nota penjualannya. Lalu kuserahkan dua lembar uang bergambar pahlawan I Gusti Ngurah Rai itu.

"Nuwus, Sam (Terima kasih, Mas)." kataku.
"Oyi, podo-podo (Iya, sama-sama)." jawab penjual ponsel itu.

Setelah kusimpan kardus ponsel itu di tasku dan kumasukkan ponsel itu ke saku celana, aku beranjak meninggalkan plasa itu. Malang sudah berubah. Aku berjalan menyusuri alun-alun yang ramai itu. Alun-alun yang sekarang menjadi rapi itu sekarang ramai dengan anak-anak kecil yang bermain disana.

"Ah, lupa. Lebih baik aku ke sana dulu." pikirku.
Lalu aku mengayunkan langkahku ke sebuah masjid yang tepat berada di seberang alun-alun. Kulepas sandalku, lalu kususuri kolam yang ada sebelum tempat wudhu itu. Setelah mengambil wudhu, aku beranjak ke dalam masjid yang masih mempertahankan arsitektur aslinya itu walau sudah dipugar.

Setelah sholat sunah beberapa raka'at aku beranjak keluar masjid. Aku sandarkan punggungku ke salah satu tiang di luar masjid itu. Ku raih ponsel dari saku celanaku. Lalu aku keluarkan secarik kertas yang diberikan seseorang dari dalam dompetku. Kuketikkan angka-angka nomor ponsel orang itu.

"Tuut." suara nada sambung terdengar dari speaker ponselku.
"Assalamu'alaikum." suara di seberang sana.
"Wa'alaikumsalam. Ini Didit?" tanyaku.
"Iya, ini siapa, ya?" tanyanya balik.
"Dmitry, Dit. Dino iki uka wes utem tekan Lowokwaru (Hari ini aku sudah keluar dari Lowokwaru)." jawabku.
"Mit! Alhamdulillah. Koen nandi saiki (Kamu dimana sekarang)?" tanyanya.
"Ndek Masjid Jami' cedek alun-alun (Di Masjid Jami' dekat alun-alun)." jawabku.
"Mreneo yo, nyusulo aku nang Jakarta. Tak enteni (Kesini, ya, susul aku ke Jakarta. Aku tunggu)." jawabnya.
"Loh, sek. Laopo nang Jakarta (Loh, bentar. Ngapain ke Jakarta)?" tanyaku.
"Wes, gak usah kakean cangkem. Ndang mreneo. Onok ojir kan (Sudah, jangan banyak tanya. Buruan kesini. Ada uang kan)?" tanya Didit.
"Nek numpak Matarmaja onok seh, sek tekes ewuan, kan (Kalau naik Matarmaja ada sih. Masih lima puluh ribuan, kan)?" tanyaku.
"Oyi, sak monoan, engkok tak ganteni nek wes tekan kene (Iya, segituan, nanti aku ganti kalau sudah sampai sini)."
"Ate lapo aku ndek Jakarta, Dit (Mau ngapain aku di Jakarta, Dit)." tanyaku penasaran.
"Wes, gak usah kakean cangkem. Ndang mreneo. Mene tak papak ndek Senen (Sudah, jangan banyak tanya. Buruan ke sini. Besok aku jemput di Senen)." katanya.
"Yo wes, tak nang Kotabaru saiki (Ya sudah, aku ke Kotabaru sekarang)." jawabku.
"Oyi, ati-ati yo, Mit." tanyanya.
"Oyi, nuwus. Assalamu'alaikum." kataku.
"Wa'alaikumsalam." jawabnya.

Lalu aku akhiri pembicaraanku dengan Didit di telepon. Seolah-olah terhipnotis dengan kata-kata Didit, aku langsung melangkahkan kaki ke halte mikrolet. Aku hentikan mikrolet berstrip kuning itu lagi yang mengarah berlawanan dengan yang aku naiki sebelumnya. Mikrolet itu membawaku menyusuri jembatan yang membelah Sungai Brantas, hingga akhirnya tiba di depan Stasiun Kereta Api Kotabaru Malang.

Aku langsung berlari menuju loket penjualan tiket. Alhamdulillah, masih ada tiket tersisa untuk hari itu. Aku langsung masuk ke peron tempat menunggu kereta. Tak berapa lama kereta Matarmaja memasuki stasiun. Aku bergegas masuk ke gerbong. Aku masih bertanya-tanya, kenapa Didit memintaku ke Jakarta dan aku bisa percaya begitu saja padanya. Kalau  aku pikir-pikir, mungkin dia merasa bersalah padaku atas kasus itu. Ya, kasus yang menyebabkanku duduk di kursi pesakitan. Mungkin dia hendak membalas budiku.

Aku masih membayangkan seperti apa nanti aku di Jakarta, apa yang akan aku lakukan di Jakarta dan banyak hal lainnya. Mungkin keputusanku mengikuti permintaan Didit untuk datang ke Jakarta juga tepat. Tidak ada yang bisa aku lakukan di kota ini lagi, lebih baik aku tinggalkan kota ini dengan segala kenangan masa laluku. Selang berapa lama, keretapun mulai beranjak meninggalkan stasiun. Seketika aku teringat sesuatu.

"Ma, dino iki aku bebas. Saiki aku ndek sepur ate nang Jakarta (Ma, hari ini aku bebas. Sekarang aku ada di kereta api dalam perjalanan ke Jakarta)." kataku kepada Ibuku yang ada di seberang telepon sana.

bersambung ....