Sunday, October 6, 2013

Kesurupan

Tahun 5 Hari 279

Tiba-tiba aku mendengarkan suara gaduh di belakang panggung. Para penonton yang sedang asyik menonton performa salah satu artis itu, sepertinya kurang aware akan kegaduhan dibelakang panggung. Tanpa dikomando, kaki langsung bergegas ke arah belakang panggung.

"Ada yang pingsan!" kata seseorang di belakang panggung. Aku bergegas mendekati keramaian itu. Seorang gadis dibopong menuju sebuah tenda tertutup yang lokasinya tidak jauh dari panggung itu. Beberapa teman-teman gadis itu mengikuti kemana gadis itu dibawa. Lalu, sesampainya di dalam tenda itu, gadis itu sadar dan meronta.

"Pegangin-pegangin, dia kesurupan." kata salah seorang yang memegang gadis itu. Seketika teman-teman gadis itu panik. Beberapa temannya memeganginya. Bergegas aku menerobos ke kerumunan itu.

"Tenang, tenang. Saya dulu kader kesehatan!" kataku sambil mendekati gadis itu.
"Tolong semua cewek keluar dari tenda ini, sekarang!" perintahku.
"Tapi, tapi." kata salah seorang temannya.
"Semua cewek keluar tanpa terkecuali! Atau semuanya bakal seperti dia!" teriakku marah.
"Tolong mas-mas yang kuat bantu saya megangin!" beberapa orang dengan sigap memegang tangan dan kaki gadis itu.

Lalu aku mulai melepas sepatu dan kaus kakinya. Lalu aku lepas satu kancing atas bajunya dan aku renggangkan ikat pinggangnya.

"Mas, tolong bilangin yang diluar suruh nyari balsem atau minyak apa gitu yang baunya kuat, sekarang!" perintahku pada salah satu seseorang yang berada di dekat pintu keluar tenda itu. Lalu aku mulai menekan bagian yang terletak di antara jari telunjuk dan ibu jari gadis itu kuat-kuat. Aku terus menekannya meski dia meronta-ronta kesakitan.

"Mas, apa nggak manggil ustad atau orang pintar aja, Mas?" tanya salah satu orang yang memegang gadis itu.
"Pak, kalau Bapak ngira kesurupan kayak gini ini gara-gara kerasukan makhluk halus, Bapak salah besar!" kataku dengan nada marah.
"Tapi ini kayak kemasukan, Mas!" jawabnya.
"Ini bukan kemasukan, Pak. Udah, Bapak percaya saja sama saya!" jawabku.

Kebanyakan orang mengira kesurupan adalah akibat kesurupan makhluk halus. Sepengetahuanku dari mengikuti program kader kesehatan sekolah atau dulu sering disebut dokter kecil menampik praduga itu. Kesurupan yang banyak dialami khususnya remaja putri bukan karena dirasuki makhluk halus. Hal itu disebabkan karena orang tersebut sudah menahan perasaan akan sesuatu begitu lama. Entah itu kekecewaan, kekesalan, sakit hati dan lain sebagainya yang dipendam sendiri tanpa diceritakan ke orang lain. Suatu saat, perasaan yang sudah menumpuk itu tentu meronta untuk di keluarkan. Satu hal kecil seperti kelelahan atau bahkan ucapan kasar yang bisa membuatnya down bisa memicu perasaan tersebut keluar.

Karena itu, aku memerintahkan semua teman-teman ceweknya keluar karena ini bisa memicu efek berantai. Bila ada gadis yang sama yang mengalami hal diatas dan melihat temannya kesurupan seperti itu, bisa memicunya kesurupan juga.

Lalu seseorang masuk dengan membawakan sebuah balsem. Aku oleskan balsem panas itu ke hidung gadis itu. Gadis itu terus meronta-ronta sambil berbicara ngelantur. Kejadian itu berlangsung lebih dari setengah jam. Tiba-tiba gadis itu berhenti meronta. Matanya seketika terbuka perlahan.

"Tolong Mas beliin susu sama teh anget!" kataku sambil memberikan selembar uang kepada salah seorang di tenda itu.. Gadis itu mulai membuka matanya. Aku usap dahinya.
"Udah sadar?" tanyaku. Dia hanya mengangguk. Lalu kuusap sisa balsem di hidungnya.
"Maaf ya. Tadi aku buka kaus kaki sama sepatunya. Ini juga aku buka." kataku sambil menunjuk kancing atas bajunya. Dia hanya mengangguk. Lalu seseorang masuk membawa sekotak susu cair.
"Nih, minum dulu. Biar tenaganya balik." kataku. Lalu gadis itu meminum susu itu. Setelah selesai, aku berbicara padanya.
"Tangannya sakit, ya?" tanyaku.
"Iya." jawabnya lirih. Lalu aku tunjukkan tangannya yang memerah hasil aku tekan selama setengah jam lebih itu.
"Ini tadi aku tekan, maaf ya? Yang penting sekarang kamu sudah sadar." kataku.
"Makasih, ya?" katanya sambil matanya sedikit berkaca-kaca.

Itulah cara penanganan korban kesurupan. Pertama adalah melancarkan peredaran darah dan udara. Pastikan semua hal yang mengikat atau menghambat aliran darah dan oksigen dilepaskan, seperti kancing baju, ikat pinggang, sepatu, gelang, kalung dan lain sebagainya. Lalu pancing kesadarannya menggunakan bau-bauan yang menyenga. Idealnya menggunakan bau semacam terasi, bila tidak dimungkinkan bisa menggunakan balsem atau benda lain meskipun tidak seefektif terasi. Selain itu tekan bagian yang berada diantara jari telunjuk dan ibu jari yang disebut titik kesadaran secara terus menerus hingga korban sadar. Setelah korban sadar, lebih baik diberikan susu untuk memulihkan tenaganya.

"Istirahat dulu ya? Nanti kalau sudah hilang pusingnya dan udah nggak lemes, langsung pulang dan istirahat di rumah ya? Kalau perlu minta off dulu satu atau dua hari." kataku.
"Iya, makasih ya, Kak." katanya.

Lalu aku berdiri dan kemudian beranjak meninggalkannya.
"Kakak, jangan pergi dulu." katanya. Aku tidak menggubris permintaannya dan terus meninggalkannya. Semakin jauh aku mendengar suaranya yang lirih yang memintaku untuk tidak pergi. Lalu aku menemui salah seorang dari temannya.
"Mbak, itu dia kalau bisa suruh off dulu deh barang satu atau dua hari, kasihan." kataku.
"Nanti aku tanyain pihak manajemen deh. Dia udah sadar?" tanyanya.
"Udah, kalau mau masuk aja, tapi jangan banyak orang, ya?" kataku.
"Oke, makasih ya." katanya.
"Itu kayaknya nyariin kakaknya, suruh kakaknya nemenin aja. Teman-temannya jangan boleh masuk dulu." kataku.
"Oke, nanti aku kasih tahu." katanya.
"Aku cabut dulu ya, bye." kataku.
"Loh, mau kemana?" tanyanya.

Aku hiraukan pertanyaannya dan langsung kutinggalkan area panggung itu dan langsung menuju ke tempat parkir. Aku ambil motorku dan segera meninggalkan area mal tersebut. Malam harinya, seseorang mengirimkan Direct Messege di Twitterku.

"Kakak hari ini nonton perform? Sepertinya tadi aku lihat kakak." begitulah isi Direct Messege itu.

bersambung ....

No comments:

Post a Comment