Sampai saat ini, mungkin lebih banyak lawan jenis yang menyatakan perasaan suka padaku atau mau menjadi pacarku dibanding sebaliknya.
Tahun -4 Hari .... aku sudah lupa
"君が好き! (Kimi ga suki: Aku suka kamu!)" katanya. Mendadak suara riuh jalanan di sekitar Stasiun Akibahara menghilang dari pendengaranku.
"私わ,シンが好き! (Boku ga, Shin ga suki: Aku, suka dengan Shin!)" katanya. Aku masih tidak mempercayai apa yang baru saja kudengar.
"どうして? (Doushite?: Kenapa?)" tanyaku.
"私はあなたと快適さを感じる (Watashi wa anata to kaiteki-sa okanjiru), I feel comfort with you." katanya.
Tahun 8 Hari 279
Aku sedang asyik mengutak-atik ponselku. Tiba-tiba ada notifikasi dari aplikasi Tweetcaster. "Oh, ada Direct Messege masuk." pikirku. Lalu kubuka pesan di Twitter itu.
"Kakak sudah punya pacar?" tanyanya.
"Belum, aku belum punya pacar." balasku.
"Ngapain nih anak tiba-tiba nanya beginian." pikirku.
Lalu aku teruskan mengutak-atik ponselku. Lebih kurang 10 menit aku mengutak-atik ponselku, aku masih menunggu balasan dari pesan sebelumnya. "Palingan tuh anak cuman iseng." pikirku. Tiba-tiba muncul notifikasi Direct Messege di ponselku. Aku buka pesan itu.
"Aku mau jadi pacar kakak." itulah pesan yang aku terima dari akun Twitter salah satu anggota idol group itu.
Tapi bukan berarti aku tidak pernah menyatakan suka dengan seseorang. Seperti waktu itu. Itulah pertama kalinya aku mengungkapkan rasa suka pada lawan jenis, meski menurut kebanyakan orang itu hanya cinta monyet.
Tahun -8 Hari .... aku sudah lupa
"Aku cinta sama kamu." kataku.
"Hah? Opo (Apa)?" tanyanya.
"Aku cinta sama kamu." kataku menjelaskan.
"Koen ngomong opo seh (Kamu bicara apa sih)?" katanya.
"Aku seneng karo awakmu. Koen gelem dadi pacarku tah (Aku suka sama kamu, kamu mau jadi pacarku?)" kataku.
"Wah, sori yo (Wah, maaf ya)." jawabnya.
"Kenopo (Kenapa)?" tanyaku.
"Sori Dem, ncen awakmu pinter seh. Tapi koen guduk tipeku. Koen gendut, potonganmu lucu. Sori yo (Maaf Dem, memang kamu pintar sih. Tapi kamu bukan tipeku. Kamu gemuk, penampilanmu lucu. Maaf ya)?" jawabnya.
Setelah pembicaraan di lantai dua sekolah kami tepatnya di depan kelasnya itu, dia langsung meninggalkanku. Semenjak itu aku sedikit trauma untuk menyatakan cinta ke lawan jenis.
Tahun -6 Hari .... aku sudah lupa
"Dem, digoleki Fira (Dem, dicari Fira)." kata salah satu teman sekelasku.
"Laopo nggoleki aku (Ngapain nyariin aku)?" tanyaku.
"Embuh, engkok helum halokes dienteni ndek mburi aula (Entah, nanti pulang sekolah ditunggu di belakang aula)." katanya.
"Oyi, suwun (Iya, makasih)."
Aku tidak habis pikir kenapa dia mau menemuiku. Memang sekarang kami masih sekolah di sekolah yang sama. Hampir setiap hari aku masih bertemu dengannya dan masih saling menyapa. Sepulang sekolah, aku lalu menuju belakang aula.
"Wes suwe tah ngentenine (Sudah lama nunggunya)?" tanyaku.
"Nggak, jek ket ae kok (Nggak, baru aja kok)." jawabnya.
"Onok opo pengen ketemu aku (Ada apa mau ketemu aku)?" tanyaku.
"Koen sek loro ati gak biyen tak tolak (Kamu masih sakit hati nggak dulu aku tolak)?" tanyanya.
"Nggak lah, gak po-po kok. Santai ae (Nggak lah, tidak apa-apa kok. Tenang saja)" kataku "emange opo o (Memangnya kenapa)?"
"Koen gelem dadi pacarku nggak (Kamu mau jadi pacarku nggak)?" tanyanya.
"Hah?" tanyaku kaget.
bersambung ...
No comments:
Post a Comment