Wednesday, October 2, 2013

Langkah Pertama

Tahun 0 Hari 0

Kulangkahkan kaki melewati pintu gerbang besar itu. Kuhirup udara segar kebebasan. "Ah, segarnya." kataku dalam hati. Akhirnya aku hirup udara Kota Malang yang sebenarnya. Bukan udara yang terbelenggu dibalik tembok setinggi lebih dari lima meter itu.

Berbekal uang saku hasil kerjaku selama beberapa tahun di tempat itu, aku berusaha mencari warung telepon. "Ya, aku harus menelepon dia!" pikirku. Ternyata di jaman ini, mencari warung telepon bukan sesuatu yang mudah. Akhirnya kuputuskan menyetop mikrolet warna biru berstrip kuning itu. Mikrolet itu membawaku menyusuri sisi dalam Kota Malang, hingga akhirnya aku memintanya berhenti di dekat alun-alun. Setelah itu, aku menyusuri deretan plasa di daerah itu, hingga aku tiba di plasa paling ujung. Kususuri eskalator demi eskalator hingga aku naik ke lantai paling atas. Di lantai paling atas plasa itu, terdapat pusat penjualan ponsel terbesar di Malang kala itu. Aku mencoba melihat-lihat deretan ponsel yang dipajang disana.

"Sam, ewud hape rego satu sewuan tah (Mas, punya ponsel seharga seratus ribuan)?" tanyaku. Lalu penjual itu mengambil beberapa ponsel dari etalasenya.
"Nyoh satus ewuan, CDMA opo GSM (Ini seratus ribuan, CDMA atau GSM)?" tanyanya.
"Seng gae nelpon murah seng endi (Yang buat menelepon murah yang mana)?" tanyaku.
"CDMA ae, hape iki satus ewu pas wes oleh perdana onok pulsane hulupes ewu (CDMA saja, ponsel ini harganya pas seratus ribu sudah termasuk nomor perdana dengan pulsa sepuluh ribu)." jawabnya.
"Tak cobak sek oleh tah (Aku coba dulu boleh)?" tanyaku.
"Yo nek pasti ukut gak popo (Ya kalau pasti beli tidak apa-apa)." jawabnya.
"Oyi, pasti ukut, Sam (Iya, pasti beli, Mas)." jawabku.

Lalu penjual itu membuka kardus ponsel itu dan menunjukkan isinya kepadaku. Setelah puas aku melihat-lihat, aku putuskan membelinya. Lalu dia meminta KTP-ku untuk meregistrasikan nomor ponsel itu.

"Waduh, KTP ayas durung dadi, Sam. Nggae KTP-ne sampeyan sek osi tah (Waduh, KTP-ku belum jadi, Mas. Pakai KTP Mas dulu apa boleh)?" tanyaku.

Penjual ponsel itu menyetujui permintaanku. Memang, selepas dari tempat itu, KTP-ku pun sudah kadaluwarsa. Aku hanya memiliki surat pengantar dari tempat itu. Aku tidak mungkin lagi membuat KTP di rumah asalku, karena semua keluargaku sudah pindah meninggalkan Malang. Setelah penjual ponsel itu selesai dengan registrasi dia lalu menyerahkan ponsel itu kepadaku beserta nota penjualannya. Lalu kuserahkan dua lembar uang bergambar pahlawan I Gusti Ngurah Rai itu.

"Nuwus, Sam (Terima kasih, Mas)." kataku.
"Oyi, podo-podo (Iya, sama-sama)." jawab penjual ponsel itu.

Setelah kusimpan kardus ponsel itu di tasku dan kumasukkan ponsel itu ke saku celana, aku beranjak meninggalkan plasa itu. Malang sudah berubah. Aku berjalan menyusuri alun-alun yang ramai itu. Alun-alun yang sekarang menjadi rapi itu sekarang ramai dengan anak-anak kecil yang bermain disana.

"Ah, lupa. Lebih baik aku ke sana dulu." pikirku.
Lalu aku mengayunkan langkahku ke sebuah masjid yang tepat berada di seberang alun-alun. Kulepas sandalku, lalu kususuri kolam yang ada sebelum tempat wudhu itu. Setelah mengambil wudhu, aku beranjak ke dalam masjid yang masih mempertahankan arsitektur aslinya itu walau sudah dipugar.

Setelah sholat sunah beberapa raka'at aku beranjak keluar masjid. Aku sandarkan punggungku ke salah satu tiang di luar masjid itu. Ku raih ponsel dari saku celanaku. Lalu aku keluarkan secarik kertas yang diberikan seseorang dari dalam dompetku. Kuketikkan angka-angka nomor ponsel orang itu.

"Tuut." suara nada sambung terdengar dari speaker ponselku.
"Assalamu'alaikum." suara di seberang sana.
"Wa'alaikumsalam. Ini Didit?" tanyaku.
"Iya, ini siapa, ya?" tanyanya balik.
"Dmitry, Dit. Dino iki uka wes utem tekan Lowokwaru (Hari ini aku sudah keluar dari Lowokwaru)." jawabku.
"Mit! Alhamdulillah. Koen nandi saiki (Kamu dimana sekarang)?" tanyanya.
"Ndek Masjid Jami' cedek alun-alun (Di Masjid Jami' dekat alun-alun)." jawabku.
"Mreneo yo, nyusulo aku nang Jakarta. Tak enteni (Kesini, ya, susul aku ke Jakarta. Aku tunggu)." jawabnya.
"Loh, sek. Laopo nang Jakarta (Loh, bentar. Ngapain ke Jakarta)?" tanyaku.
"Wes, gak usah kakean cangkem. Ndang mreneo. Onok ojir kan (Sudah, jangan banyak tanya. Buruan kesini. Ada uang kan)?" tanya Didit.
"Nek numpak Matarmaja onok seh, sek tekes ewuan, kan (Kalau naik Matarmaja ada sih. Masih lima puluh ribuan, kan)?" tanyaku.
"Oyi, sak monoan, engkok tak ganteni nek wes tekan kene (Iya, segituan, nanti aku ganti kalau sudah sampai sini)."
"Ate lapo aku ndek Jakarta, Dit (Mau ngapain aku di Jakarta, Dit)." tanyaku penasaran.
"Wes, gak usah kakean cangkem. Ndang mreneo. Mene tak papak ndek Senen (Sudah, jangan banyak tanya. Buruan ke sini. Besok aku jemput di Senen)." katanya.
"Yo wes, tak nang Kotabaru saiki (Ya sudah, aku ke Kotabaru sekarang)." jawabku.
"Oyi, ati-ati yo, Mit." tanyanya.
"Oyi, nuwus. Assalamu'alaikum." kataku.
"Wa'alaikumsalam." jawabnya.

Lalu aku akhiri pembicaraanku dengan Didit di telepon. Seolah-olah terhipnotis dengan kata-kata Didit, aku langsung melangkahkan kaki ke halte mikrolet. Aku hentikan mikrolet berstrip kuning itu lagi yang mengarah berlawanan dengan yang aku naiki sebelumnya. Mikrolet itu membawaku menyusuri jembatan yang membelah Sungai Brantas, hingga akhirnya tiba di depan Stasiun Kereta Api Kotabaru Malang.

Aku langsung berlari menuju loket penjualan tiket. Alhamdulillah, masih ada tiket tersisa untuk hari itu. Aku langsung masuk ke peron tempat menunggu kereta. Tak berapa lama kereta Matarmaja memasuki stasiun. Aku bergegas masuk ke gerbong. Aku masih bertanya-tanya, kenapa Didit memintaku ke Jakarta dan aku bisa percaya begitu saja padanya. Kalau  aku pikir-pikir, mungkin dia merasa bersalah padaku atas kasus itu. Ya, kasus yang menyebabkanku duduk di kursi pesakitan. Mungkin dia hendak membalas budiku.

Aku masih membayangkan seperti apa nanti aku di Jakarta, apa yang akan aku lakukan di Jakarta dan banyak hal lainnya. Mungkin keputusanku mengikuti permintaan Didit untuk datang ke Jakarta juga tepat. Tidak ada yang bisa aku lakukan di kota ini lagi, lebih baik aku tinggalkan kota ini dengan segala kenangan masa laluku. Selang berapa lama, keretapun mulai beranjak meninggalkan stasiun. Seketika aku teringat sesuatu.

"Ma, dino iki aku bebas. Saiki aku ndek sepur ate nang Jakarta (Ma, hari ini aku bebas. Sekarang aku ada di kereta api dalam perjalanan ke Jakarta)." kataku kepada Ibuku yang ada di seberang telepon sana.

bersambung ....

No comments:

Post a Comment