Tahun 5 Hari 1
"Pak, mau ambil barang." kataku.
"Lama nggak kesini, Mas." tanya bapak itu.
"Nunggu banyak dulu, Pak. Lagian ngirimnya lama sih hehehe." kataku.
"Namanya juga free shipping, Mas. Kalau mau cepet ya pakai kurir semacam DHL gitu." jawabnya.
"Ogah, Pak. Mahal, hehehe."
Lalu bapak itu beranjak dari tempat duduknya menuju ke bagian belakang kantor itu. Tak berapa lama kemudian, bapak itu kembali sambil membawa sebuah keranjang berisi beberapa paket.
"Ada banyak ya, Mas?" tanyanya.
"Tujuh ya, Pak." jawabku.
"Iya, ada tujuh," katanya "jadi dua puluh satu ribu, ya?"
Lalu aku menyodorkan sejumlah uang kepada bapak itu.
"Pak, kok nggak dianter aja sih ke rumah saya?" tanyaku.
"Kayaknya itu kebijakan sini deh, Mas." jawabnya.
"Padahal di kantor pos lain diantar tuh, Pak." kataku.
"Nggak tau juga ya." tegasnya.
"Kalau dianter saya mau tuh kasih lebih dari tiga ribu satu paketnya. Bapak tau yang biasa nganter ke daerah saya nggak?" tanyaku.
"Coba nanti saya tanyakan bagian pengiriman ya." jawabnya.
"Kalau ada bilangin aja ya, Pak? Boleh minta nomor teleponnya sini nggak, Pak? Nanti kalau saya cek di website EMS sudah sampai sini saya telepon deh." kataku.
"Loh, masih ada lagi?" tanyanya.
"Kan saya suka masukin barang, Pak. Hehehe, seminggu ada kali dua kali saya masukin barang. Kalau nggak gitu, makan apa saya." jawabku.
"Oke, Mas. Nanti saya kasih tau bagian pengiriman deh." kata bapak itu sambil mencatatkan nomor telepon kantornya.
"Makasih ya, Pak."
Lalu bapak itu menyerahkan paket-paket itu kepadaku. Segera saja aku masukkan paket-paket itu ke tas. Lalu aku bergegas meninggalkan kantor pos di bilangan ciputat itu.
"Kayaknya perlu balik ke kos dulu deh, sekalian ngirim pesanan Ko Yopi di Roxy." pikirku. Lalu aku putuskan untuk kembali ke tempat kosku. Ketika sudah dekat dengan tempat kosku, seseorang memanggilku.
"Dodo!" seketika aku menghentikan laju motorku.
"Oi, kenapa, Wal?" tanyaku.
"Voucher-nya udah ada?" tanyanya.
"Belum, ini baru mau jalan lagi." jawabku.
"Ooo, kirain udah."
"Abis ini ya? Abis ini gue ke tempet elu nganterin charger yang elu pesen kemarin." kataku.
"Udah dateng, ya? Sip deh." katanya.
"Gue ke kos dulu, ya?"
"Oke."
Lalu aku melanjutkan perjalananku. Setibanya di tempat kos, aku buka semua paket yang baru saja aku ambil dari kantor pos. Lalu aku pisah-pisahkan berdasarkan nama pemesan sesuai yang ada di daftarku. Setelah selesai, kumasukkan kembali pesanan yang sudah aku pisahkan tadi ke dalam tasku. Lalu aku kembali beranjak meninggalkan tempat kosku. Kukendarai kembali motorku menuju toko ponsel milik Awal.
"Nih, charger-nya, sisa enam biji doang." kataku.
"Oke, uangnya sekarang?" tanyanya.
"Ntar aja sekalian sama voucher sama perdananya." kataku.
"Sip." balas Awal. "Gue cabut dulu ya?" kataku.
"Oke, ati-ati, Do." balas Awal.
Lalu aku pergi meninggalkan toko ponsel milik Awal dan kuarahkan motorku ke Jalan Cipadu Raya. Aku memang sengaja mencari jalan tikus guna menuju daerah Roxy, karena di pagi menjelang siang seperti ini, melewati jalan utama adalah pilihan bunuh diri. Ya, macet menjelang makan siang memang tidak dapat terhindarkan di Jakarta. Rute yang aku ambil adalah melewati Jalan Cipadu Jaya - Ciledug Raya - Kostrad Petukangan Utara - Pos Pengumben - Kebayoran Lama - Palmerah Barat - K.S. Tubun hingga melewati depan Stasiun Tanah Abang.
Dari depan Stasiun Tanah Abang aku arahkan motorku untuk belok ke kiri melewati jalan kecil yang dapat menembus ke arah Komplek Roxy Mas. Setelah memarkir motor di bagian belakang ITC Roxy Mas, aku bergegas masuk ke dalam dan langsung menuju lantai tiga. Di salah satu sudut lantai tiga terdapat toko yang tidak begitu besar tetapi ramai dikunjungi orang. Toko tersebut menjual nomor kartu selular perdana dan voucher dengan harga miring. Rupanya aku kesiangan tiba disana. Toko tersebut sudah mulai ramai. Mau tidak mau aku harus ikut antri dan berebut dengan pembeli lain.
"Mbak, mbak." kataku.
"Eh, Mas Dodo. Sini, Mas. Sebelah sini aja." kata salah satu pegawai toko itu.
"Kemarin aku udah SMS, Mbak. Barangnya ada?" tanyaku.
"Bentar, ya? Tunggu disini dulu." katanya pegawai itu. Lalu pegawai itu mengeluarkan sebuah kursi plastik yang kemudian diserahkan kepadaku.
"Udah duduk mulu dari rumah, Mbak. Hehehe, pegel, aku berdiri aja." kataku.
"Nggak apa-apa, Mas. Dipake aja. Kalau berdiri lama capek. Aku ngurus yang lain dulu, ya?" katanya.
"Iya, nggak apa-apa." jawabku.
Pegawai itu meninggalkanku dan dengan cekatan melayani pembeli lainnya. Tak berapa lama, pegawai yang bernama Sisil itu kembali menemuiku dan membawakan dua kardus.
"Ini, Mas. Sesuai dengan pesanan kemarin." katanya.
"Ngutang boleh nggak?" tanyaku.
"Yah, gimana sih Mas Dodo. Udah aku siapin dari kemarin kok ngutang." kata Sisil dengan nada kecewa.
"Hahaha, ya udah. Aku transfer aja ya ke rekening biasa, nggak bawa cash banyak nih. Sekalian barangnya nitip disini ya, nanti aku ambil. Mau nganterin barang dulu." kataku.
"Oke."
Lalu aku meninggalkan toko itu dan bergegas naik ke lantai empat. Di lantai empat, aku mengunjungi sebuah toko aksesoris ponsel. Tampak seseorang sedang sibuk memilah-milah barang pada sebuah kardus besar.
"Ko Yopi." sapaku.
"Eh, Do. Tumben nggak ngabarin." jawabnya.
"Hehehe." aku hanya bisa menjawab dengan tertawa.
"Pesenanku udah dateng semua?" tanyanya.
"Udah, nih mau tak kasih." jawabku.
"Harga masih sama, kan?" tanyanya.
"Masih, tapi kalau pesen sekarang beda dikit ya, Ko? Maklum dolar lagi naik." jawabku.
"Iya, gue ngerti. Eh, kayaknya Lenovo lagi laris tuh. Ada nggak aksesorisnya yang seri-seri baru?" tanyanya.
"Hehehe, sebelum tuh Lenovo launching disini saya udah pegang beberapa aksesorisnya, Ko." jawabku.
"Loh, gitu ya? Berarti disini launchingnya lama ya?" tanyanya.
"Ya begitulah." jawabku.
Lalu aku berikan barang pesanan Ko Yopi. Dia kemudian mengecek semua pesanannya. Setelah itu, diberikannya barang tersebut kepada pegawai di tokonya.
"Jadi berapa, Do?" tanyanya.
"Itu ada bon-nya."
"Wah, nggak ada cash segini lagi. Gue transfer aja gimana?" tanyanya.
"Boleh, gue juga mau ke ATM mau transfer." jawabku.
Ko Yopi lalu bilang pada pegawai tokonya bahwa dia hendak ke ATM. Dalam perjalanan menuju ATM lantai 1, kami berbincang seputar perkembangan gadget di tanah air. Ya, begitulah keseharianku. Antar jemput orderan dari beberapa toko ponsel di Jakarta, selain berjualan jilbab. Hanya itu yang bisa aku lakukan demi mempertahankan hidupku, karena SMU pun aku tidak lulus. Pada awal datang ke Jakarta pun, aku hanya mengharapkan sumbangan dari teman-temanku, terutama Didit.
bersambung ....
No comments:
Post a Comment