Tahun 5 Hari 286
Hari ini aku memang sengaja ke teater idol group itu. Memang dia tidak tampil hari ini, tetapi ada orang lain yang ingin aku lihat penampilannya hari ini. Dari informasi yang aku dapat, hari ini orang lain itu memastikan dirinya akan tampil. Aku ingin melihat, apa dia masih depresi atas kejadian kemarin.
Show pun dimulai. Dia tampil seperti biasanya. Aku jadi berpikir, sepertinya yang ditulis oleh salah satu fans pada sebuah catatan di media sosial itu ada benarnya. Dia tampak kurang kompak dengan teman sepanggungnya. Tapi aku melihat ada semangat di senyum dan matanya. Dia berusaha mengimbangi performa teman sepanggungnya.
Aku sangat maklum, mungkin dia masih sedikit lemah setelah kejadian minggu kemarin. Selain itu, seminggu ini dia juga absen berlatih. Para penonton pasti akan mengambil satu kesimpulan yang berbeda denganku atas penampilannya hari ini. Aku sangat memaklumi hal itu, karena kejadian seminggu yang lalu hanya aku, personil belakang panggung, pihak manajemen dan anggota lain yang tahu.
Akhirnya show itu pun berakhir. Tibalah saat high touch dengan para anggota idol group yang tampil hari ini. Bila prediksiku tidak meleset, lebih baik aku keluar paling akhir saja pada sesi high touch ini. Satu-persatu penonton mulai meninggalkan teater itu. Para penonton antusias untuk melakukan high touch dengan anggota idol group itu. Akhirnya semua penonton sudah membuat barisan, aku memilih antrian paling ujung belakang pada barisan itu.
Semua penonton sudah mulai keluar, akhirnya giliranku melakukan high touch. Semua member melakukan high touch denganku. Dia ada pada urutan ke 6 dari member pertama yang melakukan high touch denganku. Ketika aku melakukan high touch dengan member kedua dia melihat ke arahku. Aku acuhkan saja, meski aku tahu dia melihat ke arahku. Aku terus melakukan high touch, tidak sedetikpun dia berpaling dari melihatku. Sampai akhirnya tiba giliranku high touch dengannya.
"Plok." suara tangan kami bersentuhan.
"Maaf ya waktu itu. Udah baikan, kan? Otsukare .." kataku padanya. Lalu aku berlalu dari hadapannya.
Seketika dia terpaku. Saat aku melakukan high touch dengan member terakhir, sepertinya dia sadar akan sesuatu.
"Kakak!" teriaknya. Aku acuhkan panggilannya. Aku tidak mau ge-er, mungkin orang lain yang dipanggil olehnya.
"Kakak! Jangan pergi!" katanya. Kata-kata yang sama yang aku dengar seminggu lalu dengan nada yang lebih lemah. Aku tetap mengacuhkannya dan melangkahkan kakiku meninggalkan teater. Penonton yang lebih dulu pergi bingung siapa yang dipanggil olehnya.
"Kakak yang pake kacamata, jaket hitam, baju merah jangan pergi!" teriaknya. Seketika aku sadar dia menyebut apa yang aku kenakan saat itu.
"Mas, dipanggil tuh." kata seorang penjaga di ruangan itu. Dia bergegas berlari ke arahku.
"Kakak yang waktu itu di Poin's Square, kan?" tanyanya.
"Aku cuma lewat." kataku sambil tersenyum.
"Kakak yang waktu itu nolong aku, kan?" tanyanya.
"Waktu itu banyak yang nolong kamu, kan?" tanyaku balik.
"Iya, tapi waktu pertama sadar aku lihat Kakak. Kakak yang nolong aku sadar, kan?" tanyanya.
"Ada banyak orang yang nolong kok." kataku.
"Iya, tapi kakak kan yang waktu itu megang tangan aku waktu aku sadar, terus minta maaf karena udah neken tangan aku biar aku sadar. Iya, kan?" tanyanya.
"Alhamdulillah kalau kamu inget." kataku.
"Bener Kakak, ya? Makasih ya!" katanya sambil membungkukkan badanya.
"Alhamdulillah kalau aku berguna. By the way, kamu masih kepikiran tulisan salah satu fans yang waktu itu lagi ramai di media sosial ya?" tanyaku.
"Kok Kakak tahu?" tanyanya.
"Itu yang memicu kamu depresi dan akhirnya collapse minggu kemarin, kan?" tanyaku.
"Iya." jawabnya sambil menunjukkan muka murung.
"Jangan dimasukin hati, ya? Fans bermacam-macam, beberapa malah ceplas-ceplos bahkan kelewatan. Namanya juga manusia. Dimaklumi saja. Jangan merasa depresi. Dijadikan pelajaran saja. Jangan dipendam, kan bisa diceritakan ke member yang lain, terutama kakakmu, kan?" kataku.
"Iya." jawabnya.
"Sekarang kamu, tetap semangat ya. Latihannya yang rajin. Bila perlu minta kakakmu mengajari berlatih lagu dan tariannya. Kamu tidak perlu jadi seperti kakakmu. Kalau boleh jujur, kakakmu sudah masuk level Kami. Dia bisa disejajarkan dengan Tim D. Lebih baik kamu jadi diri kamu sendiri. Buatlah dirimu unik dari yang lain, niscaya akan semakin banyak yang menyukai dan mendukungmu. Termasuk aku." kataku
"Makasih ya kak sarannya." katanya.
"Nah, aku pulang dulu ya. Sudah malam. Kamu jangan pulang malam-malam, ya? Masih harus banyak istirahat lho. Besok sekolah, kan?" tanyaku. Dia hanya menjawab dengan anggukan.
"Oke, kalau gitu. Sampai jumpa, ya?" kataku.
"Kakak, minggu depan liat aku perform, ya?" katanya.
"InsyaALLAH. Kalau ada rejeki aku akan nonton." jawabku. Lalu aku melambaikan tanganku padanya sebagai tanda perpisahan.
Aku pun bergegas pulang. Hawa dingin menusuk tulang. Jakarta habis diguyur hujan rupanya malam itu. Sesampai di tempat kos, aku tidak dapat menahan rasa kantukku. Tanpa mengganti baju, aku terlelap tidur diatas kasur kapuk tanpa sprei itu.
Tahun 5 Hari 287
"Ohayou! Selamat pagi! Ayo bangun! Jangan tidur lagi, ya? Semangat buat hari ini!" tiba-tiba kudengar suara yang biasa aku kenal itu membangunkanku.
Setelah terbangun, aku lalu meraih ponselku. Sebuah DM kulihat muncul di deretan notifikasiku.
"Tau nggak kak. Juju semalem seneng banget pulang dari teater."
"Kakak udah tidur, ya? Oyasunao."
Lalu aku balas DM itu.
"Maaf, tadi malam kecapekan. Tidur cepet tanpa pamit ke kamu deh ^^"
Lalu aku bergegas ke kamar mandi untuk menggosok gigi kemudian mengambil air wudhu. Setelah itu aku melaksanakan qiyam lail. Setelah selesai, sembari menunggu adzan subuh, aku otak atik ponselku.
"Kakak udah bangun?" isi DM itu.
"Udah, kamu tumben udah bangun." balasku.
"Kakak sih bangun pagi2 lgsg mention aku disuruh bangun, akunya bangun deh."
"Lha ini kan belum aku mention."
"Berarti telat XD."
"Si Juju kenapa semalem." tanyaku melalui DM.
"Nggak tau, seneng banget. Berubah dia, kayaknya habis ketemu prince charming gitu."
"Prince charming siapa?"
"Katanya orang yang nolongin dia minggu kemarin dateng ke teater."
"Hmmm, siapa ya. Eh shubuh dulu yuk, udah mau adzan."
"Iya, mau ke masjid ya? Ati2 ya."
Ketika kulihat di aplikasi Kupluk, adzan subuh masih 10 menit lagi. Tetapi aku terpaksa mengakhiri percakapan melalui DM itu.
bersambung ....
No comments:
Post a Comment