Wednesday, October 16, 2013

Hidup Dibalik Tembok Setinggi Lebih dari 5 Meter

Tahun -2 Hari .... aku sudah lupa

Aku tidak tahu pukul berapa ini. Aku bergegas ke bilik kecil di ruangan itu untuk mengambil air wudhu. Setelah itu aku gelar sajadah di atas tikar yang tadi aku gunakan untuk pergi ke alam mimpi itu. Entah sudah berapa raka'at aku tunaikan sholat malam itu, kemudian terdengar suara logam beradu di depan pintu ruangan itu.

"Mas Sholeh. melok nang masjid nggak (Mas Sholeh, ikut ke masjid nggak), Mas?" kataku sambil tanganku menggoyang-goyangkan pria bertubuh gempal itu.
"Iyo, sek (Iya, bentar)." jawabnya.

Lalu aku meninggalkannya menuju ke pintu berwarna hijau itu. Setelah melewati pintu itu, aku bergegas menuju ke masjid. Hari ini giliranku untuk adzan subuh. Setelah waktu subuh masuk, segera aku kumandangkan adzan untuk mengajak para muslim menunaikan sholat. Setelah adzan, aku dan beberapa jamaah bergegas menunaikan sholat sunah qobliyah. Aku tidak mau terlewat menunaikan salah satu sholat sunah muakadah tersebut.

Tak berapa lama kemudian, masjid sudah mulai berisi orang-orang yang hendak sholat berjamaah. Iqomah pun aku kumandangkan. Segera kami merapatkan shaf untuk menunaikan sholat subuh berjamaah. Setelah sholat selesai, beberapa orang masih betah berada di masjid untuk mengaji, termasuk aku. Tatkala langit mulai sudah sedikit terang. Aku bergegas meninggalkan masjid dan kembali ke ruangan yang dihuni enam orang itu.

Beberapa orang di ruangan itu nampaknya belum bangun. Aku langsung mengambil handuk dan bergegas mandi. Setelah mandi dan berganti baju, aku bergegas keluar ruangan itu sambil melakukan pemanasan dan bersiap melakukan aktifitas seperti biasa. Setelah otot-otot dibadanku sedikit meregang, aku langsung beranjak ke sebuah ruangan yang cukup besar di sudut bangunan itu.

"Pagi bener, Do. Masih dikunci nih, Pak Sardi belum datang. Sarapan dulu aja sana." kata seseorang yang aku temui di ruangan yang orang-orang sebut bengkel tersebut.
"Mau nyelesein yang kemarin, Pak. Abis itu saya baru sarapan." jawabku.
"Ya udah, tunggu sini aja." katanya.

Lebih kurang setengah jam aku menunggu di depan bengkel yang masih terkunci itu. Kemudian seseorang datang menuju ke arahku.

"Udah sarapan?" tanyanya.
"Belum, Pak." jawabku.
"Sarapan dulu sana." katanya.
"Nanti dulu, Pak. Kalau jam segini biasanya rame. Saya nyelesein yang kemarin aja dulu, tinggal dikit." kataku.

Lalu orang itu membukakan pintu bengkel tersebut. Aku langsung bergegas ke sebuah meja di sisi selatan ruangan tersebut.

"Hari ini ada pengiriman, Pak?" tanyaku.
"Ada. Kalau hari ini bisa jadi 1 lusin lagi, nanti dikasih bonus katanya." jawab bapak itu.
"Alhamdulillah, mudah-mudahan keburu, Pak." kataku.

Aku lalu melanjutkan pekerjaanku yang tertunda sehari sebelumnya. Di bengkel itu aku dan beberapa orang membuat berbagai kerajinan berbahan dasar rotan seperti kursi, keranjang, meja dan lain sebagainya. Setiap hasil kerajinan mendapatkan upah yang berbeda. Aku lebih suka membuat keranjang karena bisa kukerjakan sendiri. Artinya upah yang aku terima atas keranjang itu nantinya untuk aku sendiri. Tetapi terkadang aku juga membuat kursi atau meja. Tentu saja hal ini dikerjakan 2 orang. Hasil dari pekerjaan itu tentu juga dibagi dua. Biasanya aku dan Mas Sholeh, rekan sekamarku, yang membuatnya.

Hasil upah itu kugunakan untuk mendukung kehidupanku di tempat itu. Meski sudah mendapatkan tempat tinggal dan makan gratis, tetapi untuk kebutuhan lain, seperti perlengkapan untuk kebersihan dan makanan tambahan, aku harus membelinya sendiri.

Beberapa orang memilih menggunakan kemampuannya untuk membantu yang lain, seperti memijat, mencukur rambut dan lain sebagainya. Beberapa orang lain lebih menggantungkan uang dari keluarga atau teman yang menjenguknya. Aku tidak memiliki kemampuan apapun, bahkan sangat jarang yang menjengukku. Oleh sebab itu aku bertekad mencari uang sendiri tanpa bantuan orang lain. Sisa upah yang tidak aku gunakan, aku simpan untuk tabunganku kelak.

Tanpa aku sadari, bengkel sudah semakin penuh dengan orang-orang yang bekerja. Itu artinya, tempat makan sudah mulai sepi. Aku bergegas meminta ijin untuk sarapan ke penjaga tempat itu. Lalu aku menuju sebuah ruangan yang lebih mirip aula yang disulap menjadi tempat makan dengan bangku dan kursi yang diatur berjajar. Benar, ruangan itu sudah mulai sepi. Aku lalu mengambil baki dan piring di sisi sudut meja.

"Makan, Pak." kataku.
"Sini, Do. Udah banyak yang sarapan. Untung masih ada sisa." kata bapak berpakaian hitam itu.
"Hehehe, nggak apa-apa pak."

Lalu bapak itu menuangkan nasi dan sayur sop ke piringku. Lalu menyodorkan tempe dan tahu kepadaku. Setelah itu aku membawanya ke meja di dekat jendela. Begitulah yang aku makan sehari-hari. Makanan yang seadanya itu sudah cukup untuk mengisi tenagaku untuk bekerja seharian. Setelah selesai makan, aku bawa perlengkapan makan itu ke dapur.

"Udah taruh situ aja." kata bapak itu.
"Nggak apa-apa, Pak." kataku.
"Masih lama disini, Do?" tanyanya.
"Nggak tau, Pak. Kemarin ngajuin kasasi ke PT ditolak. Sekarang sedang mau ngajuin ke MA." kataku.
"Mudah-mudahan dikabulkan ya, Do?" katanya.
"Amiin," kataku "bapak sendiri gimana?" tanyaku.
"Masih lama, Do. Dinikmati aja. Yang penting masih berguna disini." jawabnya.

Pak Slamet adalah salah satu orang yang sudah lama tinggal di tempat itu. Dia menjadi pesakitan karena menghilangkan nyawa seseorang atas alasan ketidakadilan dan dendam. Setelah membantunya mencuci piring, kemudian aku berpamitan padanya dan kembali ke bengkel.

"Do, habis ini bantuin Sholeh ngerjain kursi, ya?" kata Pak Sardi.
"Iya, Pak." kataku.

Kemudian aku bergegas melanjutkan membuat keranjang. Hingga menjelang adzan dhuhur tiba, aku berhasil menyelesaikan 2 keranjang. Setelah menunaikan sholat dhuhur, seseorang memanggilku.

"Do, ada yang jenguk. Buruan ke depan." katanya.

Aku bergegas menuju tempat yang biasa disebut tempat kangen oleh kebanyakan penghuni. Ketika disana aku bertemu dengan penjaga pintu yang memisahkan tempat penghuni dengan sisi depan bangunan itu.

"Dmitry Sindoro, Pak." kataku.
"Oh, iya. Langsung kesana." katanya

Lalu aku beranjak ke sebuah ruangan besar yang terdiri dari bangku-bangku panjang. Aku kebingungan mencari siapa yang menjengukku. Lalu seseorang memanggil namaku.

"Demit!" kudengar suara yang familiar di telingaku itu.

bersambung ....

No comments:

Post a Comment