Tahun -4 Hari .... 2 hari setelah pulang dari Jepang
"Ada yang terluka parah di bawah jembatan Kali Brantas. Mungkin sekarang sudah mati." kataku.
Tak berapa lama, raungan sirine ambulan memecah keheningan diiringi adzan Isya. Aku membopong Didit yang sudah berlumuran darah ke salah satu tempat tidur di ruangan itu. Petugas medis segera menanganinya.
"Kamu mana yang luka?" tanya salah seorang perawat di ruangan itu.
"Nggak ada, ini darah temen saya." kataku.
Beberapa saat sebelumnya ....
Aku membuat janji dengan Didit untuk memberikan oleh-oleh dan pesanannya dari Jepang. Aku mengajaknya untuk bertemu di sebuah plasa di pusat kota Malang. Ketika sampai disana, aku melihat Didit dirangkul oleh dua orang. Aku tidak tahu siapa, mungkin temannya. Didit dan kedua orang itu berjalan meninggalkan kawasan plasa itu. Aku masih belum berani menegurnya, mungkin dia juga ada janji bertemu dengan temannya.
Aku ikuti mereka dari kejauhan. Didit berjalan semakin menjauh dari kawasan plasa itu. Sekitar lebih dari satu kilometer mereka meninggalkan kawasan plasa itu dan aku tetap mengikuti mereka dari kejauhan. Hingga mereka sampai di sebuah jembatan. Mereka bertiga turun ke bawah jembatan yang gelap itu. Aku melihat mereka dari atas jembatan. Di bawah jembatan itu, aku melihat Didit ditodong pisau oleh kedua orang itu.
Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku sendiri takut. Didit tidak mau menyerahkan apa yang dua orang tersebut minta. Seseorang mulai memukulnya. Didit masih tidak bergeming. Ketika yang lain mencoba merebut tasnya, Didit mempertahankannya mati-matian hingga akhirnya mereka berdua mengeroyok Didit. Setelah Didit terlihat tidak berdaya, salah seorang diantara mereka mengambil tas Didit. Mereka menemukan ponsel Didit dan dompetnya yang berisi uang yang tidak sedikit. Ya, uang itu digunakan untuk membayar pesanannya yang aku bawakan dari Jepang.
Setelah mendapatkan apa yang mereka mau, salah seorang dari mereka menginjak kepala Didit sambil berkata "Cobak koen nurut ket mau, gak usah susah-susah aku ngajar koen. Ngene kan enak, podo enake. Aku oleh, koen gak perlu melbu rumah sakit. Nek sek angel maneh tak suduk koen. (Coba kamu menurut dari tadi, aku tidak perlu susah-susah menghajarmu. Begini kan enak, sama enaknya. Aku dapat dan kamu tidak perlu masuk rumah sakit. Kalau masih susah saja saya tusuk kamu.)"
Tanpa dikomando, aku melangkahkan kakiku ke bawah jembatan sambil meneriakkan nama Didit. Kedua orang itu langsung terkejut. Aku mengira mereka bakal kabur meninggalkan Didit. Ternyata perhitunganku salah. Salah seorang dari mereka berlari ke arahku sambil membawa pisau terhunus. Aku sebenarnya tidak takut berhadapan dengannya. Kondisi tempat pertarungan yang membuatku ragu bisa bertarung dengan baik melawan mereka. Tempat pertarunganku adalah sebuah jembatan yang terbuat dari batu kali dengan sudut kemiringan sekitar empat puluh lima derajat dengan sisi kiri dinding jembatan dan sisi kanan tanpa pegangan tangga.
Saat serangan pertama orang itu dilancarkan, aku mampu menghindar. "Aku harus membawa pertarungan ini ke tempat lain yang lebih memungkinkan." pikirku. Aku mampu menghindar? Ya. Aku tergabung dalam dojo Aikido dan saat ini aku sudah memegang tingkat Shodan. Tusukan oleh orang yang hanya memiliki basis street fighter sangat mudah aku hindari. Saat aku sudah mendekati ke orang kedua, dia melancarkan serangan. Serangannya dapat aku lumpuhkan dengan kaiten-nage dan menghasilkan pisaunya terjatuh ke dalam sungai yang jaraknya lebih kurang sepuluh meter dibawah tempat Didit terkapar.
Orang kedua berhasil kulumpuhkan dan tidak dapat bergerak. Dia terkapar di dekat Didit. Melihat temannya terkapar, orang yang masih berada di tangga itu berlari ke arahku, lagi, dengan pisau masih terhunus. Lokasi terkaparnya Didit dan orang yang lain itu, sebenarnya kurang memungkinkan dijadikan arena pertarungan. Tempat itu hanya sebesar tiga kali dua meter. Apa boleh buat. Aku hadapi juga orang itu.
Sama seperti sebelumnya orang itu dapat aku lumpuhkan dengan mudah. Setelah itu, aku beranjak menghampiri Didit. Aku berniat segera membawanya ke rumah sakit. Tak kusangka, orang yang baru saja aku lumpuhkan ternyata sanggup berdiri. Disinilah letak kesalahanku, aku tidak membuang pisau yang digunakannya. Dia kembali menyerangku. Aku sungguh beruntung, bisa menghindarinya. Terlambat sedikit saja mungkin dia berhasil menusuk punggungku. Tanpa sengaja, orang tersebut menginjak kepala Didit yang sudah berlumuran darah.
"How dare you step on my nakama's head, bastard!" pikirku. Lalu orang itu melancarkan serangan kedua. Kusambut dengan kote-gaeshi. Tanpa sengaja pisau yang dipegangnya kuarahkan ke dadanya. Alhasil, pisau yang dipegangnya menancap di dada orang itu. Darah segar langsung mengucur dari dadanya dan seketika dia ambruk tak bergerak. Temannya yang melihat dia ambruk melarikan diri.
Seketika aku bopong Didit dan membawanya keatas jembatan. Sesampainya diatas jembatan, beberapa orang yang melihat kami dengan segera menghampiri. Beberapa orang menolongku membopong Didit dan yang lain berusaha memberhentikan mikrolet. Sebuah mikrolet berhenti. Beberapa orang penumpang di dalamnya dengan sadar keluar dari mikrolet. Lalu aku dibantu beberapa orang menaikkan Didit.
"Wes, suwun. Tak gowone dewe, Sam (Sudah, terima kasih. Aku bawa sendiri, Mas)!" kataku pada beberapa orang yang menolongku.
"Ndek ngisor jembatan onok seng kesuduk lading. Tulungono ae iku. Ben aku nggowo koncoku iki disek nang RSSA." kataku.
Beberapa orang kemudian bergerak turun ke bawah jembatan. Mencari orang yang tertusuk pisau tadi. Dengan segera, pengemudi mikrolet menjalankan kendaraannya.
"Waduh, kenek opo iki Sam kok sampek koyok ngene (Waduh, kenapa ini mas kok bisa sampai begini)?" tanya pengemudi itu.
"Bar dikeroyok ndek ngisor jembatan, Sam. Wes saiki terno nang RSSA. Sepurane yo tak carter iki mikrolete sampeyan (Habis dikeroyok di bawah jembatan, Mas. Sudah, sekarang antarkan ke RSSA. Maaf ya mikroletnya aku carter)." kataku.
"Oyi, santai ae." jawabnya.
Lalu mikrolet itu bergerak membawa kami ke Rumah Sakit Saiful Anwar.
bersambung ....
No comments:
Post a Comment