Tuesday, October 1, 2013

Menelepon Kawan Lama

PERINGATAN: Bagian ini akan memuat banyak bahasa Jawa Timuran dan bahasa kebalikan yang merupakan khas Kota Malang. Beberapa percakapan pada bagian ini mungkin memuat kata-kata yang dianggap sebagai bahasa yang kurang sopan, tetapi itu merupakan kata-kata yang biasa digunakan guna mengakrabkan sesama teman dan tidak ada maksud melecehkan.

Tahun 5 Hari 0

Aku buka aplikasi Contact di ponselku. Semua kontak teman-temanku di Facebook memang aku sinkronisasikan ke ponselku, jadi meski aku tidak mendapatkan kontak mereka secara langsung, tetapi dengan sinkronisasi kontak aplikasi Facebook ke ponselku, teman-temanku yang mencantumkan nomor ponsel mereka di Facebook, ikut tersimpan di ponselku.

Aku cari nama Bagus Herdianto. "Ah, ketemu. Alhamdulillah ada nomor ponselnya." lalu aku coba menghubungi nomor ponsel itu.

"Tersambung!" kataku dalam hati.
"Halo." kata suara di seberang sana.
"Maaf, ini Bagus Herdianto." tanyaku.
"Benar, ini siapa, ya?" tanyanya balik.
"Woi, Gus. Nang endi koen saiki (Dimana kamu sekarang)? tanyaku.
"Sopo iki, cok (Siapa ini, &^%@$)?" tanyanya.
"Nawak ewed mosok kadit kenal suarane (Sobat sendiri masa tidak kenal suaranya)." Jawabku.
"Jamput, tenan iki, sopo iki, cok (@^%^#, beneran nih, siapa ini, #*@*$^)" tanyanya marah.
"Koncomu seng ngganteng dewe. Dmitry, cok (Temenmu yang paling ganteng. Dmitry, #@&^%$)."
"Jamput, Demit (@^%$#, Demit)!" katanya.

Demit? Ya, teman-teman lamaku yang mengenalku sebelum kasus itu lebih senang memanggilku "Demit" yang merupakan pelesetan dari Dmitry. Setelah kasus itu, aku lebih suka memperkenalkan namaku dengan panggilan "Dodo" yang diambil dari Sindoro.

"Yok opo nawak, tahes ta (Bagaimana kabarmu, sehat)?" tanyaku.
"Tahes jess. Yok opo koen, tahes tah (Sehat, teman. Bagaimana kabarmu, sehat)?" tanyanya.
"Alhamdulillah tahes (Alhamdulillah sehat)."
"Onok opo iki kok moro-moro nelpon aku (Ada apa ini kok tiba-tiba meneleponku)?"
"Gak, kok si Min-chan iso nge-add FB-mu (Tidak, kok Min-chan bisa nge-add FB-mu)?" tanyaku.
"Aku kapanane ketemu Min-chan ndek Jakarta. Koyoke areke dideleh ndek kene deh (Kapan hari aku bertemu dengan Min-chan di Jakarta. Sepertinya dia ditempatkan di sini deh)." jawab Bagus menjelaskan.
"Lah, emange areke idrek ndek endi (Lah, memangnya dia kerja di mana)?" tanyaku.
"Koyoke dideleh ndek JICA. Knopo emange (Sepertinya ditempatkan di JICA. Kenapa memangnya)?" tanyanya.
"Gak opo-opo. Kok moro-moro ngirim messege ndek FB-ku (Tidak apa-apa. Kok tiba-tiba dia mengirim messege ke FB-ku)."
"Ciee, CLBK nih, ye?" kata Bagus meledekku.
"Hayah, onok-onok ae koen iki (Hayah, ada-ada saja kamu ini)."
"Koen lak nang Jakarta sisan kan? Wes cocok iku, ndang ditemoni ae nek perlu sekalian dirabi (Kamu di Jakarta juga, kan? Sudah cocok itu, ditemui saja kalau perlu dinikahi sekalian)." ledeknya.
"Sek labil ekonomi, cok. Sek luntang-luntung ndek Jakarta kadit jelas (Masih labil ekonomi, @&^%$#. Masih terlunta-lunta di Jakarta tanpa kejelasan)."
"Eh, buyar sek yo? Aku ate ngajar jes (Eh, bubar (sudahan) dulu ya? Aku mau mengajar)." katanya.
"Nggatheli, jek ket tak telepon, cok (Dasar rese, baru saja aku telepon, @&^%$#)." kataku.
"Hahaha, yo kapan-kapan disambung meneh (Hahaha, ya kapan-kapan disambung lagi)."
"Yo wes nek ngono Pak Dosen, nuwus (Baiklah kalau begitu Pak Dosen, terima kasih)."
"Oyi, sori yo. Eh, nek ketemu Min-chan salam, yo? Tak enteni undangane, huahahaha (Iya, maaf ya. Eh, kalau ketemu Min-chan salam, ya? Aku tunggu undangannya, huahaha)." katanya.
"Jamput, yo wes. Nuwus, Sam (@^%$$#, ya sudah. Terima kasih, Mas). Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." jawabnya.

Dari hasil pembicaraanku dengan Bagus, sepertinya Minami bakal lama tinggal disini, sehubungan dengan pekerjaannya di JICA.
"Kenapa aku tidak menemuinya?" pikirku "Ah, nanti dia menagih jawaban yang dulu aku janjikan."
Tiba-tiba aku teringat dengan kata-kata Minami kala itu.

bersambung ....

No comments:

Post a Comment