Tuesday, November 19, 2013

Keputusan Besar

Tahun 5 Hari 261

"Assalamu'alaikum." jawab seseorang diseberang telepon sana.
"Wa'alaikumsalam. Ini Dodo, Pak." jawabku.
"Dodo?" tanya orang itu bingung.
"Dodo yang seminggu lalu naik taksi bapak terus bapak anterin ke fX." jawabku.
"Ooo, iya saya ingat. Ada apa, Mas? Mau pesen taksi?" tanyanya.
"Oh, nggak, Pak. Bapak kapan libur?" tanyaku.
"Hari ini saya libur, Mas."
"Ooo, boleh nggak saya main ke tempat konveksi bapak?" tanyaku.
"Boleh, Mas. Mau kesini kapan?" tanyanya.
"Mungkin jam sembilan pagi, bisa?" tanyaku.
"Bisa mas. Mau kesini rame-rame kayak kemarin? Apa perlu saya jemput?" tanyanya.
"Hehehe, nggak, Pak. Yang lain pada kerja, saya kesana sendiri kok. Boleh minta alamatnya?" tanyaku.

Lalu orang diseberang telepon itu memberikan detil alamatnya. Aku segera mencatatnya.

"Baik, Pak. Nanti jam sembilan saya kesana, ya?"
"Silahkan, Mas. Saya tunggu." jawabnya.
"Terima kasih, Pak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." jawabnya.

Lalu aku mengakhiri pembicaraan itu dengan memutuskan sambungan telepon itu. Aku bergegas bersiap-siap untuk menuju tempat itu. Mendekati jam dimaksud. Aku bergegas menuju ke tempat yang hendak aku tuju.

"Bu, saya berangkat dulu, ya?" kataku.
"Mau ke Roxy? Kok nggak bawa tas, tumben." tanya Ibu Pengurus Kos.
"Nggak, Bu. Saya mau ke Pondok Aren." jawabku.
"Ooo, iya, ati-ati."
"Iya, Bu. Assalamu'alaikum." 
"Wa'alaikumsalam." jawabnya.

Aku langsung mengendarai motor 100cc yang aku beli dalam keadaan bekas beberapa tahun yang lalu. Hari ini aku mencoba mengambil sebuah keputusan besar, setelah selama kurang lebih seminggu ini aku memohon diberi petunjuk oleh-Nya apakah keputusan yang aku ambil ini tepat atau tidak. Beberapa hari kemarin sepertinya ALLAH memberikan tanda bahwa keputusan yang aku ambil hari ini adalah keputusan terbaik. Maka dari itu aku bertekad melaksanakannya hari ini.

Motorku membelah jalanan Bintaro yang lengang itu. Sepertinya aku akan tiba lebih awal dari perkiraanku. Aku mencoba mencari alamat rumah orang itu. Sepertinya memang tidak mudah mencarinya. Tempatnya agak jauh dari jalanan utama. Lebih tepatnya aku tidak begitu hafal daerah tersebut sehingga aku kesulitan mencarinya. Setiba di rumah yang dimaksud. Aku segera menghentikan laju motorku.

"Tok tok tok. Assalamu'alaikum." kataku.
"Wa'alaikumsalam." suara seorang wanita menjawab salamku. Lalu pintu itu terbuka.
"Maaf, apa benar ini rumahnya Pak Sukirman?" tanyaku.
"Iya benar. Mari silahkan masuk."
"Terima kasih. Permisi, ya?" jawabku.
"Iya, silahkan."

Lalu gadis itu berjalan meninggalkanku. Tak lama berselang, Pak Sukirman muncul dari balik kelambu rumah itu.

"Wah, susah nggak Mas nyari rumahnya?" tanya Pak Sukirman.
"Lumayan, Pak. Jarang ke daerah sini, jadi mesti tanya-tanya hehehe." jawabku.
"Mau ke tempat konveksi sekarang?" tanyanya.
"Boleh, Pak. Jauh nggak?" tanyaku.
"Nggak, deket sini kok. Tinggal jalan." jawabnya.
"Kalau gitu saya titip motor ya, Pak?"
"Boleh, masukin teras aja motornya."
"Baik, Pak." Jawabku.

Lalu aku beranjak keluar dari rumah itu dan kemudian memasukkan motorku ke beranda rumah itu.

"Ji, bapak ke tempat jahit dulu, ya?" kata Pak Sukirman.
"Iya, Pak." sahut seseorang dari dalam rumah.

Lalu kami beranjak ke tempat yang dimaksud Pak Sukirman. Tempat itu berjarak kurang lebih tiga puluh meter dari tempat Pak Sukirman. Tempatnya tidak terlalu besar, lebih mirip garasi dengan luas tiga puluh-an meter. Di depannya terdapat lemari kaca yang memajang beberapa busana muslim.

"Bajunya bagus-bagus, Pak." kataku.
"Ini beberapa rancangan anak saya, Mas. Tapi yang buatan sendiri sekarang jarang di produksi, kita lebih banyak bikin dari pesenan orang." kata Pak Sukirman.
"Sebulan bisa ngerjain berapa baju, Pak."
"Sehari, dengan tenaga tujuh orang ditambah istri saya bisa membuat baju sekitar empat sampai lima stel. Tergantung pesanan juga sih, ada beberapa juga kita buat aksesorisnya aja seperti daleman jilbab, jilbab, bando dan lain-lain." katanya.
"Ooo, ini rencananya mau dikembangin kemana, Pak?" tanyaku.
"Kemarin ada franchise busana muslim yang suka sama hasil produksi kita. Tapi kita terbatas alat sama tenaga. Saya mau nambah tapi belum cukup modalnya. Selain itu, kemarin hasil rancangan anak saya itu ada beberapa orang yang minat, tapi karena banyak pesanan dari yang lain, jadi kita nggak bisa bikin dalam waktu dekat. Saya rencananya mau bagi tempat konveksi ini jadi dua bagian. Satu bagian buat ngerjain pesanan, bagian lain buat produksi rancangan anak saya. Saya sudah ada modal beberapa, tapi nanggung kalau saya masukin sekarang. Mendingan terkumpul dulu." jelas Pak Sukirman.
"Boleh lihat gambar rancangan gambarnya, Pak?" tanyaku.
"Boleh."

Lalu Pak Sukirman menunjukkan beberapa desain gambar buatan anaknya. Menurutku desainya menarik. Lalu aku foto beberapa desain yang menurutku menarik lalu aku kirimkan foto-foto tersebut kepada Maryana.

"Pak, kalau boleh, bisa saya lihat catatan keuangannya?" tanyaku.
"Buat apa, Mas?" tanyanya.
"Jadi gini, Pak. Kemarin bapak bilang rencana mau ngembangin usaha bikin pabrik konveksi busana muslim kecil-kecilan. Bapak kemarin bilangnya masih perlu sekitar tiga puluh sampai empat puluh jutaan lagi. Nah saya minat nih naruh modal di tempat bapak. Gimana?" tanyaku.
"Hah? Serius, Mas?" tanya Pak Sukirman kaget.
"Serius, Pak. Makanya kalau boleh, kalau ada catatan keuangan, saya mau lihat dulu."
"Boleh-boleh. Nanti sama istri saya saja, ya?" jawabnya.

Lalu Pak Sukirman memanggil istrinya yang juga ada di tempat itu juga. Lalu beliau menunjukkan beberapa catatan keuangan dan menjelaskannya. Catatannya memang berantakan, tapi aku bisa melihat dan menilainya dengan jelas. Lalu aku foto beberapa catatan keuangan itu ke Maryana. Tak berapa lama, Yana membalas Whatsapp-ku.

"Mas, itu rancangannya bagus. Berpotensi dijual tuh." katanya.
"Gitu, ya. Aku lihat beberapa hasil jadinya disini, menurutku menarik. Entah ya, tapi masuk ke seleraku. Tapi gak tau kalau cewek2 nilainya gimana." balasku.
"Bagus itu mas. Kalau aku sih suka. BTW, itu yang bikin siapa mas?" tanyanya.
"Anaknya kenalanku. Cewek juga sih."
"Ooo." jawabnya.
"Aku udah lihat beberapa catatan keuangannya. Baju rancangannya kayaknya bisa dijual lebih mahal lagi tuh. Kalau aku lihat dari catatan keuangannya, sepertinya emang perlu ekspansi modal." imbuhnya.
"Aku rasa juga gitu. Disini order ngalir terus, tapi modalnya terbatas. Sedangkan keuntungan usahanya sebagian besar dipakai buat biaya produksi sama prive buat pemilik. Buat tambahan modal sepertinya hanya sedikit." kataku.
"Mas Dodo jadi mau join?" tanyanya.
"Sepertinya begitu, menurutmu gimana?" tanyaku.
"Ya, gpp sih. Ntar aku bantu masarin lagi deh. Hehehe." jawabnya.
"Ok deh, makasih ya. Sorry ganggu." kataku.
"Gpp mas, baru ada kuliah ntar siangan kok :D" balasnya.

Aku kemudian kembali berpikir keras. Tetapi hatiku sudah mantab untuk menggabungkan modalku ke usaha Pak Sukirman.

"Pak, kapan saya bisa ngasih modal?" tanyaku.
"Loh, jadi, Mas?" tanyanya.
"Jadi, Pak. Tapi saya hanya bisa ngasih modal tiga puluh lima juta dulu." kataku.
"Alhamdulillah. Nggak apa-apa nih, Mas?" tanyanya.
"Nggak apa-apa, Pak. nanti saya buatin bukti hitam diatas putihnya deh." kataku.

Lalu kami membicarakan akan digunakan untuk apa saja modal yang kami gabungkan nanti, serta pembagian keuntungannya. Selain itu aku meminta Pak Sukirman agar aku bisa mendapatkan salinan catatan keuangannya untuk aku bawa pulang. Rencananya, catatan keuangan itu hendak aku bahas dengan Maryana nanti sore. Aku membutuhkan masukan dari Maryana karena dia memang kuliah di jurusan akuntansi, jadi setidaknya dia tahu-menahu tentang catatan keuangan. Beruntung, Pak Sukirman membolehkanku mendapatkan salinan catatan keuangannya.

"Mas Dodo sudah punya pacar?" tanya Pak Sukirman.
"Sudah, Pak. Kan minggu kemarin bapak yang nganterin." jawabku becanda.
"Itu sih Mas Dodo yang ngarep." katanya sambil tertawa.
"Ya ngarep kan nggak apa-apa, Pak. Siapa tau jodoh." jawabku.
"Amiin. Mudah-mudahan jodoh." katanya.

Dalam hati kecilku, aku turut mengamini doa Pak Sukirman itu. Aku juga berharap doa itu terkabul suatu saat nanti.

bersambung ....

No comments:

Post a Comment