Wednesday, November 13, 2013

Kembali ke Jakarta

Tahun 0 hari 1

Matahari sudah sepenggalahan naik menjelang siang. Kereta yang aku tumpangi baru memasuki Stasiun Pasar Senen. Setelah kereta berhenti, aku bergegas keluar dari gerbong. Aku terus menyusuri peron dan mengikuti arah keluar dari stasiun. Di luar, banyak penunggu yang menjemput penumpang yang hari itu datang. Tak ada wajah yang aku kenali diantara mereka.

Aku mencari sisi lain stasiun yang sepi. Lalu aku keluarkan ponsel yang baru aku kemarin itu dari saku celanaku, dan aku telepon seseorang.

"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Koen ndek endi saiki (Kamu dimana sekarang)?" tanya orang diseberang telepon tersebut.
"Cedek pintu masuk seng cedek parkiran motor (Dekat pintu masuk yang dekat parkiran motor)." jawabku.
"Nyabrango nang arah warung-warung. Onok warung werno biru, mrono'o, tak enteni ndek kono (Menyebranglah ke arah warung-warung. Ada warung warna biru, aku tunggu disana)." katanya.
"Oyi." jawabku. Lalu aku tutup telepon itu.

Lalu aku menuju ke warung yang ditunjukkan oleh orang di seberang telepon itu. Warung berwarna biru itu ternyata warung milik Orang Malang. Itu aku kenali karena nama warung itu memuat kata Arema. Perlahan aku masuk ke warung itu. Di dalam warung itu aku melihat seseorang yang wajahnya sudah lama aku kenal.

"Dit."
"Mit." kata orang itu. Lalu dia berdiri dari tempat duduknya dan beranjak ke arahku. Awalnya kami hanya bersalaman, setelah itu dia memelukku.
"Alhamdulillah, Mit." katanya sambil memelukku.
"Tahes tah koen (Sehat kah kamu?)" tanyanya sambil melepaskan pelukannya.
"Alhamdulillah tahes." jawabku.
"Tambah kuru awakmu, malih koyok kana licek (Tambah kurus kamu, malah kelihatan seperti anak kecil)." katanya.
"Hahaha, raiku ket mbiyen yo ngene iki, koyok arek SD (Hahaha, mukaku dari dulu ya begini ini, kayak anak SD)." jawabku.
"Koen kadit idrek tah (Kamu nggak kerja)?" imbuhku.
"Gak, aku sengojo ijin gae mapak koen (Nggak, aku sengaja ijin buat menjemputmu)." jawabnya.
"Gak popo tah? Engkok diuring-uring bosmu (Nggak apa-apa? Nanti dimarahi bosmu)?" tanyaku.
"Sante ae (Santai saja)," jawabnya "Koen wes nakam, gurung (Kamu sudah makan, belum)?"
"Mangan itor tok mau ndek sepur (Makan roti saja tadi di kereta)." jawabku.
"Mangano sek ndek kene, opo golek pangan panggen liyo (Makan duku disini, atau mau makan di tempat lain)?" tanyanya.
"Ndek kene ae wes (Makan disini aja deh)" jawabku.
"Peseno opo ae wes sak karepmu, mangano seng wareg (Pesenlah sesukamu, makanlah yang kenyang)." kata Didit.
"Oyi." jawabku.

Lalu aku menuju ke tempat penjual itu duduk dan memesan sepiring gado-gado siram kesukaanku. Akhirnya aku kembali lagi ke Jakarta. Kota yang pernah sempat aku singgahi beberapa hari sebelum akhirnya aku duduk di kursi pesakitan. Suasananya terasa lebih padat, beda dengan sekitar empat tahun yang lalu. Hawa panasnya masih sama dengan empat tahun yang lalu. Sepertinya, aku akan mulai menata ulang kehidupanku disini, di ibukota negara ini.

bersambung ....

No comments:

Post a Comment