Wednesday, September 18, 2013

Di Sebuah Hari Yang Panas

Tahun 5 Hari 0

Aku mematikan mesin motorku, lalu aku turunkan penyangga sampingnya. "Belum tengah hari tapi udah panas banget." pikirku. Musim panas tahun ini sepertinya lama sekali. Belum selesai aku mengusap keringat di mukaku, tiba-tiba kudengar teriakan anak kecil memanggil namaku.

"Om Dodo. Ini ada surat." teriaknya.
"Makasih, ya." ucapku pada anak kecil itu.

Lalu aku melangkah menuju kamar kosku. Lalu kulihat jemuranku kosong. "Ah, aku lupa nyuci baju hari ini," pikirku "ntar aku laundry-in kiloan aja deh."

Setelah kubuka pintu kamar, kunyalakan lampu kamarku. Biarpun sudah menjelang tengah hari, tetapi hanya sedikit cahaya matahari yang dapat masuk ke kamar kosku. Meski memiliki dua buah jendela, tetapi bangunan tinggi, yang juga merupakan rumah kos, di depan kamar kosku itu, menghalangi sinar mentari masuk ke kamarku.

Kurebahkan diriku di kasur yang berisi kapuk tanpa menggunakan sprei itu. Lalu aku memandangi amplop kecil yang kuterima dari anak kecil tadi. "Srek." amplop itu aku sobek. Ternyata isinya seperti biasa, panggilan ke kantor pos untuk mengambil barang yang dikirim dari luar negeri. Lalu aku bangun dan beranjak menuju satu-satunya meja di kamar kosku itu. Aku buka lacinya, "Hmm, sudah datang semua nih rupanya. Besok aku ambil ah." pikirku, sambil memandangi tumpukan surat panggilan dari kantor pos.

Aku lalu menyalakan laptop. Setelah selesai booting, kutancapkan ponselku ke laptop, yang bergambar latar BMW M3 itu, dengan menggunakan kabel data micro USB. Lalu aku pilih USB Tethering melalui ponselku untuk dapat terhubung ke internet di laptopku. Aku buka Google Chrome di laptop yang ditenagai prosesor yang hanya setengah prosesor ponselku itu, dan membuka halaman sebuah situs dagang luar negeri, untuk mendata semua pesanan yang sudah tiba, termasuk pemberitahuan pesananku barusan.

"Baiklah, sudah benar ada tujuh pengiriman barang. Besok akan jadi hari yang panjang. Mungkin lebih baik aku tidur siang saja." lalu aku merebahkan diriku diatas kasur.

"Om Dodo, jadi ajarin Nurul komputer nggak?" tanya anak kecil yang tadi memberiku surat itu.
"Abis sholat duhur aja ya, Rul?" jawabku.
"Iya om, nanti Nurul kesini lagi, ya?" ujarnya.

Aku menjawabnya dengan anggukan kepala, lalu gadis kecil itu menghilang dari depan kamarku. "Bentar lagi adzan nih," pikirku "lebih baik aku ambil wudhu dulu, masa sholat duhurnya telat lagi kayak sholat subuh tadi pagi."

Lalu aku beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Selesai berwudhu, aku raih sarungku yang tersampir di kursi. Setelah mengunci kamar, aku langsung bergegas menuju masjid. Jarak masjid dari tempat kosku tidak bisa dibilang dekat, mungkin berjarak sekitar 100 sampai 200 meter. Di tengah perjalanan menuju masjid, seseorang memanggilku.

"Do!" teriaknya.
"Oi!" jawabku.
"Ada stok voucher, nggak?" tanyanya.
"Abis." jawabku.
"Besok ada, nggak?"
"Agak sore tapinya, mau?" tanyaku.
"Nggak apa-apa deh. Besok ya?" tanyanya memastikan.
"Ho oh, tulis aja ya voucher apa aja ama nominal berapa aja. Ntar balik dari masjid gue ambil." jawabku
"Sip!" ucap orang itu sambil mengacungkan ibu jarinya.

Kulanjutkan perjalananku menuju masjid. Kira-kira sekitar 10 meter sebelum tiba di masjid, aku bertemu dengan seseorang yang wajahnya tidak asing.

"Yan, dapet salam dari Ismail." kataku.
"Wa'alaikumsalam, Mas Dodo tadi ke Marbella?" tanyanya.
"Iya." jawabku.
"Ada motif baru nggak, Mas?" tanyanya.
"Ada, udah aku neci sekalian. Ntar poto-poto, yak?" pintaku.
"Lihat jadwal dulu, ya? Mudah-mudahan nggak sibuk, hehehe." jawabnya sambil tertawa.
"Dasar sok artis, wuuu!" ledekku "Nggak salam balik ke Ismail?" tanyaku.
"Nggak, ntar salamnya aku sampein sendiri aja." jawabnya.
"Cieeee, jangan-jangan nih." ledekku.
"Ah, Mas Dodo bisa aja." belanya.

Lalu adzan duhur berkumandang. Saat itulah aku berpisah dengan Maryana. Dalam perjalananku menuju masjid, aku banyak melihat mahasiswa sekolah kedinasan itu. "Sedang jam istirahat kuliah rupanya." pikirku. Sepertinya tadi Maryana juga sedang dalam perjalanan kembali ke tempat kosnya.

"Nih, uangnya sekalian?" tanya Awal.
"Nggak usah, besok aja." jawabku.
"Nyetok banyak sekalian aja, Do. Bentar lagi tanggal muda, pasti banyak mahasiswa yang ngisi pulsa." pinta Awal.
"Pulsa elektrik elu abis?" tanyaku.
"Nggak, ada sih. Cuman anak-anak ada yang males beli elektrik. Kadang pulsanya datengnya lama." jawab Awal.
"Ooo, ya udah. Besok aku sekalian nyetok banyak deh." jawabku.
"Ada barang baru nggak, Do?"
"Ada, besok palingan baru gue ambil. Tapi ada beberapa pesenan orang. Mau nyari apa?" tanyaku.
"Apa aja lah yang bisa dijual disini. Power bank ada?" tanyanya.
"Ada, tapi diluar pesenan orang palingan ada sebiji-dua biji doang. Itu juga cuman buat stok gue aja, buat gue jual di internet. Mau?" tanyaku.
"Seberapa gede?" tanyanya.
"Ngambil yang 2600 mili ampere doang. Warnanya lucu-lucu kok. Girly banget hehehe." jawabku.
"Wah, ogah ah. Kagak jadi. Selain itu ada apalagi?" tanyanya penasaran.
"Charger micro USB sih, bisa buat BB, Android." jawabku.
"Nah, boleh tuh. Berapaan?" tanyanya.
"Elu jual disini berapaan?" tanyaku.
"Yang satu set charger sama kabel data micro USB sih, gue jual dua puluh ribuan. Kalau yang jadi satu kayak charger BB gitu sih ya agak murah dikit lah. Disesuaiin sama kantong mahasiswa hehehe." jawabnya.
"Ya udah, buat elu sebijinya lima belas ribu deh." jawabku.
"Serius? Nggak bisa kurang lagi?" tanyanya.
"Elu mau ambil berapa biji? Ini diluar pesenan orang cuman sisa paling enam atau tujuh biji." jawabku.
"Gue ambil semua deh, tapi kurangin lagi, ya?" pinta Awal.
"OK, tiga belas ribu, tapi ambil semua, ya?" jawabku.
"Sip!" jawabnya.

"Alhamdulilah." pikirku. Belum juga barangnya sampai di tanganku, ternyata sudah laku dulu. Setelah kesepakatan itu, aku meninggalkan toko ponsel milik Awal. Pria yang bernama lengkap Awaluddin itu sudah membuka toko ponsel jauh sebelum aku memutuskan untuk hidup di daerah itu. Toko itu sekarang jauh lebih besar daripada saat pertama kali aku membeli ponsel di toko itu.

Sejak beberapa tahun lalu, aku memang menyuplai berbagai perlengkapan ponsel di toko-toko ponsel di sekitar tempat kos ku. Aku juga menyuplai aksesoris ponsel ke beberapa toko ponsel di Jakarta, termasuk di pusat penjualan ponsel terbesar di Jakarta yang terletak di bilangan Jakarta Barat.

Saat kembali ke kamar kos, kunyalakan layar ponselku. Niatku hendak menanyakan Maryana mengenai waktu kapan dia sanggup untuk aku foto menggunakan jilbab dengan motif baru yang baru aku beli tadi pagi. Ternyata kudapati ada pesan baru di Facebook. "Orang yang sama!" pikirku. "Kenapa?" pikiranku yang lain menimpali. "Aku sudah lama melupakannya, tetapi dia masih mengingatku. Darimana dia dapat akun Facebook-ku?" otakku tiba-tiba mengomando tanganku untuk membuka profil Facebook-nya. Lalu kulihat mutual friend kami.

"Bagus Hardianto." nama itu yang muncul disitu.

bersambung ....

No comments:

Post a Comment