Sunday, September 15, 2013

5 Tahun

Tahun 5 Hari 0

奇麗な月の光が
始まりへと沈み行く....(1)

Tiba-tiba kata-kata itu mengalun indah, membangunkanku dari mimpi. Aku usap mata ini sembari melongok ponsel bertenaga prosesor empat inti tersebut. Ternyata, Ismail yang menelepon.

"Do, masih tidur ya?" kata Ismail di seberang sana.
"Ya iyalah, emang elu pikir ini jam berapa?" jawabku.
"Jadi kesini nggak, Do? Nanti keburu habis loh." timpalnya.
"Emang pagi buta gini, toko sudah buka?" jawabku sedikit marah.
"Ya ALLAH, ini udah jam 9 woi!" jawabnya dengan marah.

Seketika itu juga aku melompat dari tempat tidur sembari dalam hati berucap "Astaghfirullah". Lalu akupun memohon maaf kepada Ismail dan bilang akan segera kesana. Menyadari hari sudah siang, langsung aku bergegas menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Ya, sholat subuh. Telat banget! Namanya juga ketiduran. "Ah, ini urusan ALLAH sama hambanya." pikirku.

Setelah selesai sholat, langsung kuraih handuk di jemuran, dan menyadari tempat kos sudah sepi. "Sudah siang juga sih, pantas saja sepi." pikirku. Aku tinggal di rumah kos dengan dua belas kamar yang sebagian besar penghuninya adalah mahasiswa sekolah kedinasan yang ada di sekitar sini. Sebagian lainnya adalah alumni mahasiswa dari sekolah kedinasan itu, yang masih betah tinggal disekitar kampus walaupun mereka bekerja lumayan jauh dari sini.

Setelah selesai mandi dan berganti baju, aku hidupkan motor berkapasitas 0,1 liter itu. "Brum!" suara motor berhasil kunyalakan dengan kick starter. "Sudah lama starter elektriknya mati, apakah harus aku betulkan?" pikirku. "Ah, biarin, masih bisa di-starter manual ini." sisi lain pikiranku menimpali. Lalu aku berjalan ke kamar pengurus kos.

"Bu, saya nitip motor, ya? Mau cari sarapan dulu."
"Iya, Do." jawabnya.

Lalu aku beranjak dari kosan dan berjalan menuju warung tegal di sisi ujung jalan kosanku.

"Makan sini, bungkus?" ucap teteh penjual di warung tersebut.
"Makan sini aja teh." timpalku.
"Sama apa?"
"Nasinya setengah aja teh, sama sop, orek, mi, sama telur ceplok pedes."

Setelah kuterima piring berisi pesananku tadi, aku langsung mengambil teh tawar yang sudah tersedia di sisi lain meja warung tersebut. Soal makanan, aku memang tidak pilih-pilih. Apa saja asal halal, tidak basi dan eatable, pasti aku makan, walaupun itu adalah nasi kuning kotakan yang sudah dua hari yang lalu. Ini karena aku sudah terbiasa, tepatnya sejak lebih dari lima tahun yang lalu. Sudah lima tahun ini, setiap pagi, aku lalui hari-hariku seperti ini. Tentunya, tidak setiap hari aku bangun hingga sesiang ini.

bersambung ....

No comments:

Post a Comment