Friday, September 27, 2013

Satu Pesan

Tahun 5 Hari 253

"Kok diem aja, namanya siapa, Kak?" perlahan suara lembut dan sedikit dewasa itu melemaskan mulutku.
"Dodo." jawabku.
"Oh, Kak Dodo. Salam kenal." kata sambil tersenyum.
"Sumpah deh, kalau dia senyum berasa mati gue." kataku dalam hati "Ah, tengsin nih, mesti ngapain nih." pikirku "Langsung kasih hadiah aja deh."

Lalu aku mengeluarkan hadiah yang sudah kupersiapkan dari balik jaketku. Tanpa sengaja, ponselku turut keluar dari kantong jaketku dan seketika jatuh di atas meja di hadapan Nao-chan. "Ah, sial." pikirku. Ponselku jatuh pada posisi telentang dan seketika penutup depan dari bookcase ponselku terbuka. Karena aku atur ponselku otomatis layarnya menyala ketika penutup depan bookcase-nya terbuka, maka seketika menyalalah layar ponselku dan terpampang jelas wajah cantik Nao-chan yang aku pasang sebagai gambar latar layar ponselku.

"Wah, fotonya bagus." kata Nao-chan sambil tersenyum.
"Eh, anu, iya, itu ... " jawabku dengan gugup sambil mengambil ponselku dari atas meja.
"Ini aku ada hadiah buat kamu."
"Makasih." jawabnya.
"Anu ... " kataku gugup.
"Ya?" tanyanya.
"Makasih, ya untuk selama ini." jawabku.
"Makasih untuk apa, Kak?" tanyanya.
"Kamu selalu mengingatkan untuk tetap semangat. Kamu juga sering mengingatkan untuk sholat. Biarlah fans yang lain bilang kalau status Twitter itu adalah template masing-masing member. Tapi buatku, itu benar-benar kamu tulus bilang gitu." jawabku.
"Makasih." ujarnya sambil tersenyum.
"Untuk itu, sebagai rasa terima kasih, aku beri hadiah itu. Semoga suka, ya?"
"Aku pasti suka kok." jawabnya.
"Semoga hadiahnya bermanfaat untuk kamu dan karir kamu, ya?" ujarku.
"Isinya apa, sih?" tanyanya sambil menggoyang-goyangkan hadiah pemberianku.
"Nanti aja dibuka di rumah, ya. Siapa tau Juju mau ikutan lihat." kataku.
"Loh, ini buat Juju juga?" tanyanya.
"Nggak, buat kamu kok. Aduh, gimana ya. Tuh, salah ngomong kan?" jawabku sambil gugup.
"Hehehe. Iya, makasih, ya. Kakak lucu deh." jawabnya sambil tersenyum.
"Ah, biasa aja." jawabku sambil tersipu.
"Oiya, aku mau pesan satu hal." kataku.
"Yak, waktu habis." tiba-tiba penjaga booth Nao-chan berkata seperti itu.
"Dikit lagi ya, Pak." kataku.
"Banyak yang ngantri noh!" kata penjaga itu. Lalu Nao-chan menyiapkan empat buah stiker yang kemudian diberikan kepadaku dan menyalamiku.
"Ini stikernya, terima kasih ya, Kak." katanya.
"Kamu jangan ninggalin sholat, ya?" teriakku sambil meninggalkan booth itu.
"Iya." jawabnya sambil tersenyum dan melambaikan tangannya ke arahku.

Seketika, aku menjauh dari lokasi acara itu. "Dapat empat stiker. Aku tempel dimana, ya?" tanyaku dalam hati.

"Udah selesai, Mas?" tanya Aldi.
"Udah." jawabku.
"Gimana rasanya?" tanyanya.
"Nervous lah. Ah, speechless gue." jawabku.
"Hahaha. Makanya harus sering-sering ikutan acara beginian." katanya.
"Tedy sama Trias mana?" tanyaku.
"Trias masih ngantri. Tedy kayaknya dia sesi siangan deh. Gak tau deh kemana tuh anak."
"Kamu masih ada sesi lagi?" tanyaku.
"Ada, ntar siangan bareng Tedy. Si Trias kayaknya cuman sesi ini doang."
"Terus, habis ini mau kemana?"
"Nyari cemilan atau makan dulu aja, yuk? Mas Dodo mau kemana?"
"Ya kalau nggak ada acara lagi, gue mau balik. Tapi di kosan ngapain ya? Males juga." kataku.

Lalu akupun teringat sesuatu. Aku buka ponselku dan kuaktifkan aplikasi Line. Kemudian, kuketikkan sesuatu.

"Cari makan aja duluan aja, yuk? Ntar kabarin Trias sama Tedy suruh nyusul." kataku.
"Oke." jawab Aldi.

Lalu, kami berdua beranjak meninggalkan lokasi acara tersebut dan menuju ke sebuah food court di jajaran lantai atas mal itu. Aku dan Aldi memesan sebuah makanan ringan. Tak lama, Tedy menyusul ke food court tersebut, pun Trias menyusul selang beberapa lama kemudian. Sambil makan, kami membicarakan banyak hal, terutama tentang event yang baru saja kami ikuti.

"Di, ada cewek cakep. Orang jepang kayaknya. Apa orang DOT, ya?" ujar Trias.
"Mana?" tanya Aldi penasaran.
"Tuh." kata Trias sambil menunjuk. Aku dan Tedy pun kemudian menoleh ke arah perempuan itu.
"Wow, cakep euy." kata Aldi. Perempuan itu melihat ke arah kami sambil tersenyum.
"Wah sial. Ketauan kalau diliatin." kata Aldi.
"Lagian sih. Pada kompak ngeliat ke situ." kata Tedy.

Benar saja, perempuan itu menuju ke meja kami. Semua pun terkejut ....
Kecuali aku ....

bersambung ....

No comments:

Post a Comment