Tahun 9 Hari 40
"Nanti selesai shooting jam berapa?" tanyaku
"Nggak tau. Nanti aku Whatsapp, ya?"
"OK." jawabku.
"Kamu mau ke pabrik?" tanya perempuan itu.
"Iya, mau ngecek yang mau dikirim ke Malaysia." jawabku.
"Kamu kapan mau ke Singapore?" tanya perempuan itu lagi.
"Minggu depan."
"Nggak sama Puji, kan?" tanyanya penasaran.
"Nggak kok, aku sendirian. Kenapa? Jangan jealous gitu dong. Dia kan cuman rekan bisnis." jawabku.
"Nggak, aku nggak jealous kok." jawabnya sambil cemberut.
"Hehehe, jangan bo'ong." tanyaku.
"Ya habis, kamu kayaknya akrab banget sama dia." jawabnya ketus.
"Namanya juga rekan bisnis. Lagi pula, aku nggak pernah nganggep dia lebih dari rekan bisnis, bahkan sejak pertama kali kami ketemu." jawabku.
"Awas ya kalau kamu macem-macem!" ancamnya.
"Hahaha, nggak mungkin lah. Lagian dia udah tunangan." jawabku.
"Hah? Masa?" tanyanya kaget "Kok aku nggak tau?"
"Hari Minggu kemarin tunangannya, aku juga nggak dateng." jawabku
"Ooo, pas kamu ke Surabaya, ya?" tanyanya.
"Iya, kamunya juga pas lagi ke Makassar." jawabku.
Perlahan, mobil dengan kapasitas mesin 3 liter itu memasuki sebuah komplek salah satu televisi swasta nasional.
"Kamu hati-hati dijalan, ya?" kata perempuan itu.
"Iya, sayang. Semoga sukses ya shooting-nya? ujarku.
"Iya." jawab perempuan itu sambil menyalami tanganku.
Lalu, perempuan itu beranjak keluar dari sedan buatan jerman itu. Setelah menutup pintunya dia melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum.
"Doa teman-temanku yang aku amini kala itu terkabul rupanya. Sudah beberapa bulan ini aku jalan dengan idol itu." pikirku
bersambung ....
No comments:
Post a Comment