Tahun 5 Hari 253
"Boleh minta nomor hape-nya, Pak?" tanyaku.
"Buat apa, Mas?" tanyanya balik.
"Nggak, nanti sewaktu-waktu saya perlu sama Bapak kan enak, tinggal calling" jawabku.
"Nanti saya catetin deh, Mas. Kalau sudah sampai fX, ya?"
"Iya, Pak. Makasih." jawabku.
Taksi itu terus menyusuri Jalan Pakubuwono, hingga sebuah notifikasi pesan dari aplikasi Line terdengar dari ponselku. "Ah, siapa lagi yang mengontakku via Line kalau bukan dia." pikirku. Benar saja, ternyata dia yang mengirimiku pesan.
"Kamu dimana?"
"Kamu hari ini bebas?"
Pesan itu muncul di Line-ku.
"Aku di taksi. Mau ke fX. Aku pergi dengan teman sampai sore." jawabku.
"Nanti malam mau pergi dengan aku?" tanyanya.
"Nanti aku beri kabar lagi." jawabku.
"OK, aku menunggu." balasnya.
Tanpa kusadari, taksi itu sudah memasuki fX Sudirman. Segera saja aku mengeluarkan dompet dari saku belakang celanaku.
"Ini, Pak. Bawa saja kembaliannya." kataku sambil menyodorkan sejumlah uang kepada pengemudi taksi itu.
"Wah, makasih ya, Mas." jawab bapak itu dengan wajah sumringah.
"Iya, Pak. Mudah-mudahan biar cepat terlaksana bikin pabriknya." kataku.
"Amiin, makasih, Mas. Oiya, ini nomor hape saya."
Pengemudi taksi itu kemudian menyebutkan nomor ponselnya dan segera aku catat di ponselku. Kemudian aku dan teman-temanku meninggalkan taksi tersebut dan bergegas memasuki mal di bilangan Jalan Sudirman itu.
"Dibayarin nih, Mas?" tanya Aldi.
"Ya ntar gantinya di kosan aja." kataku
Lalu kami beranjak memasuki lobi mal tersebut.
"Loh, kok acaranya di lobi?" tanya Aldi terkejut.
Ternyata handshake event kali ini dilakukan di lobi mall tersebut, setelah sebelum-sebelumnya, menurut teman-temanku dilakukan di teater.
"Mati dah!" pikirku "Bakal diliatin orang-orang nih kalau tengsin."
Ya, itu adalah acara pertemuan dengan idola pertama yang aku ikuti. Gugup, itu pasti. Tetapi akan jadi tidak lucu bila bertemu idola yang aku pikir bisa sedikit privat tetapi ternyata dilihat banyak orang.
"Mas, nervous ya, Mas." tanya Trias yang melihat mukaku sedikit memucat.
"Ah, nggak kok." jawabku.
"Kok pucet gitu, Mas." timpal Tedy.
"Belum sarapan tadi pagi." jawabku.
"Apaan, orang tadi pagi beli ketoprak sama aku gitu." sahut Aldi.
Trias dan Tedy kemudian tertawa. Sebelum acara di mulai, kami memutuskan untuk berjalan-jalan mengitari mal tersebut. Akhirnya sesi ketiga acara tersebut dimulai. Aku sudah berada di antrian yang hendak handshake dengan Nao-chan.
Akhirnya Nao-chan dan idol lainnya muncul dan memasuki booth masing-masing. Ketika aku lihat, booth Nao-chan merupakan salah satu booth yang panjang antriannya. "Fans-nya banyak juga." pikirku. Sambil menanti giliran, aku lihat beberapa orang yang sudah bertemu dengan Nao-chan sebagian besar gugup. Hampir semua fans yang hendak bertemu dengan Nao-chan membawa hadiah untuknya. Aku juga sudah menyiapkan hadiah buatnya. "Mudah-mudahan dia berkenan dengan hadiahku." pikirku.
Seminggu sebelum acara itu, aku sempat bingung, apa yang harus aku jadikan hadiah untuk Nao-chan. Sebagai idol, tentu dia sudah mendapat banyak hadiah dari fans-nya. Hingga hari H-1 sebelum acara itu berlangsung, aku belum mendapatkan hadiah yang tepat untuk aku berikan kepadanya. Akhirnya, tadi malam, ketika Aldi mengajakku ke sebuah mal dekat tempat kosku, aku menemukan sesuatu yang menarik yang hendak aku berikan padanya.
"Mas, silahkan, Mas." tiba-tiba suara bapak satpam itu memanggilku.
"Oh, iya, Pak." jawabku sambil menyerahkan empat tiket kepadanya.
"Ini mau dipake semua empat-empatnya?" tanya satpam itu meyakinkan.
"Iya, Pak." jawabku. Lalu satpam itu mempersilahkanku.
Lalu aku berjalan menuju ke booth dimana Nao-chan menunggu.
"Ohayou, selamat pagi." kata wanita berzodiak gemini itu.
"Ohayou, assalamu'alaikum." jawabku.
"Wa'alaikumsalam." jawab perempuan bertinggi 154 cm itu sambil tersenyum.
"SUMPAH! SENYUMNYA CAKEP OI!" kataku dalam hati dan aku pun mulai gugup. Perlahan aku menyadari diriku membeku. Mulutku kaku, tidak dapat ku gerakkan. "Ini kah efek ketemu langsung sama idol?" pikirku.
bersambung ....
No comments:
Post a Comment