Monday, September 16, 2013

Love at First Sight

Tahun 5 Hari 0

"Bhuuuu .... "

Cendol yang sudah masuk ke mulutku itu tiba-tiba kusemburkan lagi. Sambil terbatuk-batuk, aku menegaskan ke Ismail.

"Apa gue nggak salah dengar, Il?" tanyaku.
"Menurut lu gimana, Do? Sejak itu gue selalu kepikiran." jawab Ismail sambil wajahnya memerah.
"Ya itu sih hak elu, tapi apa nggak keburu-buru? Elu baru ketemu sekali itu doang, kan?" tanyaku menegaskan.
"Iya sih. Tolong lah, Do. Ajak dia kesini sekali lagi. Ya? Ya?" pinta Ismail merajuk.
"Yaaa, hari ini gue baru ambil barang, ini aja belum tau kapan bisa laku, masa gue belanja lagi?"
"Tolong lah Do ..."
"Ya udah," jawabku "tapi tunggu dia libur, ya?"

Ismail pun menjawab dengan mengangguk. Sebenarnya aku juga bingung menanggapi permintaan Ismail. Dua minggu sebelumnya, aku sudah belanja kain cukup banyak untuk aku jadikan jilbab dan kemudian aku jual secara online di internet.

Sebelum itu, aku hanya memilih kain dengan motif-motif yang menurutku lucu. Tetapi semuanya berubah ketika negara api menyerang ketika salah seorang teman dari tetangga satu tempat kosku bertandang ke kos. Waktu itu, ketika dia melewati kamarku, dia penasaran dengan apa yang aku kerjakan. Rasa penasarannya itu membuatnya berhenti di depan kamarku yang kebetulan pintunya memang terbuka dan bertanya kepadaku.

"Sedang bungkus apa, Kak?" tanyanya.
"Sedang bungkus jilbab." kataku.
"Motifnya lucu, ya? Kakak jualan?" tanyanya.
"Iya, ini aku jual buat biaya hidup."
"Kok warnanya gini semua, Kak? Nggak ada warna lain, ya?"
"Emang kenapa sama warnanya?" tanyaku penasaran.
"Ini warnanya, buat sebagian besar orang, nggak bikin kulit wajah jadi cerah. Malah bikin kulit wajah kelihatan gelap." katanya.
"Emang gitu, ya?" timpalku.
"Iya, harusnya kakak cari warna-warna jilbab yang bisa bikin wajah lebih cerah." katanya menegaskan.
"Ooo, baru tau. Makasih ya sarannya." ucapku.
"Sama-sama." jawabnya "Mau dijual berapaan, Kak?"
"Lima puluh ribuan, udah termasuk ongkos kirim untuk wilayah Jabodetabek." jawabku "Kamu mau beli?"
"Hehehe, nggak punya uang, Kak." jawabnya sambil tersenyum.

Itulah awal pertemuanku dengan seorang gadis yang merupakan mahasiswi yang sedang mengenyam pendidikan di sekolah kedinasan di dekat tempat kosku. Mahasiswi berjilbab yang akhirnya aku ketahui bernama Maryana itu akhirnya sering main ke tempat kosku. Akhir dari pertemuan pertama ternyata membuka jalan untuk bisnis jilbab yang sedang aku coba kembangkan. Maryana membantuku memasarkan jilbab yang aku jual ke teman-temannya.  Selain itu, dia juga membantuku memilihkan motif jilbab untuk dipasarkan. Dari situlah awal pertemuan Ismail dan Maryana dimulai, yaitu ketika aku ajak Maryana ke toko Ismail untuk memilihkan motif yang kira-kira sedang trend di kalangan pengguna jilbab.

Dua minggu yang lalu, ketika pertama Maryana aku ajak ke toko Ismail, memang Ismail terlihat tertarik padanya. Mereka memang sempat ngobrol, maklum, ketika itu, aku memang agak lama berada di toko Ismail. Siapa lagi kalau bukan karena Maryana. Dia begitu antusias memilih-milih kain untuk dibuat menjadi jilbab. Mumpung ada advisor, sekalian saja aku manfaatkan waktu dengan belanja lebih banyak, toh, kebetulan waktu itu aku sedang ada modal lebih.

Aku tidak tahu apa yang waktu itu Maryana dan Ismail bicarakan, tetapi sepertinya Ismail berharap bila aku datang kesana lagi, Maryana akan juga ikut datang bersamaku. Ah, aku jadi sadar alasan dia meneleponku pagi ini. Padahal biasanya, boro-boro dia menelepon.

Setelah itu, aku bercerita tentang bisnis yang sekarang sedang aku jalani kepada Ismail. Aku juga menceritakan sejauh apa hubunganku dengan Maryana. Maryana membantu menjualkan jilbabku. Dia menjualnya kepada teman-teman dan kenalannya. Aku memberinya harga grosir dan dia menjual ke pelanggannya dengan harga retail, yaitu harga yang sama dengan harga yang aku pasang di internet. Dari situ, aku terbantu dengan semakin larisnya daganganku, sedangkan Maryana juga merasakan manfaat dengan bertambahnya uang sakunya. Meski baru dua minggu ini aku jalani bisnis ini dengan Maryana, tetapi hasilnya sudah dapat terlihat. Aku juga memanfaatkan Maryana sebagai model untuk aku gunakan memasarkan dagangan jilbabku di internet.

Maryana yang keturunan sunda ini memang fotogenic. Pas sekali ketika menggunakan jilbab-jilbab daganganku. Semua motif jilbab pilihannya tidak ada yang tidak cocok dikenakan olehnya. "Seleranya bagus juga." pikirku kala itu.

"Boleh minta nggak, Do?" tanya Ismail.
"Hah? Minta apaan?" tanyaku.
"Fotonya Yana." jawabnya.
"Buat apaan? Mau diguna-gunain ya?" tanyaku sambil cengengesan.
"Nggak lah, Do. Buat disimpen aja di hape."
"Ambil sendiri di internet ya?" jawabku.
"Males ke warnet nih hehehe. Transfer ke hape-ku aja pake bluetooth, ya?" pintanya.
"Ya udah, sini!" jawabku.

Lalu aku ambil ponsel Ismail yang bersistem operasi Android Ice Cream Sandwich itu sembari aku keluarkan ponselku dari dalam tas.

"Hape elu gede amat, Do. Kayak batu bata. Cocok buat ngelempar anjing, hehehe." cela Ismail.
"Biarin, hape layar 5,3 inci gini enak buat nonton pilem XXX." kataku.
"Wah, elu koleksi film gituan, ya?" tanya Ismail.
"XXX?" tanyaku menegaskan.
"Ho oh." katanya.
"Mau liat? Aku setelin, ya?" kataku memastikan.
"HAH? Bego, Lu! Masak nyetel gituan dimari?" tanyanya kaget.

Aku mengacuhkan ucapan Ismail tadi dan tetap mengarahkan jariku untuk membuka aplikasi Root Explorer(3). Lalu aku arahkan aplikasi tersebut untuk membuka ke folder "sdcard/movie". Kemudian aku pilih file berjudul "XXX (2002) 480p.mkv" tersebut. Si Ismail terkejut, dia mengira aku main-main dengan omonganku barusan. Lalu, terputarlah film tersebut. Muncul lah sosok yang dikenal Ismail dalam film tersebut, yaitu Vin Diesel. Ismail seketika menepuk dahinya.

bersambung ....

No comments:

Post a Comment